Di Hadapan Ahad, Semua Menjadi Relatif 

24 views

ISLAM LIVE— Ada kata yang tampak sederhana, tapi menyimpan ketegasan yang hampir tak tertandingi: ahad. Dalam percakapan sehari-hari, ia bisa berarti “satu”. Namun dalam kedalaman bahasa Arab, terutama ketika ia muncul dalam Al-Qur’an, aḥad bukan sekadar angka. Ia adalah pernyataan yang menutup semua kemungkinan lain.

Di zaman ketika segala sesuatu bisa dihitung, diukur, dan dibandingkan, kata “satu” terasa biasa saja. Satu dari dua, satu dari banyak, satu di antara pilihan. Tapi ahad tidak bekerja seperti itu. Ia tidak membuka ruang perbandingan. Ia justru menutupnya.

Makna ini mulai terasa ketika kita melihat bagaimana kata ahad digunakan dalam bentuk penyangkalan. Dalam bahasa Arab, jika seseorang berkata: 

“Tidak ada seorang pun di rumah,”

Maka yang digunakan adalah ahad. Ungkapan ini tidak hanya berarti “tidak ada satu orang,” tetapi lebih jauh: tidak ada siapa pun baik satu, dua, maupun lebih, tidak secara bersama-sama, tidak pula secara terpisah. Ia menyapu bersih seluruh kemungkinan kehadiran.

Al-Qur’an menggunakan bentuk ini dengan ketegasan yang sama:

فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang dapat menghalangi (azab-Nya).” (QS. Al-Haqqah: 47)

Kalimat ini tidak memberi celah. Bukan hanya “tidak ada yang mampu,” tetapi benar-benar tidak ada siapa pun dan dalam jumlah berapa pun yang bisa menjadi penghalang. Ahad di sini bekerja sebagai penafian total.

Menariknya, justru karena sifatnya yang menyapu bersih itulah, ahad hampir tidak pernah digunakan dalam bentuk penegasan biasa. Ia tidak cocok untuk mengatakan “ada satu orang di rumah,” karena maknanya terlalu luas untuk sekadar menunjuk angka. Dalam logika bahasa, meniadakan dua hal yang berlawanan masih mungkin, tetapi menetapkan keduanya sekaligus justru menjadi mustahil. Karena itu, ahad dalam bentuk afirmatif menjadi sangat terbatas penggunaannya.

Namun bukan berarti ia tidak pernah digunakan dalam penegasan. Dalam beberapa konteks, ahad muncul sebagai bagian dari bilangan, seperti “sebelas” (ahada ‘asyara) atau “dua puluh satu”. Di sini, ia kembali menjadi angka atau bagian dari sistem hitung yang lebih besar.

Baca Juga:  Lafazh `Ajr Hanya Bagi Mereka yang Tak Dapat Dibayar Oleh Dunia

Ia juga bisa muncul dalam bentuk yang lebih sehari-hari, seperti dalam ungkapan:

أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا
“Adapun salah seorang dari kalian, ia akan memberi minum tuannya…” (QS. Yusuf: 41)

Dalam konteks ini, ahad berarti “salah satu” masih dalam wilayah yang bisa kita pahami sebagai bagian dari banyak kemungkinan.

Kita bahkan mengenalnya dalam nama hari: Yaum al-Aḥad, hari pertama yang dalam bahasa kita menjadi Ahad atau Minggu. Di sini, aḥad kembali menjadi “yang pertama”, bagian dari urutan waktu yang terus berulang.

Namun semua makna itu seakan runtuh, atau justru mencapai puncaknya, ketika aḥad digunakan untuk menyebut Tuhan.

Al-Qur’an menyatakan dengan sangat singkat, tapi mengguncang:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Di titik ini, ahad tidak lagi berarti “satu” dalam arti angka. Ia bukan “satu di antara yang lain”, bukan pula “yang pertama dari beberapa”. Ia adalah “satu” yang meniadakan semua kemungkinan adanya yang kedua.

Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata ini berasal dari akar yang sama dengan wāḥid (satu), tetapi mengalami pergeseran makna yang sangat penting. Wāhid masih bisa digunakan untuk selain Tuhan, untuk satu orang, satu benda, satu entitas di antara banyak. Bahkan dalam syair Arab kuno, kata itu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sendirian di tempat sunyi.

Namun ahad, ketika digunakan secara mutlak tanpa tambahan apa pun, menjadi eksklusif. Ia hanya layak untuk Allah SWT. Karena ia tidak sekadar menunjukkan kesatuan, tetapi juga penafian total terhadap segala bentuk sekutu.

Baca Juga:  Pada Akhirnya, Hidup Bukan Tentang Memiliki, Tetapi Tentang Siap Kehilangan 

Dengan kata lain, ahad bukan hanya tentang “jumlah”, tetapi tentang “ketiadaan tandingan”.

Di sinilah keunikan kata ini terasa. Ia bekerja di dua arah sekaligus: meniadakan dan menegaskan. Dalam bentuk negatif, ia menghapus seluruh kemungkinan. Dalam bentuk afirmatif yang khusus, ia menetapkan satu-satunya realitas yang tidak memiliki pembanding.

Bagi pembaca modern, ini mungkin terdengar seperti permainan bahasa. Namun sebenarnya, ini adalah cara Al-Qur’an membentuk cara berpikir. Bahwa tidak semua “satu” itu sama. Ada “satu” yang masih bisa dibandingkan, dan ada “satu” yang justru menghapus semua perbandingan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering terjebak pada logika angka. Kita membandingkan: siapa lebih baik, siapa lebih besar, siapa lebih penting. Bahkan dalam hal yang paling spiritual sekalipun, kita kadang masih membawa logika kompetisi.

Padahal konsep ahad mengajarkan sesuatu yang berbeda: ada realitas yang tidak bisa dibandingkan sama sekali.

Kesadaran ini membawa implikasi yang halus tapi dalam. Jika Tuhan adalah Ahad yang tunggal tanpa tandingan, maka segala sesuatu selain-Nya berada dalam wilayah yang relatif. Tidak ada yang benar-benar mutlak, tidak ada yang sepenuhnya berdiri sendiri.

Mungkin karena itulah, kata ini ditempatkan di awal surat yang sangat pendek, tetapi sangat mendasar. Ia seperti pintu masuk bagi cara pandang yang baru: bahwa di balik keragaman dan kompleksitas hidup, ada satu pusat yang tidak terbagi.

Dan dari sana, semua hal mendapatkan maknanya.

Pada akhirnya, ahad bukan sekadar kata. Ia adalah cara melihat dunia. Ia mengajarkan bahwa tidak semua “satu” adalah angka, sebagian adalah penegasan, sebagian lagi adalah penafian. Dan di antara keduanya, ada satu makna yang paling sunyi: bahwa ada Yang Tunggal, yang tidak bisa dibandingkan, tidak bisa dibagi, dan tidak bisa digantikan.

Di tengah dunia yang penuh perbandingan, mungkin justru di situlah letak ketenangan.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA