ISLAM LIVE – Manusia sering melihat dunia sebagai sesuatu yang sudah selesai.
Kita melihat pohon sebagai pohon. Meja sebagai meja. Tubuh sebagai tubuh. Diri kita sebagai “aku”.
Padahal kalau dipikir lebih jauh, hampir tidak ada hal yang benar-benar tetap. Kayu bisa menjadi meja, lalu lapuk menjadi tanah. Benih berubah menjadi pohon. Tubuh manusia terus berubah tanpa kita sadari. Bahkan pikiran dan kepribadian kita hari ini tidak sepenuhnya sama dengan beberapa tahun lalu.
Lalu muncul satu pertanyaan yang sangat tua, tetapi tetap menarik sampai sekarang:
bagaimana sesuatu bisa berubah menjadi sesuatu yang lain?
Dalam tradisi filsafat Islam, pertanyaan ini melahirkan pembahasan panjang tentang satu konsep penting yang disebut hayula.
Bagi sebagian orang, istilah ini terdengar rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal sebenarnya ia berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan pengalaman manusia: kemungkinan untuk berubah.
Secara etimologis, kata hayula berasal dari bahasa Yunani hyle, yang berarti bahan dasar atau materi. Istilah ini berasal dari pemikiran Aristotle yang menjelaskan bahwa segala sesuatu tersusun dari dua unsur utama: materi dan bentuk.
Materi adalah sesuatu yang menerima bentuk. Sedangkan bentuk adalah identitas yang membuat sesuatu menjadi “apa adanya”.
Kayu bisa menjadi kursi. Tanah liat bisa menjadi vas. Besi bisa menjadi pedang.
Bahannya tetap ada, tetapi bentuknya berubah.
Di sinilah konsep hayula mulai dipahami sebagai materi dasar yang memiliki potensi untuk menerima berbagai bentuk.
Namun menariknya, hayula bukan benda yang bisa dilihat langsung. Ia bukan seperti batu, kayu, atau air yang bisa disentuh. Dalam filsafat, hayula lebih seperti kemungkinan murni—sesuatu yang belum memiliki bentuk tertentu, tetapi siap menjadi apa saja.
Karena itu, dalam tradisi filsafat, hayula sering disebut sebagai prime matter atau materi pertama.
Dan mungkin di titik ini pembahasannya mulai terasa lebih dalam.
Sebab hayula sebenarnya bukan cuma soal benda. Ia berbicara tentang cara manusia memahami perubahan itu sendiri.
Konsep ini masuk ke dunia Islam melalui gerakan penerjemahan besar-besaran karya Yunani pada masa Islamic Golden Age. Para filsuf Muslim menerjemahkan istilah hyle menjadi hayula, lalu mengembangkannya dalam kerangka metafisika Islam.
Tetapi mereka tidak sekadar menyalin pemikiran Yunani begitu saja.
Al-Farabi dan Ibn Sina mulai menjelaskan hayula sebagai substansi paling dasar yang belum memiliki bentuk tertentu, tetapi memiliki potensi untuk menerimanya.
Menurut Ibn Sina, manusia sebenarnya tidak pernah melihat hayula secara murni. Semua benda yang kita lihat sudah memiliki bentuk. Karena itu, hayula lebih merupakan konsep filosofis untuk menjelaskan mengapa perubahan bisa terjadi.
Kalau tidak ada sesuatu yang menerima bentuk baru, maka perubahan menjadi sulit dipahami.
Bagaimana kayu menjadi abu? Bagaimana susu menjadi keju? Bagaimana benih berubah menjadi pohon?
Semua itu menunjukkan bahwa realitas tidak diam.
Dan mungkin tanpa sadar, manusia modern sebenarnya hidup di tengah dunia yang sangat “hayula”.
Teknologi berubah. Identitas sosial berubah. Cara berpikir berubah. Hubungan manusia berubah. Bahkan pekerjaan yang hari ini dianggap penting, besok bisa hilang.
Dunia terus bergerak menjadi sesuatu yang lain.
Masalahnya, manusia sering tetap ingin hidup dalam kepastian yang beku. Kita ingin segala sesuatu stabil, tetap, dan tidak berubah. Padahal realitas justru bekerja melalui perubahan.
Di titik ini, konsep hayula terasa jauh lebih relevan daripada yang dibayangkan.
Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu pada dasarnya memiliki potensi untuk menjadi bentuk lain.
Dan pemikiran ini berkembang semakin dalam dalam filsafat Mulla Sadra melalui konsep al-harakat al-jawhariyyah atau gerak substansial.
Menurut Mulla Sadra, perubahan bukan cuma terjadi pada permukaan benda, tetapi pada substansinya sendiri. Seluruh realitas material terus bergerak dan berubah secara esensial.
Artinya, keberadaan bukan sesuatu yang diam. Keberadaan adalah proses.
Pandangan ini terasa sangat menarik jika dikaitkan dengan kehidupan manusia.
Kita sering menganggap diri kita sebagai identitas yang tetap: “aku memang begini.” “aku orangnya seperti ini.” “hidupku memang seperti ini.”
Padahal manusia sebenarnya selalu berada dalam proses menjadi.
Seseorang bisa berubah karena pengalaman. Bisa tumbuh karena luka. Bisa matang karena kehilangan. Bisa runtuh lalu lahir kembali dengan cara pandang yang berbeda.
Dalam arti tertentu, manusia juga memiliki “hayula” dalam dirinya—potensi yang belum sepenuhnya selesai.
Karena itu filsafat Islam tidak melihat manusia sebagai makhluk yang statis. Manusia dipahami sebagai keberadaan yang memiliki kemungkinan untuk berkembang menuju kesempurnaan tertentu.
Dan mungkin di sinilah pembahasan hayula menjadi terasa lebih eksistensial.
Ia bukan lagi sekadar teori tentang materi.
Ia menjadi cara memahami hidup.
Bahwa di balik setiap bentuk yang kita lihat hari ini, selalu ada kemungkinan lain yang belum sepenuhnya terwujud.
Bahwa manusia tidak lahir dalam keadaan selesai.
Bahwa hidup sendiri adalah proses menerima bentuk demi bentuk, lalu berubah lagi menjadi sesuatu yang baru.
Mungkin karena itu filsafat selalu menarik. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan.
Ia mencoba melihat kemungkinan tersembunyi di balik segala sesuatu.
Dan mungkin, di balik diri kita yang sekarang pun, masih ada banyak bentuk lain yang belum sempat lahir.
