ISLAM LIVE- Dalam lembaran sejarah kuno dunia, nama Sam bin Nuh sering kali disebut sebagai titik balik peradaban manusia setelah peristiwa banjir besar yang menenggelamkan dunia di masa Nabi Nuh AS. Jika kita menilik silsilah manusia, Sam bukan hanya sebagai sosok figuratif, melainkan seorang tokoh sentral yang keturunannya menyebar ke berbagai penjuru bumi, membentuk bangsa, bahasa, hingga kerajaan-kerajaan besar yang mewarnai sejarah dunia.
Menetap di Jantung Bumi
Setelah selamat dari bahtera, Sam bin Nuh memilih untuk menetap di wilayah yang dianggap sebagai ‘Jantung Bumi’. Wilayah ini meliputi daerah Haram (Makkah dan sekitarnya), terus membentang hingga ke Yaman, Hadramaut, Oman, Bahrain, hingga wilayah-wilayah seperti ‘Aalij, Yabrin, Wabar, dan ad-Dahna.
Kawasan-kawasan ini nantinya, akan menjadi tempat tumbuh kembangnya peradaban Arab yang sangat berpengaruh. Keturunan Sam, khususnya dari jalur Arfakhsyad bin Sam, menjadi saksi bagaimana bahasa dan peradaban pertama kali menemukan bentuknya yang paling murni.
Ya’rub bin Qahtan: Bapak Bahasa Arab
Salah satu tokoh yang paling mencolok dari keturunan Arfakhsyad adalah Ya’rub bin Qahtan. Ia tercatat dalam sejarah sebagai manusia pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Ya’rub menetap di tanah Yaman dan dikenal sebagai bapak dari seluruh penduduk Yaman.
Ia bukanlah pemimpin biasa. Kepemimpinannya begitu dihormati sehingga anak-anaknya memberikan penghormatan yang lazim bagi para raja, seperti kalimat “An‘im ṣabāḥan wa abayta al-la‘na” diartikan dengan: Semoga pagimu baik/nikmat dan Engkau terhindar dari celaan/kutukan. Ini menunjukkan bahwa di garis keturunan Sam, nilai-nilai kemuliaan dan tata krama kerajaan sudah terbentuk sejak masa yang sangat awal.
Kisah Kaum ‘Ad dan Tsamud
Nama besar lain yang lahir dari garis keturunan Iram bin Sam adalah kaum ‘Ad dan kaum Tsamud. Mereka adalah kaum-kaum legendaris yang menduduki wilayah al-Ahqaf (di padang pasir) dan al-Hijr.
Dalam sejarah kenabian, kaum ‘Ad dikenal dengan kekuatannya, yang kemudian mendapat teguran melalui Nabi Hud AS. Sementara kaum Tsamud, yang dikenal sebagai ahli pembangun peradaban di batu-batu pegunungan, mendapatkan bimbingan dari Nabi Saleh AS.
Kisah mereka berbicara tentang bagaimana keturunan Sam terus berupaya membangun peradaban di tanah yang keras dan menantang. Terlepas dari aspek kehancuran kaumnya, ya.
Penyebaran Bangsa dan Kekuasaan
Dunia terus meluas. Dari garis keturunan Laudz bin Iram bin Sam, lahirlah kelompok yang disebut sebagai ‘Amaliq (kaum Amalika). Mereka adalah kelompok yang sangat dinamis, menyebar ke Makkah hingga Syam.
Menariknya, para sejarawan kuno mencatat bahwa dari kelompok ini lahir juga para Firaun di Mesir, raja-raja penguasa Persia, hingga para penguasa di Khurasan. Ini membuktikan bahwa pengaruh genetik dan kepemimpinan Sam bin Nuh merambah luas, menyeberangi batasan geografis yang ada saat itu.
Namrud dan Menara Babil
Keturunan Sam lainnya, yaitu Mash bin Iram, menetap di wilayah Babil (Babylonia). Dari garis keturunannya lahir Namrud, yang dalam tradisi ini disebut sebagai pembangun bangunan monumental (al-ṣarḥ) di Babil. Namrud dikisahkan memerintah selama lima ratus tahun.
Pada zaman Namrud-lah peristiwa besar terjadi: Allah memisahkan bahasa-bahasa manusia. Diceritakan bahwa di antara keturunan Sam terdapat 19 bahasa, di antara keturunan Ham terdapat 17 bahasa, dan di antara keturunan Yafits terdapat 36 bahasa. Ini adalah momen sejarah di mana manusia mulai terbagi dalam identitas bahasa yang berbeda-beda, yang hingga hari ini menjadi kekayaan linguistik dunia.
Mengapa Sam Bin Nuh Begitu Istimewa?
Menurut banyak catatan kuno, seluruh nabi, baik yang berasal dari bangsa non-Arab (‘Ajam) maupun Arab, dan seluruh bangsa Arab, baik yang menetap di Yaman maupun kelompok Nizar, semuanya merujuk pada satu garis keturunan: Sam bin Nuh. Sam adalah jembatan bagi sejarah manusia. Melalui keturunannya, kita melihat bagaimana bahasa Arab lahir, bagaimana kerajaan-kerajaan besar di Timur Tengah dan Asia terbangun, serta bagaimana nilai-nilai religius diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui para nabi yang diutus di kalangan keturunannya.
Dengan demikian, membaca sejarah Sam bin Nuh adalah membaca perjalanan identitas manusia itu sendiri. Dari padang pasir Yaman hingga menara-menara tinggi di Babil, dari bahasa Arab yang fasih hingga tersebarnya berbagai dialek di seluruh penjuru bumi, Sam bin Nuh tetap berdiri sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam silsilah peradaban manusia.
Ia bukan hanya perwajahan nama dalam teks kuno saja, melainkan simbol dari ketahanan, pertumbuhan, dan asal-usul kita bersama. Memahami sejarah Sam berarti memahami benang merah yang menghubungkan manusia masa kini dengan akar sejarah dunia yang begitu epic dan penuh dengan hikmah.
Sumber rujukan: Ibn Qutaybah, Abū Muḥammad ‘Abd Allāh ibn Muslim ibn Qutaybah ad-Dīnawarī. Kitāb al-Ma‘ārif. Ditahqiq oleh Tharwat ‘Ukāshah. Kairo: Al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah lil-Kitāb, 1992, 27–29.
