Meta-Hikmah: Dekonstruksi Metodologis dan Anarkisme Epistemik Mulla Sadra

27 views

Dalam bentang sejarah filsafat Islam, Mulla Sadra seringkali dicitrakan sebagai seorang mistikus yang mencoba berfilsafat atau seorang filsuf yang gemar bermeditasi. Namun, reduksi semacam ini gagal menangkap esensi revolusioner dari proyek intelektualnya. Kebaruan radikal Mulla Sadra tidak terletak pada upaya “menambah” satu mazhab baru di samping Peripatetik (Masya’i) atau Iluminasionis (Isyraqi), melainkan pada keberaniannya melakukan dekonstruksi metodologis. Mazhab Hikmah al-Muta’aliyah bukan sekadar “filsafat transendental” dalam pengertian metafisik-ontologis konvensional, melainkan sebuah meta-approach yang bersifat epistemologis dan metodologis.

Sebelum kemunculan Mulla Sadra, tradisi pemikiran Islam terjebak dalam fragmentasi metodologis yang kaku. Di satu sisi, para filsuf Peripatetik mengagungkan silogisme rasional (burhan) namun sering kali terasing dari pengalaman eksistensial. Di sisi lain, para penganut Irfan (mistisisme) menyelami samudra intuisi namun kerap mengabaikan rigoritas logika. Sementara itu, para mutakallimun (teolog) bertahan pada teks wahyu dengan pendekatan jadali yang sering kali hanya bertujuan membela doktrin.

Mulla Sadra hadir dengan tesis yang provokatif: ia tidak ingin melahirkan “filsafat yang irfani” atau “irfan yang filosofis”. Baginya, pencampuran semacam itu hanya akan melahirkan hibrida yang cacat secara epistemis. Sebaliknya, ia menuntut kemurnian dari setiap disiplin tersebut sembari memaksa mereka untuk berdialog dalam satu kesatuan organik. Ini adalah upaya untuk meruntuhkan tembok pemisah antara subjek yang berpikir dan realitas yang dipikirkan. Pengetahuan sejati, bagi Sadra, bukanlah sekadar akumulasi konsep di dalam benak, melainkan transformasi eksistensial dari sang pencari ilmu itu sendiri.

Paradoks yang Koheren Bernama “Anarkisme Metodologis”

Istilah “anarkis” dalam konteks Sadra merujuk pada penolakannya terhadap hegemoni tunggal satu metodologi atas yang lain. Sadra menerapkan apa yang bisa kita sebut sebagai pluralisme metodologis radikal. Dalam berbagai karya monumentalnya, seperti Al-Asfar al-Arba’ah dan Syawhid ar-Rububiyyah, ia tidak membiarkan akal tunduk di bawah intuisi, atau wahyu membungkam nalar. Sebaliknya, ia menetapkan standar bahwa temuan dari ketiga metodologi tersebut harus saling mengonfirmasi dan koheren secara internal, itupun secara organik dan hidup, bukan seara mekanik dan kaku.

Baca Juga:  Dua Jenis Sahabat: Tafsir al-Farabi tentang Siapa yang Layak Dipercaya

Ketajaman metodologi Sadra terlihat saat ia merangsek ke wilayah fenomena (mawjud) hingga menembus nomena (wujud). Jika Immanuel Kant di Barat menyimpulkan bahwa manusia hanya bisa mengetahui fenomena dan selamanya terputus dari nomena, Sadra menawarkan jalan keluar melalui anarkisme tersebut. Ia hendak membuktikan bahwa ketika akal mencapai puncaknya, ia akan koheren dengan intuisi, dan keduanya pun akan koheren dengan kebenaran wahyu. Ketiganya bukanlah tiga jalan yang berbeda, melainkan tiga dimensi dari satu realitas yang sama.

Filsuf muslim kontemporer seperti Mehdi Ha’iri Yazdi memberikan pembacaan yang sangat krusial di sini. Ia melihat Hikmah Muta’aliyah bukan sekadar cabang metafisika, melainkan sebuah meta-approach. Fokusnya bergeser dari sekadar pertanyaan “apa itu yang ada” (ontologi) menjadi “bagaimana cara kita mengetahui yang ada” (epistemologi).

Dalam pandangan Ha’iri Yazdi, kebaruan Sadra terletak pada konsep Ilm al-Huduri (Pengetahuan melalui Kehadiran). Di sini, pluralisme metodologis Sadra menemukan jangkarnya. Pengetahuan bukan lagi hubungan eksternal antara subjek dan objek, melainkan sebuah penyatuan (Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul). Pada titik ini, metode rasionalitas formal (filsafat) dan metode penyingkapan batin (irfan) melebur menjadi satu proses epistemis tunggal. Inilah mengapa Hikmah Muta’aliyah bahkan bisa disebut meta-metodologis; ia adalah kerangka besar yang memungkinkan berbagai cara mengetahui untuk berfungsi tanpa saling meniadakan.

Bagi Sadra, ketidakselarasan antara temuan filsafat dan wahyu bukan disebabkan oleh pertentangan antara kebenaran itu sendiri, melainkan oleh cacatnya metodologi yang digunakan. Ia memandang wahyu sebagai “Akal Universal” dan akal sebagai “Wahyu Individual”. Pendekatan ini memposisikan teologi bukan sebagai dogma yang tertutup bagi nalar, melainkan sebagai konstruksi metafisika yang harus mampu diurai secara rasional dan dirasakan secara intuitif.

Baca Juga:  Cahaya, Tuhan, dan Cara Kita Melihat Dunia

Pluralisme metodologis ini menuntut keberanian intelektual. Sadra sering kali dikritik oleh kaum tradisionalis karena dianggap “terlalu filosofis” dalam menafsirkan teks suci, namun ia juga dicurigai oleh kaum rasionalis murni karena memasukkan unsur-unsur intuitif ke dalam struktur argumennya. Padahal, itulah kebaruan radikalnya: ia menolak menjadi tawanan satu perspektif dan memilih untuk menjadi arsitek kebenaran yang melampaui batas-batas disiplin ilmu.

Di era modern di mana ilmu pengetahuan seringkali terfragmentasi dalam spesialisasi yang sempit dan hambar, pendekatan Mulla Sadra menawarkan kesegaran. Ia mengingatkan kita bahwa kebenaran bersifat integral. Kesuksesan Sadra dalam membangun sistem yang koheren dari metodologi-metodologi yang tampaknya saling bertentangan adalah pencapaian intelektual yang luar biasa.

Hikmah al-Muta’aliyah bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah metode yang hidup. Ia menantang manusia modern untuk tidak hanya menjadi pengamat realitas (observer), tetapi menjadi bagian dari gerak substansial (al-Harakat al-Jauhariyah) dalam realitas. Dengan memahami Hikmah Muta’aliyah sebagai sebuah meta-approach, kita bisa memperoleh alat navigasi epistemologis untuk memahami realitas yang multidimensional; dari yang tampak (fenomena) hingga yang tersembunyi (nomena).

Pada akhirnya, Mulla Sadra sangat layak disebut sebagai sang pencetus pluralisme metodologis yang mengajarkan: untuk menyentuh wajah kebenaran, kita memerlukan sayap akal yang tajam, mata batin yang jernih, dan bimbingan wahyu yang kokoh. Tanpa salah satunya, pencarian intelektual kita akan selalu pincang.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA