Cahaya, Tuhan, dan Cara Kita Melihat Dunia

31 views
Gambar Hanya Ilustrasi

ISLAM LIVE- Pernahkah kita merenungkan alasan Al-Qur’an menyebut Allah sebagai “Cahaya langit dan bumi”?

Bagi kebanyakan orang, cahaya adalah fenomena yang sederhana: pijar matahari di pagi hari, lampu yang menerangi kamar, atau nyala api di tengah kegelapan. Namun bagi Imam al-Ghazali, cahaya bukan hanya dipandang sebagai gejala fisik. Ia merupakan kunci untuk membedah hakikat realitas itu sendiri.

Dalam Mishkāt al-Anwār, al-Ghazali mengajak pembacanya untuk traveling pemahaman spiritual. Secara bertahap, ketika kita membaca kitab ini, kita dibawa dari pemahaman cahaya yang kasatmata di alam materi menuju keintiman yang lebih fundamental: hakikat wujud, episteme pengetahuan, hingga relasi antara makhluk dengan Sang Pencipta. Menariknya, al-Ghazali tidak memulai konstruksi argumennya dari abstraksi yang kompleks. Ia justru berangkat dari pengalaman indrawi yang paling mendasar: bagaimana cara kita melihat.

Secara umum, cahaya dipahami sebagai medium yang membuat benda-benda tampak dan terlihat secara jelas. Kita dapat menangkap bentuk meja, pohon, atau wajah seseorang karena adanya penetrasi cahaya. Tanpa instrumen ini, segala sesuatu akan tenggelam dalam kegelapan. Ini adalah model definisi ragawi yang logis dan mudah diterima awam, pastinya.

Namun, al-Ghazali kemudian mengajukan pertanyaan yang diam-diam menggoyangkan logika linier tersebut: apakah cahaya lampu lebih esensial daripada mata yang menangkapnya? Tentu tidak. Lampu boleh saja menyala terang, namun bagi orang yang kehilangan penglihatan, kilau dari cahaya tersebut tidak memiliki signifikansi apa pun. Melalui analogi ini, al-Ghazali mulai menggeser semantik diksi ‘cahaya’. Jika sesuatu diartikan sebagai cahaya karena kemampuannya menyingkap hal lain atau menerangi benda-benda, maka organ mata jauh lebih layak menyandang predikat cahaya daripada lampu fisik.  Walaupun demikian, bangunan argumentasi tersebut tidak hanya berhenti di situ.

Mata lahiriah rupanya memiliki keterbatasan yang inheren dan kerap tertipu oleh ilusi jarak maupun ruang. Objek yang masif kuantitasnya akan tampak kecil jika berada di kejauhan; matahari terlihat seperti koin kecil di hamparan langit, padahal volumenya jauh melampaui bumi. Mata juga menangkap bayangan seolah-olah statis, padahal ia terus bergerak secara kontinu. Jika indra penglihatan masih dilingkupi probabilitas salah dalam mengindera, mungkinkah ada entitas “cahaya” yang derajatnya lebih tinggi?. Dalam hal ini, jawaban al-Ghazali bersifat pasti: akal.

Akal memiliki kapasitas untuk mengonseptualisasikan apa yang gagal dijangkau oleh indra. Mata tidak mampu melihat keadilan, cinta, intensitas niat, ataupun struktur pengetahuan. Sebaliknya, akal dapat mengenali seluruh entitas abstrak tersebut. Ketika mata hanya sanggup menangkap aspek permukaan, akal sudah pasti bekerja menembus esensi makna dari aspek lahiriah itu.

Pada titik fungsional ini, cahaya telah bertransformasi sepenuhnya. Ia tidak lagi merujuk pada pancaran partikel fisik, melainkan menjadi metafora atas kemampuan menyingkap tirai realitas (kasyf).

فالعقل أولى بأن يسمى نورا من العين الظاهرة

“Maka akal lebih layak untuk dinamai cahaya daripada mata lahiriah.” (Mishkāt al-Anwār, dalam Majmū‘ Rasā’il al-Imām al-Ghazālī, 271)
Ini merupakan sebuah lompatan epistemis yang cukup presisi. Cahaya bukan lagi persoalan eksternalitas di luar diri, melainkan tingkat kejernihan intelektual dan spiritual di dalam jiwa. Namun, akal manusia pun bukanlah terminal akhir atau hukum untuk memutlakan sesuatu. Sebab, rasionalitas makhluk tetap memikul keterbatasan. Ia rentan terjebak dalam kebingungan, kekeliruan, distorsi hawa nafsu, deviasi imajinasi, bahkan kebutaan ego. Oleh karena itu, al-Ghazali mengeskalasi pembahasan ke tataran yang lebih tinggi: wahyu.

Baca Juga:  Ketika Akal Bertemu Wahyu: Warisan Pemikiran Ibnu Sina untuk Dunia Modern

Jika mata membutuhkan stimulasi cahaya matahari agar dapat melihat objek di sekelilingnya, maka akal membutuhkan tuntunan cahaya wahyu agar dapat memahami kebenaran. Tanpa pondasi wahyu, manusia mungkin memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, namun belum tentu mampu memandang realitas dengan ketepatan.

Dari fondasi inilah al-Ghazali menyusun hierarki kosmologis yang sistematis: dimulai dari lampu fisik, organ mata, akal, wahyu, derajat para nabi, dimensi malaikat, hingga bermuara pada poros dari segala sumber, yaitu Allah Swt. Menurut al-Ghazali, seluruh eksistensi “cahaya” selain Allah pada hakikatnya hanyalah bersifat pinjaman (musta’ar).

Bayangkan seseorang yang mengenakan pakaian mewah glamour, mengendarai mobil mahal, dan menempati rumah megah, lalu berjalan dengan penuh kebanggaan seolah-olah seluruh materi itu adalah representasi kepemilikan pribadinya. Apakah ia benar-benar kaya? Tentu tidak. Seluruh ornamen tersebut hanyalah titipan sementara. Kondisi demikian berlaku mutlak bagi seluruh makhluk. Kita tampak ada, tampak memiliki daya, dan tampak memancarkan cahaya, namun seluruh predikat tersebut muncul semata-mata karena adanya distorsi atribusi dari Sang Pencipta. Al-Ghazali menuliskan tesisnya dengan lugas:

بل أقول و لا أبالي أن اسم النور غير النور الأولي مجاز محض

Bahkan aku berkata, dan aku tidak peduli, bahwa penamaan cahaya bagi selain Cahaya Pertama hanyalah majas belaka.” (Mishkāt al-Anwār, hlm. 275)
Pernyataan tersebut membawa penegasan yang kuat: apa yang kita persepsikan memiliki eksistensi mandiri (independen), sebenarnya sama sekali tidak memiliki kemandirian tersebut. Kita hidup karena dihidupkan, kita berpikir karena diberikan instrumen kognisi, dan kita mengetahui karena disinari oleh cahaya makrifat. Dengan kata lain, seluruh realitas objektif di alam semesta ini tidak lain adalah pantulan.

Al-Ghazali kemudian membawa pembaca masuk ke dalam inti doktrin tasawuf: jika segala sesuatu ditinjau dari sudut esensi dirinya sendiri (li-dzatihi), maka ia berada dalam kondisi ketiadaan (‘adam). Atas dasar kesadaran ontologis inilah, para penempuh jalan spiritual atau salik, berhasil mencapai distingsi pengalaman batin di mana mereka menyaksikan bahwa satu-satunya entitas yang benar-benar ‘Ada’ hanyalah Allah.

ليس في الوجود إلا الله

“Tidak ada dalam wujud selain Allah.” (Mishkāt al-Anwār, hlm. 277)

Konstruksi kalimat radikal seperti ini sering kali memicu kesalahpahaman bagi yang baru membacanya. Apakah hal ini mengindikasikan bahwa dunia fisik hanyalah ilusi semata? Ataukah manusia mengalami penyatuan zat dengan Tuhan?

Baca Juga:  Meta-Hikmah: Dekonstruksi Metodologis dan Anarkisme Epistemik Mulla Sadra

Al-Ghazali mengantisipasi hal tersebut dengan sangat rigid. Ia mengklarifikasi bahwa pandangan ini tidak merujuk pada konsep penyatuan zat (ittihad) secara harfiah. Maknanya jauh lebih subtil: makhluk tidak memiliki kemandirian ontologis. Wujud makhluk bersifat bergantung sepenuhnya. Analoginya serupa dengan pancaran cahaya bulan di malam hari. Bulan tidak memproduksi energinya sendiri; ia sekadar memantulkan radiasi sinar matahari. Begitu juga eksistensi kemakhlukan kita.

Persoalannya, manusia modern sering kali terjebak dalam kekaguman terhadap pantulan tersebut, lalu mengabaikan dari mana sumber asalnya. Kita kerap terpesona oleh kilau kecerdasan, akumulasi harta, otoritas kekuasaan, pesona fisik, hingga reputasi sosial, padahal seluruh instrumen tersebut hanyalah cahaya yang dipinjamkan.

Namun, al-Ghazali tidak membiarkan teksnya berhenti pada wilayah metafisika teoretis yang mengawang-awang. Ia turut menyertakan kritik spiritual yang sangat membumi. Ia melayangkan kritik tajam terhadap kelompok yang terlalu sibuk mengejar esensi batin hingga mengabaikan, bahkan meremehkan, batasan syariat lahiriah. Sebagai contoh, tipikal orang yang menggagas retorika: “Saya tidak lagi membutuhkan ritual salat secara fisik, karena secara hakikat hati saya telah berzikir secara kontinu.” Bagi al-Ghazali, klaim semacam itu merupakan bentuk kesesatan dogmatis.

Penyingkapan makna batin tidak akan pernah menggugurkan validitas hukum lahiriah. Keduanya merupakan dualitas yang harus berjalan secara simultan. Ia mengilustrasikannya melalui tafsir simbolis atas kisah Nabi Musa As yang diperintahkan untuk melepaskan kedua alas kakinya di Lembah Tuwa. Secara eksoteris, Nabi Musa benar-benar menanggalkan sandalnya. Namun secara esoteris, tindakan tersebut sekaligus menjadi simbolisasi dari pelepasan keterikatan hati dari segala hal selain Allah. Ini menunjukkan metodologi berpikir al-Ghazali yang konsisten: aspek simbolis itu esensial, namun ia tidak serta-merta membatalkan realitas syariat yang berlaku pada domain fisik.

Al-Ghazali memaparkan bahwa individu yang memiliki kejernihan mata batin (bashirah) tidak akan memandang suatu objek di alam semesta tanpa menyaksikan kehadiran Allah di dalamnya. Sebagian dari mereka bahkan mencapai tingkatan spiritual yang menyatakan, “Aku tidak melihat sesuatu kecuali aku telah melihat Allah sebelumnya.” Bagi masyarakat modern, adagium ini mungkin terdengar abstrak dan spekulatif. Padahal, substansi maknanya sangat aplikatif: ada tipe manusia yang memandang dunia hanya sebagai kumpulan materi yang terfragmentasi, namun ada juga yang mampu membaca setiap entitas sebagai ayat atau tanda yang menunjuk langsung pada Sang Pencipta.

Pesan terdalam yang ingin diartikulasikan melalui Mishkāt al-Anwār, seolah-olah ingin mengatakan bahwa esensi hidup bukanlah tentang mengumpulkan serpihan cahaya-cahaya kecil yang semu, melainkan mengorientasikan kembali arah pandang menuju Sumber Cahaya yang sejati.

Sebab, problematika kita hari ini adalah kerap sibuk mengejar apa pun yang berkilau, tanpa pernah kritis mempertanyakan dari mana asal muasal kilau tersebut bermuara. Di situlah titik awal kegelapan manusia modern: ketika kita dikepung oleh sedemikian banyak cahaya artifisial, namun di saat yang sama kehilangan navigasi dari Cahaya yang sesungguhnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA