ISLAM LIVE – Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Hujjatul Islam Al Ghazali menulis sebuah Riwayat dari sabda Rasulallah:
“Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal.” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama su’ (buruk).”
Hadis yang dinukil Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah ini juga telah diriwayatkan pula oleh Abi Dawud dengan sanad yang shahih.
Dalam penjelasannya, Al-Ghazali menggambarkan bahwa ada sosok yang menurut Rasulullah saw justru lebih berbahaya daripada Dajjal, yaitu ulama yang menyalahgunakan agama.
Ketika tulisan ini hendak dibuat, kebetulan penulis membaca sebuah berita tentang seorang kiai pemilik pondok pesantren di Pati yang ditangkap polisi karena diduga melakukan kekerasan seksual terhadap puluhan santriwatinya.
Membaca berita seperti itu membuat sabda Nabi terasa begitu relevan dengan keadaan hari ini. Kekhawatiran Rasulullah 14 abad lalu tampak benar-benar nyata di tengah masyarakat modern. Ada sebagian orang yang memakai simbol agama bukan untuk membimbing umat, melainkan demi mencari keuntungan, kekuasaan, popularitas, dan posisi sosial.
Hari ini media sosial hampir setiap pekan dipenuhi berita negatif tentang tokoh agama. Mulai dari kasus pencabulan, penipuan, kekerasan, perselingkuhan, hingga gaya hidup mewah yang dipamerkan di tengah kondisi para pengikutnya yang hidup serba kekurangan.
Akibatnya, istilah seperti “kiai”, “gus”, “habib”, atau “ustaz” di mata sebagian masyarakat mulai kehilangan wibawa moralnya. Padahal Indonesia sering disebut sebagai salah satu bangsa paling religius di dunia. Ironisnya, religiusitas masyarakat tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan terhadap figur agama.
Namun kesan buruk masyarakat terhadap sebagian ulama tidak perlu langsung dianggap sebagai bentuk kebencian kepada agama. Bisa jadi itu adalah kritik sosial terhadap otoritas keagamaan yang gagal mencerminkan nilai-nilai ideal yang selama ini mereka sampaikan.
Masyarakat sebenarnya tidak membenci agama. Mereka kecewa terhadap perilaku sebagian orang yang menjadikan agama sebagai alat pencitraan.
Murahnya Gelar Keagamaan
Salah satu penyebab buruknya citra ulama hari ini adalah terlalu mudahnya gelar agama diberikan kepada orang yang sebenarnya belum layak menyandangnya.
Di beberapa negara Islam, proses menjadi ulama memerlukan perjalanan panjang dan disiplin ilmu yang ketat.
Di Iran misalnya, seseorang yang ingin menjadi ulama tingkat dasar harus menghafal Al-Qur’an, memahami dasar-dasar fikih, mempelajari ilmu bahasa Arab, ushul fikih, logika, hingga menghafal hadis beserta sanadnya.
Sementara di Indonesia, sering kali status tokoh agama bisa diperoleh secara instan. Punya uang banyak, membangun pesantren, sering tampil di media sosial, atau baru pulang haji saja kadang sudah cukup untuk dipanggil “kiai” atau “ustaz”.
Tentu tidak semua demikian. Banyak ulama besar di Indonesia yang benar-benar alim, zuhud, dan mengabdikan hidupnya untuk umat. Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada sebagian orang yang memanfaatkan simbol agama demi kepentingan pribadi.
Fenomena inilah yang kemudian melahirkan banyak “ulama su’”, yaitu orang-orang yang memakai agama sebagai alat manipulasi.
Tidak sedikit pula paranormal, dukun, atau tokoh mistik yang membungkus praktik-praktik aneh mereka dengan label agama dan ilmu hikmah.
Ada yang mengaku memiliki ilmu kesaktian, bisa berbicara dengan jin, mengetahui alam ghaib, menjaga pintu neraka, bahkan mengaku punya khadim makhluk-makhluk mistis tertentu.
Padahal ajaran seperti itu jauh dari nilai hikmah dan akhlak Islam yang sebenarnya.
Ketika ulama palsu semakin banyak, maka yang menjadi korban pertama adalah umat.
Masyarakat menjadi bingung membedakan mana ajaran Islam yang murni dan mana yang sudah dipakai untuk kepentingan pribadi.
Akibatnya, sebagian orang mulai menjauh dari agama. Mereka kecewa, lalu memilih menjadi apatis, sekuler, bahkan agnostik karena merasa agama hanya melahirkan kemunafikan.
Padahal masalahnya bukan pada agama, melainkan pada oknum yang menyalahgunakan agama.
Ad-Darimi meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa suatu ketika beliau ditanya tentang tanda-tanda kehancuran masyarakat. Ia menjawab singkat:
“Jika ulama mereka telah rusak.” (HR. Ad Darimi).
Ucapan ini sangat dalam maknanya. Sebab baik buruknya masyarakat sering kali bergantung pada kualitas para pembimbing moralnya.
Jika ulama hidup sederhana, jujur, dan konsisten memegang Al-Qur’an serta Sunnah Nabi, maka masyarakat akan cenderung tenang dan terarah. Namun jika ulama justru sibuk mengejar kekayaan, popularitas, dan kemewahan dunia, maka masyarakat perlahan kehilangan arah.
Karena itu, masyarakat juga perlu memiliki kontrol sosial dan wawasan agama yang cukup. Jangan mudah terpukau hanya karena seseorang memakai jubah mahal, berbicara fasih, atau memiliki banyak pengikut.
Penampilan religius bukan jaminan seseorang benar-benar alim.
Kemampuan berbicara juga bukan bukti seseorang memiliki akhlak yang baik.
Di zaman media sosial seperti sekarang, pencitraan jauh lebih mudah dibuat dibandingkan membangun integritas yang sesungguhnya.
Masyarakat harus lebih kritis dalam memilih guru agama. Jangan sampai menjadikan popularitas sebagai ukuran utama kebenaran.
Membedakan Ulama yang benar dan Ulama yang Buruk
Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq, salah satu ulama besar dari keluarga Nabi Muhammad saw, pernah menjelaskan ciri-ciri ulama yang layak dijadikan panutan, riwayat ini dinukil oleh Allamah Al Majlisi dalam Kitabnya Bihar Al Anwar:
“Seorang ulama yang berakal adalah orang yang merendah ketika menjawab, sederhana dalam berbicara, tegas terhadap kebatilan, tutur katanya menyenangkan, meninggalkan dunia tetapi tidak meninggalkan agama, benar dalam bicara dan benar dalam bertindak.” (HR Allamah Majlisi)
Nasihat Imam Ja’far Ash Shadiq ini terasa sangat relevan untuk kondisi hari ini.
Ulama sejati bukanlah mereka yang paling keras suaranya, paling mewah penampilannya, atau paling viral di media sosial. Ulama sejati adalah mereka yang menjaga ilmunya dengan akhlak.
Ia tidak haus pujian. Tidak menjadikan agama sebagai alat mencari kekayaan. Tidak memanfaatkan jamaah untuk kepentingan pribadi.
Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin luas pengetahuannya, semakin hati-hati lisannya.
Karena itu, masyarakat perlu belajar membedakan antara ulama yang membimbing umat dengan ulama yang menjadikan umat sebagai pasar.
Sebab kerusakan yang ditimbulkan oleh ulama su’ jauh lebih berbahaya daripada kerusakan yang dilakukan orang awam. Jika orang biasa berbuat salah, dampaknya mungkin hanya kecil. Namun jika tokoh agama yang rusak, maka yang rusak bisa satu generasi.
Agama kehilangan wibawa. Kepercayaan publik runtuh. Dan pada akhirnya, masyarakat menjauh dari nilai-nilai spiritual yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.
Inilah mengapa Rasulullah saw begitu mengkhawatirkan keberadaan ulama su’ ketimbang Dajjal.
Karena kerusakan orang memakai jubah agama sering kali jauh lebih parah ketimbang Dajjal yang memiliki stempel kafir di dahinya.*
