ISLAM LIVE- Rasanya, kalau menulis soal politik Al-Farabi, pasti banyak pertanyaan. Tapi singkat saja, kali ini, penulis ingin memulai dengan pertanyaan: Mengapa Politik Dimulai dari kacamata Biologi?. Lagi-lagi, penulis menduga bahwa masih banyak pembaca merasa heran ketika membuka kitab Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah.
Mengingatkan kembali bahwa kitab ini adalah sebuah karya yang berbicara tentang negara ideal, yang ternyata tidak langsung membahas hukum, pemerintahan, ataupun strategi politik, melainkan justru memulai pembahasannya dari tubuh manusia: jantung, otak, daya-daya jiwa, bahkan mekanisme mimpi. Akan tetapi, di sinilah letak kejeniusan metafisika politik Al-Farabi.
Politik baginya, tidak dapat dipahami hanya sebagai sistem kekuasaan, melainkan sebagai refleksi dari keteraturan kosmos dan keteraturan manusia itu sendiri. Kota adalah gambaran tubuh, sedangkan tubuh adalah gambaran alam semesta yang tersusun secara hierarkis.
Karena itu, sebelum menjelaskan bagaimana sebuah negara harus dipimpin, Al-Farabi terlebih dahulu menjelaskan bagaimana manusia dibentuk. Ia memulai dari jisim sebagai materi fisik yang perlahan dipersiapkan untuk menerima bentuk dan kesempurnaan.
Dalam kerangka ini, jiwa bukan unsur yang berdiri terpisah dari tubuh, melainkan kesempurnaan yang membuat tubuh menjadi hidup dan bergerak menuju tujuan akhirnya. Tubuh tidak dipandang sebagai penjara jiwa, tetapi sebagai instrumen yang memungkinkan jiwa mencapai kesempurnaan intelektualnya.
Proses pembentukan manusia dalam pemikiran Al-Farabi berlangsung secara bertahap. Organ pertama yang muncul adalah jantung, sebab jantung merupakan pusat kehidupan dan sumber pengaturan seluruh tubuh. Dari pusat inilah kemudian lahir berbagai daya yang menopang eksistensi manusia. Setiap daya memiliki kedudukan tertentu dalam struktur hierarkis jiwa. Al-Farabi menggambarkan hubungan tersebut melalui analogi materi dan bentuk yang saling bertingkat:
فالغاذية الرئيسة شبه المادة للقوة الحاسة الرئيسة، و الحاسة صورة في الغاذية. و الحاسة الرئيسة شبه مادة للمتخيلة، و المتخيلة صورة في الحاسة الرئيسة. و المتخيلة الرئيسة مادة للناطقة الرئيسة، و الناطقة صورة في المتخيلة
“Maka, daya nutritif pemimpin adalah serupa materi bagi daya sensorik pemimpin, dan sensorik adalah ‘forma’’ dalam daya nutritif. Dan daya sensorik pemimpin adalah serupa materi bagi daya imajinatif, dan imajinatif adalah ‘forma’ dalam daya sensorik pemimpin. Dan imajinatif pemimpin adalah materi bagi daya rasional pemimpin, dan rasional adalah ‘forma’ dalam daya imajinatif.” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 87)
Kutipan ini memperlihatkan bahwa bagi Al-Farabi, jiwa manusia bergerak secara progresif dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang paling sempurna. Daya nutritif menjadi fondasi bagi daya sensorik, sensorik menjadi landasan bagi imajinasi, dan imajinasi menjadi pijakan bagi rasio. Dengan demikian, setiap tingkat eksistensi menjadi ‘materi’ bagi tingkat yang lebih tinggi. Manusia tidak langsung menjadi makhluk rasional, tetapi tumbuh melalui tahapan-tahapan ontologis yang saling melengkapi. Dari sini tampak bahwa tubuh dan jiwa memiliki relasi organis yang sangat erat.
Al-Farabi bahkan menggunakan istilah-istilah politik untuk menjelaskan struktur tubuh manusia. Ada organ yang menjadi “pemimpin”, ada pula yang berfungsi sebagai “pelayan”. Jantung diposisikan sebagai pusat utama yang mengatur keseluruhan tubuh, sedangkan organ-organ lain menjalankan fungsi-fungsi pelayanan demi menjaga keseimbangan hidup. Bahkan otak, yang dalam pandangan modern sering dianggap pusat kesadaran, dalam sistem Al-Farabi justru bertugas membantu dan menyeimbangkan kerja jantung. Analogi ini kemudian menjadi dasar bagi teori politiknya: sebagaimana tubuh membutuhkan satu pusat kepemimpinan agar tetap harmonis, demikian pula negara membutuhkan pemimpin utama yang mampu mengatur seluruh elemen masyarakat.
Di atas struktur biologis tersebut, Al-Farabi kemudian menjelaskan tentang daya-daya jiwa manusia. Daya nutritif berfungsi mempertahankan kehidupan materi. Setelah itu muncul daya sensorik yang memungkinkan manusia menangkap dunia luar melalui pancaindra. Dari pengalaman indrawi ini lahir daya imajinatif (al-mutakhayyilah), yaitu kemampuan menyimpan, menyusun, dan mengombinasikan citra-citra yang diperoleh indra. Daya inilah yang juga memainkan peranan penting dalam mimpi dan simbolisme kenabian. Namun seluruh daya tersebut belum mencapai puncaknya sebelum hadir daya rasional (al-nathiqah), yaitu kemampuan berpikir abstrak yang menjadi pembeda utama antara manusia dan hewan.
Bagi Al-Farabi, kesempurnaan manusia tidak berhenti pada kemampuan berpikir biasa. Daya rasional harus bergerak dari keadaan potensial menuju aktual. Proses aktualisasi ini hanya mungkin terjadi melalui hubungan dengan Akal Aktif (al-‘Aql al-Fa‘al), suatu realitas metafisis yang memberikan cahaya intelektual kepada manusia. Dengan bantuan Akal Aktif, manusia mampu memahami hakikat-hakikat universal dan melepaskan diri dari keterikatan penuh terhadap materi.Tujuan akhir perjalanan tersebut adalah kebahagiaan (sa‘adah). Akan tetapi, kebahagiaan dalam pandangan Al-Farabi bukanlah kenikmatan fisik atau kepuasan indrawi, melainkan keadaan ketika jiwa mencapai kesempurnaan eksistensialnya sehingga tidak lagi bergantung pada tubuh material.
“و ذلك هو السعادة. و هي أن تصير نفس الانسان من الكمال في الوجود إلى حيث لا تحتاج في قوامها إلى مادة، و ذلك أن تصير في جملة الأشياء البريئة عن الأجسام.”
“Dan itulah kebahagiaan. Yaitu keadaan di mana jiwa manusia menjadi sempurna dalam eksistensinya sampai pada titik di mana ia tidak lagi membutuhkan materi dalam kelangsungan hidupnya, yaitu ia menjadi bagian dari entitas-entitas yang bebas dari tubuh.” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 100-101)
Dalam teks ini, menunjukkan bahwa seluruh perjalanan manusia sesungguhnya adalah proses transendensi. Manusia lahir dalam dunia materi, tetapi ia tidak boleh berhenti pada materialitas. Tubuh hanyalah tahapan awal menuju eksistensi intelektual yang lebih tinggi. Karena itu, proses muncul dan hancurnya sesuatu dalam alam materi (kawn wa al-fasād) bukan hanya sebatas proses biologis berupa lahir dan mati, melainkan perjalanan ontologis dari keberadaan material menuju kesempurnaan spiritual.
Pada titik ini, pembahasan Al-Farabi mulai memasuki dimensi politik secara lebih jelas. Kehidupan bernegara tidak dapat dipisahkan dari kualitas jiwa manusia. Negara yang baik hanya mungkin dibangun oleh manusia-manusia yang mampu mengendalikan dorongan-dorongan rendahnya melalui rasio. Al-Farabi membedakan secara tegas antara kehendak biasa (iradah) dan pilihan rasional (ikhtiyar). Kehendak dapat lahir dari dorongan indrawi atau imajinasi, tetapi pilihan sejati hanya muncul melalui pertimbangan akal.
“فان كان ذلك (النزوع) عن احساس أو تخيّل، سمي بالاسم العام و هو الارادة؛ و إن كان ذلك عن رويّة أو عن نطق في الجملة، سمي الاختيار.”
“Maka jika hasrat tersebut berasal dari pencerapan indra atau imajinasi, ia disebut dengan nama umum yaitu ‘Kehendak’ (iradah); namun jika hal itu berasal dari proses pemikiran atau dari penalaran secara umum, ia disebut ‘Pilihan’.” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 100)
Melalui konsep ini, Al-Farabi ingin menegaskan bahwa masyarakat utama adalah masyarakat yang tindakan-tindakannya diguide oleh rasio, bukan semata-mata oleh hasrat. Pemimpin ideal bukan hanya penguasa administratif, melainkan sosok yang telah mencapai kesempurnaan intelektual dan mampu membimbing masyarakat menuju kebahagiaan sejati. Sebaliknya, negara yang rusak adalah negara yang dikuasai oleh dorongan-dorongan rendah: kerakusan, ambisi, dan kesenangan indrawi.
Dengan demikian, metafisika organik Al-Farabi memperlihatkan bahwa politik sejatinya berakar pada struktur ontologis manusia. Negara bukan sekadar kontrak sosial, tetapi organisme hidup yang mencerminkan susunan jiwa manusia itu sendiri. Sebagaimana tubuh membutuhkan harmoni antara jantung, otak, dan seluruh organ agar tetap hidup, demikian pula masyarakat membutuhkan keteraturan hierarkis agar dapat mencapai kebahagiaan bersama.
Akhirnya, Al-Farabi seakan-akan ingin mengatakan bahwa perjalanan manusia dimulai dari jisim, tetapi tidak boleh berakhir di sana. Materi hanyalah permulaan. Jiwa harus bergerak melampaui keterbatasan tubuh menuju kesempurnaan intelektual yang abadi. Dari sinilah politik memperoleh dimensi metafisiknya: negara ideal bukan hanya tempat manusia hidup, tetapi ruang di mana jiwa diarahkan menuju kesempurnaan eksistensialnya.
