Ibrahim al-Kurani dan Rekonsiliasi Waḥdat al-Wujūd: Membela Tanzīh di Tengah Tuduhan Panteisme

20 views
Gambar Hanya Ilustrasi

ISLAM LIVE – Ibrahim bin Hasan al-Kurani asy-Syahrazuri al-Madani (w.1690) atau dipanggil Ibrahim al-Kurani merupakan salah satu ulama besar abad ke-17. Lahir 1616 M di Sharani, Iran. Wafat di Madinah. Beliau memiliki posisi penting dalam tradisi tasawuf falsafi Sunni. Ia juga dikenal sebagai seorang muhaddits, bertarekat naqsyabandi dan qadiri, sekaligus sufi yang berupaya menjembatani ketegangan antara ortodoksi kalam dan metafisika Muhyiddin Ibn Arabi. Salah satu murid al-Kurani di nusantara adalah Abd Rauf al-Sinkili dan Yusuf Makassari.

Dalam sejarah intelektual Islam, al-Kurani menempati posisi strategis sebagai pembela sekaligus penafsir kritis ajaran waḥdat al-wujūd agar dapat dipahami selaras dengan prinsip tanzīh Ahlussunnah. Melalui karya Matla‘ al-Jūd bi Taḥqīq al-Tanzīh fī Waḥdat al-Wujūd, ia mencoba menunjukkan bahwa pemikiran Ibn ‘Arabi bukanlah ajaran yang meniadakan Tuhan ke dalam alam, melainkan usaha memahami hubungan antara Yang Absolut dan kosmos secara metafisis. Karena itu, kitab ini menjadi salah satu karya paling penting dalam tradisi irfan Sunni yang berusaha mendamaikan dunia tasawuf, filsafat, dan ilmu kalam.

Di tangan Ibrahim al-Kurani, perdebatan tentang waḥdat al-wujūd tidak lagi berhenti pada pertentangan emosional antara tauhid dan kesesatan, melainkan dinaikkan menjadi diskursus metafisika yang sangat apik dan unik. Dalam Matla‘ al-Jūd, al-Kurani tampil bukan hanya sebagai pembela Muhyiddin Ibn Arabi, tetapi sebagai jembatan antara tradisi tasawuf, kalam Asy‘ariyah, dan filsafat wujud. Ia memahami bahwa kalimat Ibn ‘Arabi seperti:

«سبحان من أظهر الأشياء وهو عينها» 

Mahasuci Dia yang menampakkan segala sesuatu, dan Dia identik dengan segala sesuatu.” (al-Futūḥāt al-Makiyyah, Juz. 2, 459).

sering dipahami secara dangkal sebagai penghapusan jarak antara Tuhan dan makhluk. Apalagi ‘Ala Dawlah Simnani, sangat keras mengkritik pernyataan Ibn ‘Arabi tersebut. Karena itu, al-Kurani berusaha menunjukkan bahwa ungkapan tersebut justru lahir dari kedalaman konsep tanzīh, yakni penyucian Tuhan dari segala pembatasan konseptual manusia. Dalam pembacaannya, Tuhan tidak menjadi makhluk, tetapi seluruh makhluk hanyalah penampakan keterbatasan yang bergantung total pada limpahan wujudNya.

Baca Juga:  Sekilas Para Filosof Neo-Sadrian dalam Generasi Pasca-Thabathaba'i

Yang menarik, al-Kurani tidak membela Ibn ‘Arabi dengan bahasa ekstase mistik atau proposisi-proposisi fanatis, melainkan dengan kerangka rasional yang ketat dan runut. Ia menjelaskan bahwa wājib al-wujūd adalah wujud mutlak yang tidak membutuhkan mahiyyah (esensi/kuiditas), bentuk, ataupun pembatas eksternal. Karena itu al-Kurani mengatakan:

«انّ للّه تعالى مطلق الوجود غير مقيد بغيره»

Sesungguhnya Allah adalah Wujud Mutlak yang tidak terikat oleh batasan apa pun di luar diri-Nya.”(Maṭla‘ al-Jūd bi Taḥqīq al-Tanzīh fī Waḥdat al-Wujūd (Irsyād Dhawī al-‘Uqūl), 280)

Penulis memandang bahwa, di sini terlihat jasa intelektual al-Kurani: ia mengubah waḥdat al-wujūd dari slogan sufistik menjadi sistem ontologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis dan teologis. 

Kritik terhadap Ibn ‘Arabi sering muncul karena orang membayangkan “kesatuan wujud” sebagai penyatuan fisik antara Tuhan dan alam atau sering kali disebut panteisme. Padahal, menurut al-Kurani, yang satu hanyalah hakikat wujud absolut, sedangkan keberagaman alam hanyalah bentuk manifestasi/entifikasi (ta‘ayyunāt) atas limpahan wujud tersebut. Dengan demikian, pluralitas tetap diakui, tetapi tidak memiliki kemandirian ontologis di hadapan Yang Absolut.

Lebih jauh lagi, al-Kurani melakukan langkah yang sangat revolusioner: ia mendamaikan tasawuf Ibn ‘Arabi dengan teologi Asy‘ariyah. Ia bahkan menunjukkan bahwa gagasan tentang wujud mutlak tidak bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah. Ketika menjelaskan pandangan Imam al-Asy‘ari, al-Kurani menegaskan bahwa Tuhan dapat dipahami sebagai al-wujūd al-muṭlaq selama tetap disertai prinsip «لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ». Inilah titik penting pemikiran al-Kurani. Ia ingin menyelamatkan warisan irfan dari tuduhan hulūl dan ittihād, sekaligus menyelamatkan ilmu kalam dari keringnya metafisika. Dalam konteks ini, al-Kurani berperan bukan hanya sebagai komentator Ibn ‘Arabi, melainkan mediator ulung antara penganut metode kasyf dan burhān, antara pengalaman mistik dan disiplin rasional.

Baca Juga:  Ibn 'Arabi: Dunia yang Kita Lihat, Benarkah Sepenuhnya Nyata?

Dimensi irfan kritis al-Kurani tampak ketika ia menjelaskan konsep alam sebagai “khayal”. Ia mengutip Ibn ‘Arabi:

 «فما في الوجود المحقق إلا اللّه»

Maka, tidak ada wujud yang benar-benar hakiki kecuali Allah semata.” (al-Futūḥāt al-Makiyyah, Juz. 2, 313).

dalam hal ini, al-Kurani segera memberi penjelasan filosofis agar ungkapan itu tidak disalahpahami secara vulgar dan keluar konteks. Menurutnya, alam disebut khayal bukan berarti ilusif sepenuhnya, tetapi karena seluruh eksistensinya terus berubah dan tidak memiliki ketetapan dari dirinya sendiri. Yang benar-benar tetap hanyalah al-Haq. 

Kritik al-Kurani secara implisit diarahkan kepada orang-orang yang mempunyai cara berpikir literalistik yang memahami realitas hanya secara material. Dalam perspektifnya, manusia modern sering terjebak menganggap benda-benda memiliki eksistensi otonom, padahal seluruh kosmos hanyalah ‘bayangan ontologis’ yang berdiri karena termanifestasi dari wujud ilahi. Di sinilah irfan al-Kurani menjadi sangat relevan: ia membongkar ego metafisis manusia yang merasa dan mengklaim dirinya berdiri sendiri.

Natijahnya, jasa terbesar Ibrahim al-Kurani ialah keberhasilannya membangun bahasa intelektual yang memungkinkan waḥdat al-wujūd dipahami tanpa kehilangan dimensi tanzīh. Ia tidak menolak syariat demi hakikat, dan tidak pula membunuh hakikat demi formalitas teologi. Melalui sintesisnya, irfan menjadi ruang perjumpaan antara akal, wahyu, dan pengalaman batin. Karena itu, al-Kurani layak dipandang sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah rekonsiliasi sufisme filosofis Sunni. Di tengah dunia Islam yang sering memisahkan tasawuf dari ortodoksi, ia hadir membawa pesan bahwa kedalaman metafisika tidak harus berakhir pada penyimpangan akidah, melainkan justru dapat menjadi jalan untuk menyaksikan keagungan tauhid secara lebih mendalam.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA