Ibn ‘Arabi: Dunia yang Kita Lihat, Benarkah Sepenuhnya Nyata?

36 views

ISLAM LIVE- Kita terbiasa menganggap dunia sebagai sesuatu yang kokoh dan ritme hiruk pikuk yang tersistematis begitu saja. Apa yang bisa disentuh kita anggap nyata. Apa yang bisa dilihat dianggap benar-benar ada. Tubuh kita terasa nyata eksisnya ketika lapar, lelah, sakit, dan pastinya suatu saat akan mati. Rumah, jalan, pepohonan, orang-orang di sekitar kita, semuanya terlihat begitu jelas sehingga hampir tidak pernah terlintas pertanyaan: apakah realitas memang sesederhana itu?

Ibn ‘Arabi mengajak kita berhenti sejenak dan memikirkan ulang keyakinan tersebut. Bagi sufi-filosof besar ini, realitas tidak sesederhana apa yang ditangkap oleh indera. Apa yang kita lihat memang bukan suatu ilusi optik, tetapi belum tentu itu juga keseluruhan dari kenyataan. Ada lapisan yang lebih dalam, yang tidak mudah ditangkap oleh cara pandang biasa. Di sinilah konsep khayal menjadi sangat penting.

Ketika mendengar kata khayal, banyak orang langsung mengimajinasikan sesuatu yang tidak nyata: angan-angan, lamunan, atau fantasi. Namun dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, khayal bukan sekadar itu saja. Khayal adalah wilayah perantara, sebuah alam antara makna dan bentuk, antara yang gaib dan yang tampak, antara yang tidak berwujud dan yang berwujud. Cara paling sederhana untuk memahaminya adalah melalui pengalaman mimpi.

Saat kita bermimpi, kita melihat tempat, wajah, kejadian, bahkan mengalami rasa takut, sedih, bahagia, atau panik. Dalam mimpi, semuanya seperti nyata. Kita tidak pernah berkata di tengah mimpi, ‘Ini palsu, nih’. Kita benar-benar mengalami semuanya seolah benar-benar terjadi. Baru ketika terbangun kita menyadari bahwa pengalaman itu berada dalam tingkat realitas yang berbeda.

Dari pengalaman sederhana ini, Ibn ‘Arabi mengajukan pertanyaan yang cukup mengusik: apa yang membuat kita begitu yakin bahwa kehidupan saat terjaga sepenuhnya berbeda?

Ibn ‘Arabi mengutip perkataan Rasulullah:

الناس نيام فإذا ماتوا انتبهوا

 “Manusia itu tidur; ketika mereka mati, mereka terbangun.”( al-Futūḥāt al-Makkiyyah, juz. 3, 451)

Dalam pembacaan spiritual, hadis ini bukan hanya berbicara nasihat tentang kelalaian manusia, tetapi juga isyarat tentang cara realitas bekerja. Bisa jadi, kehidupan dunia ini memiliki kemiripan dengan mimpi: terasa nyata saat dijalani, tetapi ketika kesadaran yang lebih tinggi datang, cara kita memahaminya akan berubah total.

Ini bukan berarti Ibn ‘Arabi mengatakan dunia itu palsu. Itu kesalahpahaman yang sering terjadi. Ia tidak mengatakan dunia tidak ada. Yang ia persoalkan adalah cara keberadaan dunia. Dunia ada, tetapi keberadaannya tidak sesederhana benda padat di sekitar kita yang sering kita lihat dengan mata. Ibn ‘Arabi mengatakan:

Baca Juga:  Makna Metafisik Alif dalam Horizon Wujud

ما أوسع حضرة الخيال، فيها يظهر وجود المحال

 “Betapa luas hadirat khayal; di dalamnya tampak keberadaan hal-hal yang mustahil.”(al-Futūḥāt al-Makkiyyah, juz. 2, 312)

Apa maksudnya “hal-hal yang mustahil”? Maksudnya adalah sesuatu yang mustahil menurut logika biasa pada umumnya. Misalnya, satu tubuh berada di dua tempat sekaligus. Akal pasti menolaknya. Tetapi dalam mimpi, hal seperti itu justru terasa biasa dan lumrah. Kita bisa melihat diri kita berada di tempat lain, berbicara dengan orang yang jauh, atau mengalami peristiwa yang secara logika tidak masuk akal.

Bagi Ibn ‘Arabi, ini menunjukkan bahwa akal bukan satu-satunya alat untuk memahami kenyataan. Akal punya batas. Ia bekerja sangat baik di wilayah tertentu sesuai fungsinya, tetapi tidak otomatis mampu menjangkau seluruh struktur realitas.

Dari sini Ibn ‘Arabi menjelaskan banyak hal yang dalam pandangan biasa tampak paradoks. Orang yang mati syahid, misalnya. Secara lahiriah kita melihat tubuhnya tidak bernyawa. Tetapi wahyu mengatakan ia hidup. Mana yang benar?.

Cara berpikir biasa memaksa kita memilih salah satu. Jika hidup, mengapa tampak mati? Jika mati, mengapa disebut hidup?. Tetapi dalam pandangan irfan, pertanyaannya justru terlalu sempit. Mengapa harus salah satunya? Mengapa tidak keduanya benar pada tingkat realitas yang berbeda?

Logika seperti ini memang tidak nyaman bagi cara berpikir yang serba hitam-putih. Namun justru di situlah Ibn ‘Arabi menggugat keterbatasan persepsi manusia. Apa yang kita lihat belum tentu salah, tetapi bisa jadi belum lengkap.

Kalau direnungkan, gagasan ini sebenarnya dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari. Berapa banyak penderitaan manusia yang sebenarnya lahir bukan dari realitas objektif, melainkan dari cara kita memaknai realitas itu.

Seseorang belum tentu membenci kita, tetapi kita sudah merasa tersinggung karena tafsir kita sendiri. Masa depan belum terjadi, tetapi kita sudah cemas oleh gambaran yang kita create dalam pikiran. Kita melihat hidup orang lain tampak lebih baik, lalu merasa hidup kita gagal. Dalam banyak hal, manusia hidup bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia citra, tafsir, bayangan, dan proyeksi. Artinya, khayal bukan sesuatu yang jauh dari hidup kita. Ia justru sangat dekat.

Baca Juga:  Ibn ‘Arabi: Sufi-Filosof dan Hermeneutika Wujud

Namun Ibn ‘Arabi tidak sedang merendahkan khayal sebagai sumber tipuan. Justru sebaliknya. Khayal adalah salah satu jendela pengetahuan. Sebab seluruh pengalaman manusia hampir selalu datang melalui bentuk dan simbol.

Kita mengenal seseorang secara spontan dari wajahnya, bukan dari hakikat jiwanya. Kita juga mendengar kata-kata, lalu menafsirkan maknanya. Kita melihat dunia melalui indera, lalu akal menyusunnya menjadi gambaran tentang kenyataan. Dengan kata lain, manusia selalu berhubungan dengan realitas melalui perantara.

و من لا يعرف مرتبة الخيال فلا معرفة له جملة واحدة

 “Dan siapa yang tidak mengenal martabat khayal, maka ia sama sekali tidak memiliki pengetahuan.” (al-Khayāl: ‘Ālam al-Barzakh wa al-Mithāl min Kalām al-Shaykh al-Akbar, 17)

Pernyataan ini terdengar keras, tetapi sebenarnya sangat dalam maknanya. Jika seluruh pengalaman manusia selalu hadir melalui bentuk, citra, dan penampakan, maka memahami bagaimana penampakan bekerja adalah bagian penting dari memahami pengetahuan itu sendiri. Pada titik ini, kita mungkin mulai melihat bahwa pertanyaan awal: benarkah dunia sepenuhnya nyata?, mungkin perlu diubah. Bukan: apakah dunia nyata atau tidak?, melainkan: dengan cara apa dunia ini nyata?

Ibn ‘Arabi tampaknya ingin mengatakan bahwa dunia ini nyata, tetapi bukan sebagai kenyataan final yang mutlak. Ia nyata seperti bayangan dalam cermin: ada, terlihat, bisa dikenali, tetapi tidak hadir dengan cara yang sama seperti objek yang memantulkannya. Artinya, dunia dalam pandangan ini, bukan sebuah struktur kebohongan. Tetapi ia juga bukan hakikat terakhir yang dimutlakan.

Mungkin itulah sebabnya orang-orang ‘arif memandang dunia dengan cara yang berbeda. Mereka tetap hidup di dalamnya, tetap makan, bekerja, mencintai, menangis, dan kehilangan. Tetapi mereka tahu bahwa bentuk bukanlah ujung dari perjalanan hidupnya.

Bagi kebanyakan orang, dunia adalah sesuatu yang harus digenggam sekuat mungkin agar survive menghadapi banyak hal. Tapi, bagi pencari makna dan hakikat, dunia adalah tanda yang harus dibaca terus menerus.

Baik. Kita tutup dengan pertanyaan paling jujur di akhir tulisan ini: Kalau kematian ternyata bukan akhir kesadaran, melainkan saat kita baru benar-benar melihat, lalu apa sebenarnya yang sedang kita sebut sebagai kenyataan hari ini? 

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA