ISLAMLIVE- Tidak semua penolakan itu sama. Dalam bahasa Arab, ada imtinā‘ امتناع, sekadar tidak melakukan sesuatu, menahan diri tanpa gejolak. Tetapi ada pula ibā’ اباء penolakan yang lebih dalam, lebih tegas, seakan lahir dari keputusan batin yang bulat.
Di titik ini, penolakan bukan lagi sekadar “tidak mau”, tetapi “tidak akan” sebuah sikap yang membawa bobot makna, bahkan risiko.
Dalam tradisi bahasa Arab klasik, ibā’ dipahami sebagai syiddat al-imtinā‘ penolakan dalam tingkat yang paling kuat. Ia bukan penolakan biasa. Ada keteguhan di dalamnya, kadang juga kerasnya sikap yang tidak mudah dilunakkan.
Al-Qur’an menggunakan kata ini dengan nuansa yang halus namun tegas. Dalam satu ayat disebutkan:
وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ
“Dan Allah enggan (menolak) kecuali menyempurnakan cahaya-Nya…” (QS. At-Taubah: 32)
Kata ya’bā di sini “enggan” tidak menunjukkan keraguan, melainkan kepastian yang tak bisa diganggu. Seolah mengatakan bahwa ada kehendak Ilahi yang tidak memberi ruang bagi kegagalan. Penolakan di sini justru adalah bentuk keteguhan yang sempurna.
Namun, makna ibā’ menjadi sangat berbeda ketika muncul dalam kisah lain. Al-Qur’an menggambarkan sikap Iblis:
أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“…ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Di sini, abā “enggan” tidak lagi netral. Ia berdampingan dengan istakbara (menyombongkan diri). Penolakan itu bukan karena keteguhan pada kebenaran, tetapi karena keangkuhan. Ia tahu, namun tetap menolak. Ia mengerti, tetapi memilih berpaling.
Di sinilah ibā’ berubah wajah: dari keteguhan menjadi pembangkangan.
Nabi Muhammad saw pernah menggambarkan nuansa ini dengan sangat lembut namun tajam. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”
Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku, ia masuk surga. Dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang enggan.”
Kata “enggan” di sini bukan sekadar tidak mau. Ia adalah penolakan sadar terhadap jalan yang sudah jelas. Sebuah sikap batin yang pelan-pelan menjauhkan seseorang dari kebaikan.
Namun, tidak semua ibā’ bernuansa gelap.
Dari akar kata yang sama, lahir istilah abiyy seseorang yang menolak tunduk pada kehinaan. Ia tidak mau menerima perlakuan yang merendahkan martabatnya. Dalam makna ini, ibā’ justru terasa mulia: ia menjadi penjaga harga diri, batas yang tidak rela dilanggar.
Penolakan seperti ini tidak lahir dari kesombongan, tetapi dari kesadaran akan nilai diri.
Menariknya, dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata ini juga digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang lebih naluriah. Disebutkan tentang seekor kambing gunung betina arwā yang pernah meminum air tercemar, lalu menjadi “enggan” untuk meminumnya kembali.
Di sini, “enggan” bukan sikap moral, tetapi insting perlindungan. Sebuah penolakan yang lahir dari pengalaman, untuk menjaga diri dari bahaya yang sama.
Dari berbagai lapisan ini, kita melihat bahwa ibā’ bukan sekadar kata. Ia adalah cermin keadaan batin.
Ia bisa menjadi tanda integritas ketika seseorang menolak tunduk pada yang salah.
Namun ia juga bisa menjadi bayang kesombongan ketika seseorang menolak kebenaran yang sudah nyata.
Di tengah kehidupan yang penuh pilihan, memahami perbedaan ini menjadi penting.
Tidak semua penolakan adalah keberanian.
Dan tidak semua keteguhan adalah kebenaran.
Barangkali, yang perlu kita tanyakan bukan hanya: apa yang kita tolak?
Tetapi juga: mengapa kita menolak?
Apakah ia lahir dari kejernihan hati
atau justru dari keengganan untuk merendah dan menerima kebenaran?
Karena di antara “tidak mau” dan “tidak akan”,
selalu ada satu ruang sunyi
tempat niat dan kesombongan sering kali tampak serupa.
