ISLAM LIVE – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kesepakatan kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi hanya akan disetujui apabila kerajaan tersebut menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Abraham Accords.
Pernyataan itu disampaikan di tengah proses finalisasi kerja sama nuklir antara Washington dan Riyadh. Trump juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengizinkan Arab Saudi melakukan pengayaan uranium. Penegasan itu disampaikan setelah sejumlah pakar nonproliferasi menyuarakan kekhawatiran bahwa kerja sama tersebut berpotensi membuka jalan bagi pengembangan uranium hingga tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
“The agreement will be approved, but is totally subject to Saudi Arabia joining the very respected and successful Abraham Accords,” tulis Trump melalui media sosial.
seperti lansiran gulfnews pada 24/07/26, Ia menambahkan, “The United States is not opposed to Civil (Non-Enriched) Nuclear Facilities.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Trump mengaitkan kerja sama nuklir dengan upaya memperluas Abraham Accords, yaitu kesepakatan yang mulai diperkenalkan pada 2020 untuk mendorong negara-negara Arab menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Sejauh ini, kesepakatan nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi masih dalam tahap penyelesaian. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan kerja sama itu hanya mencakup pengembangan fasilitas nuklir sipil tanpa memberikan izin bagi Arab Saudi untuk memperkaya uranium.
Trump sebelumnya juga menyatakan ingin melanjutkan perluasan Abraham Accords yang pada masa jabatan pertamanya berhasil menambah jumlah negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Persyaratan normalisasi tersebut kini menjadi bagian dari proses menuju persetujuan akhir kerja sama nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.
