ISLAM LIVE- Beberapa tahun lalu, ketika penulis membaca kitab Badā’i‘ al-Ẓuhūr fī Waqā’i‘ al-Duhūr, perhatian penulis sempat tertuju pada bagian yang membahas para fir‘aun Mesir dalam lintasan sejarah para nabi. Dari sana muncul ketertarikan untuk melihat kembali bagaimana tradisi historiografi Islam klasik memahami istilah “fir‘aun”.
Di tengah masyarakat awam, istilah tersebut sering dipahami seolah-olah merupakan nama satu orang raja tertentu, padahal dalam banyak literatur Islam, “fir‘aun” lebih dekat dipahami sebagai gelar bagi para penguasa Mesir kuno, sebagaimana gelar “kaisar” atau “kisra”. Karena itu, setiap periode kenabian dapat berhadapan dengan figur fir‘aun yang berbeda-beda, baik nama maupun karakter politiknya. Salah satu yang menarik perhatian penulis ialah sosok Ṭūṭīs bin Māliyā, yang dalam sebagian riwayat disebut sebagai fir‘aun pada masa Nabi Ibrahim.
Ṭūṭīs bin Māliyā digambarkan sebagai penguasa Mesir yang zalim dan sangat tergila-gila kepada perempuan cantik. Dalam riwayat yang dinukil oleh Ibn Abd al-Hakam, disebutkan bahwa ia sering kali merampas perempuan dari keluarga-keluarga rakyatnya secara paksa. Karena obsesinya itu, ia bahkan menempatkan para penjaga di jalan-jalan untuk memeriksa setiap perempuan yang memasuki wilayah Mesir. Gambaran ini menunjukkan bahwa kekuasaan Ṭūṭīs tidak lagi berdiri di atas prinsip keadilan, melainkan bertumpu pada dominasi tubuh dan rasa takut. Negara yang dikelola oleh penguasa semacam ini merepresentasikan corak kekuasaan tirani, yakni ketika otoritas publik berubah menjadi instrumen pemenuhan hasrat pribadi penguasa.
Pada suatu masa, Nabi Ibrahim memasuki Mesir bersama istrinya, Sarah, untuk suatu urusan perdagangan. Mendengar reputasi buruk sang raja, Ibrahim khawatir Sarah akan dirampas. Karena itu beliau menyembunyikan Sarah di dalam sebuah peti kayu agar tidak diketahui oleh para penjaga kerajaan. Namun ketika peti itu melewati kawasan istana, Ṭūṭīs melihatnya dari atas bangunan dan memerintahkan agar isi peti diperiksa. Nah, kekhawatiran Nabi Ibrahim dalam kisah ini memperlihatkan situasi sosial-politik yang tidak sehat: rakyat hidup dalam bayang-bayang kekuasaan yang dapat memasuki ruang privat mereka kapan saja. Ketika negara kehilangan legitimasi moral, rasa aman masyarakat perlahan berubah menjadi ketakutan jangka panjang.
Ketika peti dibuka di hadapan Ṭūṭīs, tampaklah Sarah dengan kecantikan yang membuat sang raja terpesona.
فلما فتحه، فوجد فيه امرأة، كأنها الشمس المضيئة
“Ketika peti itu dibuka, didapati di dalamnya seorang perempuan, bagaikan matahari yang bersinar terang.” (Badā’i‘ al-Ẓuhūr fī Waqā’i‘ al-Duhūr, 79)
Kekaguman Ṭūṭīs terhadap Sarah justru memperlihatkan paradoks dalam dirinya: ia memiliki kekuasaan yang besar, tetapi tidak mampu mengendalikan dorongan nafsunya sendiri. Penulis memandang bahwa penguasa yang gagal menguasai dirinya akan mudah menyalahgunakan kekuasaan terhadap orang lain. Karena itu, krisis moral seorang pemimpin sering kali menjadi awal dari lahirnya kezaliman politik.
Ṭūṭīs kemudian bertanya kepada Nabi Ibrahim tentang hubungan mereka. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Sarah adalah saudarinya, demi menghindari keburukan yang lebih besar. Ketika Nabi Ibrahim menjelaskan bahwa Sarah telah bersuami, sang raja murka dan memerintahkan agar Nabi Ibrahim dipenjara. Reaksi Ṭūṭīs ini menunjukkan bahwa hukum pada masa itu tunduk sepenuhnya kepada kehendak raja. Penjara tidak digunakan untuk menegakkan keadilan, melainkan menjadi alat politik untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi keinginan penguasa. Dalam situasi seperti ini, negara tidak lagi berfungsi sebagai pelindung masyarakat, tetapi berubah menjadi sumber ancaman itu sendiri.
Setelah itu, Sarah dibawa ke istana dan didudukkan di samping Ṭūṭīs. Namun ketika sang raja mencoba menyentuhnya, tangannya mendadak kaku dan lumpuh. Ketika ia mencoba lagi, bumi disebutkan menelannya hingga separuh tubuhnya. Dalam kepanikan, Ṭūṭīs menuduh Sarah sebagai penyihir. Akan tetapi Sarah menjelaskan bahwa semua itu bukanlah sihir, melainkan pertolongan Allah kepada kekasih-Nya. Sarah berkata:
ليس هذا من فعلى، إنما هو من إبراهيم، خليل الله
“Ini bukanlah dari perbuatanku, melainkan berasal dari Ibrahim, kekasih Allah.” (Badā’i‘ al-Ẓuhūr fī Waqā’i‘ al-Duhūr, 79)
Ucapan Sarah tersebut bukan hanya memperlihatkan keyakinan spiritual seorang nabi dan keluarganya, tetapi juga menghadirkan dimensi teologis dalam relasi antara kekuasaan dan ketuhanan. Pada titik ini, narasi sejarah berubah menjadi kritik metafisis terhadap absolutisme politik. Kekuasaan Fir‘aun yang tampak tidak terbatas ternyata berhenti di hadapan otoritas yang lebih tinggi, yakni kehendak Tuhan. Dengan demikian, kisah ini menegaskan bahwa kekuatan politik manusia tetap memiliki batas yang tidak dapat ia lampaui.
Mendengar hal itu, Ṭūṭīs segera memanggil Nabi Ibrahim dari penjara. Ia memuliakannya, meminta maaf, bahkan memohon agar diselamatkan dari azab yang menimpanya. Nabi Ibrahim lalu menolongnya hingga ia terbebas dari keadaan tersebut. Setelah itu Sarah dikembalikan kepada Nabi Ibrahim dengan penuh penghormatan. Ṭūṭīs juga menghadiahkan seorang budak perempuan bernama Hajar, yang nantinya menjadi ibu dari Nabi Ismail.
Menarik dari akhir kisah ini, meskipun pernah diperlakukan zalim, Nabi Ibrahim tetap menolong sang raja dari azab yang menimpanya. Peristiwa ini memperlihatkan perubahan sikap Ṭūṭīs, dari angkuh menjadi tunduk. Pada saat yang sama, kisah tersebut menunjukkan rapuhnya fondasi kekuasaan yang hanya bertumpu pada paksaan. Legitimasi sejati seorang penguasa tidak hanya lahir dari kekuatan militer atau kekayaan, tetapi juga dari kemampuannya tunduk kepada nilai moral dan ketuhanan. Tanpa itu, kekuasaan mudah berubah menjadi tirani yang pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Dengan demikian, kisah Ṭūṭīs dalam literatur Islam tidak hanya penting sebagai fragmen sejarah kenabian, tetapi juga relevan sebagai refleksi tentang bahaya kekuasaan yang kehilangan dimensi moral dan spiritualnya.
