Ketika Cahaya Menjadi Metafora: Memahami Makna “Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi”

3 views

ISLAM LIVE – Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak sekadar dibaca, tetapi mengajak manusia berhenti sejenak untuk memandang dunia dengan cara yang berbeda. Salah satunya adalah ayat ke-35 dari Surah An-Nur, ayat yang dikenal sebagai Ayat Cahaya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ…

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita…”

(QS. An-Nur: 35)

Ayat ini kemudian menghadirkan sebuah perumpamaan yang sangat indah: cahaya itu berada dalam sebuah ceruk, di dalamnya terdapat lampu, lampu itu berada dalam kaca, dan kaca tersebut seakan-akan bintang yang bercahaya. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang bukan hanya berasal dari timur atau barat. Minyaknya hampir-hampir menerangi meski belum disentuh api.

Lalu Al-Qur’an menutup perumpamaan itu dengan kalimat yang menggugah: “Cahaya di atas cahaya.”

Namun, apa sebenarnya yang hendak dijelaskan oleh perumpamaan tersebut?

Allah swt Bukan Makhluk, Maka Cahaya-Nya Tidak Boleh Dibayangkan Secara Fisik

Pembahasan dalam teks tersebut dimulai dari satu persoalan penting. Ketika Al-Qur’an menyebut Allah swt sebagai Nur atau cahaya, apakah itu berarti Allah swt memiliki bentuk seperti cahaya yang kita kenal?

Jawabannya: tidak.

Allah swt tidak dapat diserupakan dengan makhluk. Karena itu, perumpamaan dalam ayat tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan zat Allah secara fisik. Ia adalah sebuah pendekatan agar manusia dapat memahami sesuatu yang berada di luar jangkauan inderanya.

Manusia mengenal cahaya melalui pengalaman sehari-hari. Kita tahu cahaya karena ia membuat sesuatu terlihat. Dalam kegelapan, benda-benda berada di sekitar kita, tetapi tidak dapat kita lihat. Ketika cahaya hadir, dunia seolah-olah terbuka.

Dalam pengertian inilah cahaya menjadi sebuah metafora yang kuat. Cahaya adalah sesuatu yang membuat keberadaan menjadi tampak.

Allah swt, dalam pemahaman teologis Islam, adalah sumber keberadaan itu sendiri. Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut-Nya sebagai cahaya langit dan bumi, yang dimaksud bukanlah cahaya material, melainkan bahwa Allah swt adalah sumber petunjuk, kehidupan, keteraturan, dan keberadaan seluruh makhluk.

Cahaya sebagai Petunjuk

Manusia tidak hanya membutuhkan cahaya untuk melihat jalan secara fisik. Ia juga membutuhkan cahaya untuk mengetahui arah kehidupan. Seseorang dapat memiliki mata yang sehat, tetapi tetap tersesat jika tidak mengetahui ke mana harus berjalan.

Di sinilah cahaya berubah menjadi simbol hidayah.

Al-Qur’an, wahyu, ilmu, dan ajaran para nabi menjadi bentuk-bentuk cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan kebodohan dan kesesatan. Karena itu, hidayah bukan sekadar informasi tentang mana yang benar dan mana yang salah. Ia adalah cahaya yang membuat manusia mampu mengenali kebenaran dan memiliki kekuatan untuk mengikutinya.

Baca Juga:  Riba Modern dan Ilusi Kemajuan

Teks tersebut juga membedakan dua macam ilmu.

Ada ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, membaca, penelitian, dan pendidikan. Tetapi ada pula ilmu yang tumbuh dalam hati sebagai hasil dari hidayah dan kedekatan kepada Allah swt. Yang pertama dapat disebut sebagai ilmu yang diperoleh, sementara yang kedua merupakan cahaya batin yang dianugerahkan.

Pada akhirnya, keduanya dapat bertemu. Ilmu yang benar semestinya membawa manusia kepada cahaya, bukan menjauhkannya dari sumber kebenaran.

Cahaya sebagai Sumber Kehidupan

Cahaya matahari memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami.

Tanpa matahari, kehidupan di bumi tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Tumbuhan tumbuh karena cahaya. Hewan bergantung pada tumbuhan. Manusia pun hidup dalam sebuah rantai ekologis yang pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari energi matahari.

Bahkan banyak sumber energi yang digunakan manusia pada dasarnya merupakan bentuk energi matahari yang tersimpan atau berpindah melalui berbagai proses alam.

Air, misalnya, bergerak dalam siklus yang melibatkan panas matahari. Air menguap, membentuk awan, kemudian turun sebagai hujan. Air mengalir ke sungai dan laut, lalu siklus itu berulang kembali.

Dari sini tampak sebuah gambaran yang menarik: cahaya bukan hanya membuat sesuatu terlihat, tetapi juga memungkinkan kehidupan berlangsung.

Dalam perspektif ayat tersebut, cahaya Allah memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia bukan sekadar penerangan, tetapi sumber keteraturan dan kehidupan.

Cahaya sebagai Energi dan Kemampuan untuk Bergerak

Pembahasan dalam teks juga mengaitkan cahaya dengan energi.

Manusia memperoleh energi dari makanan. Tumbuhan memperoleh energi melalui proses yang bergantung pada cahaya matahari. Energi kemudian berpindah dari satu makhluk ke makhluk lainnya.

Namun, kemampuan bergerak pun pada akhirnya merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.

Manusia dapat berjalan, bekerja, dan melakukan berbagai aktivitas. Tetapi kekuatan manusia terbatas. Ia bisa sakit, lemah, dan kehilangan kemampuan yang sebelumnya dianggap biasa.

Di sinilah manusia kembali diingatkan pada keterbatasannya.

Kita sering berkata, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Kalimat itu bukan hanya ungkapan spiritual, tetapi juga pengakuan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya mandiri.

Ia hidup dalam jaringan sebab yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Cahaya yang Menjaga Kehidupan

Menariknya, teks tersebut juga membahas peran cahaya dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Sinar matahari membantu mengendalikan berbagai mikroorganisme. Cahaya dan panas memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Dalam kehidupan laut, misalnya, berbagai organisme hidup dalam kedalaman dan kondisi yang berbeda. Tidak semuanya dapat hidup di tempat yang sama.

Jika satu jenis organisme berkembang tanpa batas, keseimbangan ekosistem dapat terganggu. Karena itu, kehidupan membutuhkan batas, keseimbangan, dan keteraturan.

Baca Juga:  Riba: Ketika Uang Beranak Pinak dan Manusia Kehilangan Keseimbangan

Begitu pula dalam dunia tumbuhan. Ada tanaman yang tumbuh sangat cepat. Ada hewan yang berkembang biak dalam jumlah besar. Namun alam memiliki mekanisme yang menjaga agar kehidupan tidak sepenuhnya dikuasai oleh satu jenis makhluk.

Semua itu menunjukkan adanya keteraturan yang memungkinkan berbagai makhluk hidup berdampingan.

Cahaya, dalam pengertian ini, bukan hanya menghadirkan kehidupan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang menjaga kehidupan.

Dari Cahaya Matahari Menuju Cahaya Ilahi

Namun, ayat tersebut tidak berhenti pada cahaya fisik.

Matahari hanyalah salah satu contoh untuk membantu manusia memahami makna yang lebih tinggi. Ada cahaya yang menerangi mata, tetapi ada pula cahaya yang menerangi hati.

Manusia membutuhkan keduanya.

Tanpa cahaya fisik, manusia tidak dapat melihat dunia. Tanpa cahaya petunjuk, manusia mungkin dapat melihat segala sesuatu, tetapi tidak memahami untuk apa ia hidup.

Karena itu, seseorang bisa saja hidup dalam dunia yang terang, memiliki pendidikan tinggi, menguasai teknologi, dan memiliki pengetahuan luas—tetapi tetap mengalami kegelapan batin.

Di sinilah metafora “cahaya di atas cahaya” menjadi semakin dalam.

Ada cahaya indera. Ada cahaya akal. Ada cahaya ilmu. Ada cahaya wahyu. Dan ada cahaya hidayah yang mengarahkan semuanya menuju kebenaran.

Semua cahaya itu, pada akhirnya, dikembalikan kepada satu sumber.

Allah swt adalah Cahaya langit dan bumi.

Cahaya yang Mengubah Dunia

Teks tersebut kemudian mengingatkan bahwa simbol cahaya juga muncul dalam banyak konteks lain dalam Al-Qur’an dan tradisi Islam. Al-Qur’an disebut sebagai cahaya. Rasulullah menjadi pembawa cahaya. Ilmu disebut cahaya. Hidayah disebut cahaya.

Bahkan sejarah manusia memperlihatkan bagaimana penemuan cahaya secara fisik mengubah peradaban. Api memungkinkan manusia memasak, menghangatkan diri, mengolah bahan, dan mengembangkan berbagai teknologi. Lampu kemudian memungkinkan manusia beraktivitas setelah matahari terbenam.

Namun, semua itu tetap merupakan cahaya dalam pengertian material.

Cahaya yang dibicarakan oleh Surah An-Nur membawa manusia kepada sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana manusia menemukan arah dalam kehidupan.

Sebab persoalan terbesar manusia bukan selalu karena ia tidak dapat melihat. Kadang-kadang masalahnya justru karena ia melihat terlalu banyak, tetapi tidak tahu mana yang harus dipilih.

Di tengah dunia yang penuh informasi, manusia tetap membutuhkan petunjuk.

Di tengah kemajuan teknologi, manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan.

Di tengah gemerlap dunia, manusia tetap dapat mengalami kegelapan.

Maka, Ayat Cahaya seakan mengajak manusia untuk memahami bahwa kehidupan tidak cukup hanya dengan mata yang terbuka. Kita juga membutuhkan hati yang diterangi.

Sebab pada akhirnya, cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang membuat kita mampu melihat dunia, melainkan cahaya yang membuat kita mengerti ke mana harus melangkah di dalamnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA