Kebenaran Tak Pernah Tenggelam: Pelajaran Abadi dari Pertarungan Hak dan Batil

4 views
Kebenaran Tak Pernah Tenggelam: Pelajaran Abadi dari Pertarungan Hak dan Batil

ISLAM LIVE – Air hujan turun dari langit. Ia mengalir melalui lembah-lembah, memenuhi sungai, lalu bergerak menuju dataran yang lebih rendah. Di permukaannya muncul buih—mengembang, bergerak, tampak mencolok, bahkan sesekali terlihat lebih dominan daripada air itu sendiri. Namun tak lama kemudian, buih itu menghilang. Yang tersisa adalah air yang memberi kehidupan.

Gambaran sederhana itu digunakan Al-Qur’an untuk menjelaskan salah satu pertarungan tertua dalam sejarah manusia: pertarungan antara hak dan batil, antara kebenaran dan kepalsuan. Sebuah pertarungan yang tidak hanya terjadi di medan perang atau panggung politik, tetapi juga di dalam pikiran, media, ruang publik, bahkan dalam diri setiap manusia.

Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 17, Allah berfirman:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا… فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

“Allah telah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra’d: 17)

Ayat ini bukan sekadar penjelasan tentang fenomena alam. Ia adalah metafora yang tajam tentang realitas kehidupan.

Al-Qur’an menggambarkan kebenaran sebagai air yang menghidupkan. Ia tenang, memberi manfaat, dan menjadi sumber kehidupan. Sebaliknya, kebatilan diibaratkan seperti buih: ramai, mencolok, mengembang di permukaan, tetapi kosong di dalamnya.

Di zaman modern, gambaran itu terasa semakin relevan. Kita hidup di era ketika sesuatu yang viral sering dianggap benar hanya karena banyak dibicarakan. Kebohongan dapat menyebar lebih cepat daripada fakta. Sensasi sering mengalahkan substansi. Yang paling gaduh kerap dianggap paling penting.

Namun sejarah menunjukkan pola yang sama berulang kali. Banyak ide yang tampak kuat pada zamannya akhirnya lenyap tanpa jejak. Sebaliknya, kebenaran yang sempat ditekan atau dipinggirkan justru bertahan dan terus memberi manfaat lintas generasi.

Baca Juga:  Membaca Keadilan dalam Nasihat al-Raghib al-Isfahani tentang Keseimbangan Jiwa dan Sosial

Batil memang memiliki satu keunggulan: ia mudah menarik perhatian. Seperti buih di atas air, ia terlihat besar karena berada di permukaan. Tetapi ia tidak memiliki akar.

Karena itulah Al-Qur’an tidak mendefinisikan hak dan batil hanya sebagai konsep teologis. Dalam penjelasan para ulama, hak adalah segala sesuatu yang nyata, benar, dan memiliki manfaat. Batil adalah ilusi, kepalsuan, atau sesuatu yang tampak memiliki nilai padahal kosong dari hakikat.

Ukuran paling sederhana untuk mengenali keduanya adalah manfaatnya. Kebenaran selalu menghasilkan kehidupan, perbaikan, dan kemaslahatan. Kebatilan sebaliknya: menimbulkan kerusakan, kekacauan, dan kehampaan.

Lihatlah sebuah sungai. Airnya mungkin tenang dan tidak menarik perhatian. Namun darinya manusia minum, sawah terairi, dan kehidupan tumbuh. Buih di atasnya justru tidak memberi manfaat apa-apa. Ia hadir sebentar lalu lenyap.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan sosial. Gagasan yang benar biasanya tumbuh perlahan. Ia membutuhkan proses, kesabaran, dan pembuktian. Sementara kebohongan sering tampil spektakuler, penuh klaim besar, dan menjanjikan hasil instan.

Karena itu, Al-Qur’an tidak pernah menjanjikan bahwa kebenaran akan selalu menang dengan cepat. Yang dijanjikan adalah bahwa kebenaran akan bertahan.

Sejarah para nabi menjadi bukti. Nabi Musa as menghadapi para penyihir Fir’aun yang berhasil memukau ribuan orang. Secara visual, mereka tampak menang. Tongkat dan tali mereka seolah berubah menjadi ular yang bergerak. Tetapi semua itu hanyalah ilusi. Ketika mukjizat Nabi Musa muncul, kepalsuan tersebut runtuh dalam sekejap.

Al-Qur’an mengabadikan peristiwa itu:

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Karena itu nyatalah kebenaran dan lenyaplah apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 118)

Ayat ini mengandung hukum sosial yang menarik. Kebatilan sering tampak kuat selama belum berhadapan langsung dengan kebenaran yang nyata. Tetapi ketika hak hadir dengan jelas, kebatilan kehilangan tempat berpijak.

Baca Juga:  Di Hadapan Ahad, Semua Menjadi Relatif 

Meski demikian, pertarungan hak dan batil tidak pernah benar-benar berakhir. Ia berlangsung sepanjang sejarah manusia. Dari masa para nabi hingga era digital hari ini, bentuknya berubah tetapi esensinya tetap sama.

Dulu kebatilan mungkin hadir dalam bentuk penyembahan berhala atau kekuasaan yang menindas. Hari ini ia bisa muncul dalam bentuk manipulasi informasi, propaganda, korupsi, penipuan, atau budaya yang mengaburkan batas antara benar dan salah.

Yang menarik, kebatilan sering kali tidak muncul dengan wajah aslinya. Ia mengenakan pakaian kebenaran. Seperti buih yang menempel di atas air, ia mengambil bentuk yang menyerupai hak agar lebih mudah diterima.

Seorang pembohong berusaha tampil jujur. Seorang munafik mengenakan topeng kesalehan. Sebuah ide yang merusak sering dibungkus dengan slogan-slogan yang terdengar indah. Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar memilih antara hitam dan putih, melainkan membedakan yang asli dari yang menyerupainya.

Di sinilah pentingnya ketajaman berpikir, kejujuran hati, dan keberanian untuk mencari kebenaran meski tidak populer.

Pada akhirnya, ayat tentang air dan buih bukan sekadar pelajaran teologi. Ia adalah pelajaran tentang cara membaca kehidupan. Bahwa tidak semua yang ramai itu penting. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang besar itu kuat.

Buih selalu tampak menonjol di permukaan. Tetapi ia tidak pernah bertahan lama.

Sedangkan air yang tenang, yang mengalir diam-diam dan memberi manfaat bagi kehidupan, justru itulah yang menetap di bumi.

Mungkin itulah pesan paling relevan bagi manusia modern yang hidup di tengah banjir informasi dan hiruk-pikuk opini: jangan tertipu oleh buih. Carilah airnya.

Karena dalam jangka pendek kebatilan bisa tampak menang. Namun dalam rentang sejarah yang panjang, yang benar-benar bertahan hanyalah kebenaran.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA