Ketika Tanpa Sadar Kita Hanya Mengikuti Atau Meninggalkan “Jejak” Tak Bermakna

70 views

ISLAM LIVE— Di zaman yang serba cepat ini, manusia berlomba meninggalkan “jejak”. Kita ingin diingat, ingin dikenang, ingin ada sesuatu dari diri kita yang tetap tinggal ketika waktu terus berjalan. Media sosial penuh dengan rekam jejak digital, prestasi diukur dari “impact”, dan hidup seolah menjadi proyek besar untuk memastikan bahwa kita tidak hilang begitu saja. Tapi, apa sebenarnya “jejak” itu?

Dalam bahasa Arab klasik, kata atsar أثر menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bekas langkah. Ia adalah sesuatu yang menunjukkan keberadaan, tanda yang tersisa, bukti bahwa sesuatu pernah ada, pernah terjadi, pernah hidup. Jejak bukan sekadar sisa; ia adalah penanda eksistensi.

Al-Qur’an menggunakan kata ini dengan cara yang halus namun kuat. Dalam satu ayat disebutkan:

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا

kemudian Kami susulkan para rasul mengikuti jejak mereka” (QS. al-Hadīd: 27)

Jejak di sini bukan hanya langkah fisik, tetapi kesinambungan sejarah: risalah yang datang silih berganti, mengikuti jejak kebenaran yang sudah lebih dulu ada.

Di ayat lain, manusia diajak merenung: 

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ

maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah” (QS. ar-Rūm: 50)

Rahmat tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang kasatmata; ia bisa dikenali dari dampaknya seperti hujan yang menyuburkan tanah dan kehidupan yang kembali tumbuh setelah mati. Di sini, atsar menjadi cara untuk membaca yang tak terlihat melalui yang terlihat.

 Dengan demikian jejak adalah bahasa diam dari realitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, makna ini terasa dekat. Jalan setapak yang kita ikuti adalah “atsar” dari orang-orang yang lebih dulu berjalan. Dalam Al-Qur’an disebut:

 فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ

“mereka bergegas mengikuti jejak para pendahulu” (QS. aṣ-Ṣāffāt: 70) 

Kadang kita tidak sadar bahwa banyak pilihan hidup kita hanyalah kelanjutan dari jejak yang sudah ada: tradisi, kebiasaan, bahkan kesalahan yang diwariskan tanpa dipertanyakan.

Baca Juga:  Refleksi Hadis: Saat Jubah Agama Dipakai Menipu Umat

Di titik ini, atsar bukan hanya tentang meninggalkan jejak, tetapi juga tentang mengikuti jejak.

Menariknya, dalam tradisi bahasa Arab, jejak bisa sengaja dibuat. Ada kisah tentang seseorang yang menandai kaki untanya agar meninggalkan bekas di tanah yaitu sebuah tanda agar jejak itu bisa dikenali dan diikuti. Ini memberi kita gambaran bahwa tidak semua jejak terjadi secara alami; sebagian adalah hasil kesadaran, bahkan strategi.

Begitu pula dalam ilmu pengetahuan. Kata atsar digunakan untuk menggambarkan riwayat atau transmisi ilmu tentang sesuatu yang dituturkan, ditulis, dan diwariskan. Ketika seseorang meriwayatkan ilmu, ia sebenarnya sedang “mengikuti jejak” pengetahuan itu, memastikan bahwa ia tidak hilang. Dalam Al-Qur’an disebut:

 أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ

atau sisa pengetahuan yang masih tertinggal” (QS. al-Ahqāf: 4)

Ilmu, dalam arti ini, adalah jejak yang melintasi generasi.

Dari sini lahir istilah ma’āṯsir yang berarti jejak-jejak kebaikan yang dikenang dari seseorang. Bukan sekadar prestasi, tetapi nilai yang terus hidup dalam ingatan dan tindakan orang lain. Jejak semacam ini tidak selalu besar, tetapi ia bertahan.

Namun kata atsar tidak berhenti di sana. Ia juga melahirkan konsep i’tsār yaitu mengutamakan orang lain. Dalam Al-Qur’an digambarkan:

 وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ

mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri” (QS. al-Hasyr: 9)

Di sini, jejak berubah menjadi pilihan moral. Apa yang kita dahulukan, itulah yang akan meninggalkan bekas paling dalam.

Sebaliknya, ada juga makna yang lebih gelap: atsarah yang berarti sikap mementingkan diri sendiri, mengambil sesuatu hanya untuk diri tanpa peduli orang lain. Dalam sebuah hadis, Nabi mengingatkan:

Baca Juga:  Ketika Al-Qur’an Menggambarkan Infak sebagai Kebun di Dataran Tinggi

ستلقون بعدي أثرة فاصبروا

“kalian akan menjumpai setelahku sikap saling mementingkan diri sendiri, maka bersabarlah”

Jejak, dalam hal ini, bukan hanya tentang kebaikan yang ditinggalkan, tetapi juga tentang ketimpangan yang diwariskan.

Bahkan dalam ungkapan Arab, ketika seseorang wafat, dikatakan  استأثر الله بفلان “Allah telah mengambilnya untuk diri-Nya sendiri” sebuah bentuk istī’ṯār. Seolah kematian pun adalah bentuk “pengambilan khusus”, tanda bahwa seseorang dipisahkan dari dunia dan segala jejaknya di sini.

Di tengah semua itu, kita mulai melihat bahwa hidup sebenarnya adalah rangkaian jejak: jejak yang kita ikuti, jejak yang kita tinggalkan, dan jejak yang tanpa sadar kita wariskan.

Namun ada satu pertanyaan yang mengganggu: apakah semua jejak itu benar-benar bermakna?

Di era modern, kita sering terjebak pada jejak yang dangkal; angka, popularitas, rekam digital yang mudah hilang dalam arus informasi. Kita mengejar jejak yang terlihat, tetapi sering melupakan jejak yang terasa. Padahal Al-Qur’an justru mengarahkan perhatian pada “jejak rahmat”, sesuatu yang mungkin tidak spektakuler, tetapi menghidupkan.

Barangkali, masalahnya bukan pada keinginan meninggalkan jejak, tetapi pada cara kita memahaminya. Kita mengira jejak adalah sesuatu yang besar dan mencolok, padahal sering kali ia hadir dalam hal-hal kecil: kebaikan yang tak diketahui orang lain, keputusan yang mengubah arah hidup seseorang, atau ilmu yang terus diwariskan tanpa nama.

Pada akhirnya, atsar mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada sesuatu yang tertinggal, baik atau buruk, disadari atau tidak. Dan mungkin, yang paling penting bukanlah seberapa besar jejak itu, tetapi ke mana ia mengarah.

Sebab jejak, sekali ia tercipta, akan terus berbicara bahkan ketika kita sudah tidak lagi ada untuk menjelaskannya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA