Ketika Kebenaran Ditolak: Dari Tuduhan “Orang Gila” hingga Hijab Kesombongan

12 views

ISLAM LIVE – Ada satu pola yang terus berulang sepanjang sejarah. Ketika kebenaran datang mengguncang kenyamanan, manusia sering kali tidak membantahnya dengan argumen yang kuat. Sebaliknya, mereka menyerang pembawanya. Ia dituduh gila, pembohong, penyihir, bahkan dianggap ancaman bagi tatanan yang sudah mapan.

Fenomena ini bukan hanya milik masa lalu. Di era media sosial, politik, dan pertarungan ide hari ini, pola yang sama masih berlangsung. Ketika seseorang tidak mampu membantah sebuah gagasan, yang diserang justru orang yang menyampaikan gagasan itu. Al-Qur’an telah merekam gejala psikologis ini sejak lebih dari empat belas abad lalu.

Dalam Surah Al-Isra ayat 48, Allah menggambarkan sikap kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw.:

اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوْا لَكَ الْاَمْثَالَ فَضَلُّوْا فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَبِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka sesat dan tidak sanggup menemukan jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra: 48)

Ayat ini berbicara tentang satu penyakit yang sering menghalangi manusia melihat kebenaran: prasangka, fanatisme, dan keengganan menerima kenyataan yang bertentangan dengan kepentingannya.

Hijab yang Tak Terlihat

Sebelum ayat tersebut, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ada semacam “hijab” atau penghalang antara kaum kafir dan kebenaran. Allah swt berfirman:

وَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُوْرًا

“Dan apabila engkau membaca Al-Qur’an, Kami adakan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu dinding yang tertutup.” (QS. Al-Isra: 45)

Para mufasir menjelaskan bahwa hijab ini bukan sekadar penghalang fisik. Ia bisa berupa penghalang batin: kesombongan, fanatisme, kedengkian, atau ketakutan kehilangan kedudukan.

Seseorang bisa mendengar ayat yang sama, membaca bukti yang sama, menyaksikan fakta yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena hati telah lebih dulu menolak.

Inilah yang terjadi pada banyak penentang para nabi. Mereka tidak kekurangan bukti. Mereka hanya tidak ingin menerima konsekuensi dari kebenaran itu. Salah satu fenomena sejarah yang paling menghentak logika kita adalah ketika Nabi Muhammad saw dituduh gila karena membawa kebenaran yang sulit mereka sangkal.

Baca Juga:  Api yang Padam: Metafora Al-Qur’an tentang Kemunafikan di Era Pencitraan

Kaum Quraisy menghadapi persoalan besar. Mereka menyaksikan pribadi Muhammad saw yang jujur sejak muda. Mereka mengenalnya sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya. Namun ketika beliau membawa risalah tauhid, mereka tidak mampu menjawab kandungan Al-Qur’an.

Karena tidak sanggup membantah pesan yang dibawa Nabi, mereka mulai melancarkan berbagai tuduhan.

Kadang mereka mengatakan beliau seorang penyair. Di waktu lain mereka menyebutnya penyihir. Bahkan tidak jarang mereka menuduhnya gila.

Dalam budaya Arab jahiliyah, istilah “orang gila” sering dikaitkan dengan seseorang yang dianggap terkena gangguan makhluk gaib. Tuduhan itu bukan analisis ilmiah, melainkan upaya mendiskreditkan seseorang agar masyarakat tidak mendengarkan pesannya.

Ironisnya, tuduhan-tuduhan tersebut sering saling bertentangan. Penyihir membutuhkan kecerdasan tinggi. Penyair memerlukan kemampuan bahasa yang luar biasa. Sedangkan orang gila dianggap kehilangan akal sehat. Bagaimana mungkin seseorang sekaligus menjadi penyair ulung, penyihir hebat, dan orang gila?

Kontradiksi itu menunjukkan bahwa tuduhan tersebut bukan lahir dari pencarian kebenaran, melainkan dari kepanikan menghadapi kebenaran.

Ketika Kepentingan Menjadi Penghalang

Sejarah menunjukkan bahwa penolakan terhadap para nabi sering berakar pada kepentingan duniawi.

Para pemuka Quraisy khawatir kehilangan pengaruh sosial jika masyarakat menerima ajaran tauhid. Sistem yang selama ini menguntungkan mereka terancam runtuh. Karena itulah mereka memilih menyerang Nabi daripada mengkaji pesan yang dibawanya.

Fenomena ini tetap hidup hingga sekarang. Ketika sebuah gagasan mengancam status quo, orang sering memilih menyerang karakter pembawanya daripada mendiskusikan substansinya.

Dalam ilmu logika, praktik ini dikenal sebagai ad hominem: menyerang orangnya, bukan argumennya.

Al-Qur’an mengajak manusia keluar dari perangkap tersebut. Kebenaran tidak diukur dari siapa yang menyampaikannya, melainkan dari isi dan bukti yang dibawanya.

Baca Juga:  Pada Akhirnya, Hidup Bukan Tentang Memiliki, Tetapi Tentang Siap Kehilangan 

Pelajaran dari Keteguhan Rasulullah

Menariknya, berbagai tekanan itu tidak membuat Nabi Muhammad saw. mengubah misinya.

Ketika para pembesar Quraisy menawarkan harta, kedudukan, dan kekuasaan agar beliau menghentikan dakwahnya, Nabi menolak.

Dalam sebuah riwayat yang masyhur, beliau menyatakan bahwa sekalipun matahari diletakkan di tangan kanannya dan bulan di tangan kirinya, beliau tidak akan meninggalkan tugas yang diberikan Allah swt.

Pernyataan itu bukan sekadar ekspresi keberanian. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak dapat dibeli dengan keuntungan sesaat.

Bagi Nabi, dakwah bukan proyek politik dan bukan pula jalan mencari popularitas. Ia adalah amanah.

Cermin bagi Zaman Kita

Kisah kaum musyrik yang menuduh Nabi sebenarnya bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi setiap generasi.

Kadang kita menolak nasihat bukan karena nasihat itu salah, tetapi karena datang dari orang yang tidak kita sukai. Kadang kita menolak fakta karena bertentangan dengan keyakinan yang sudah lama kita bangun. Kadang kita lebih sibuk mencari kelemahan pembicara daripada memeriksa kebenaran ucapannya.

Padahal kebenaran sering datang dengan cara yang tidak kita duga.

Karena itu Al-Qur’an mengingatkan bahwa hambatan terbesar dalam menemukan kebenaran bukanlah kurangnya informasi, melainkan adanya “hijab” dalam hati. Hijab berupa kesombongan, fanatisme, dan keengganan mengoreksi diri.

Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Barang siapa di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi, Allah akan membangkitkannya bersama orang-orang jahiliyah.”

Pesan hadis ini sederhana namun dalam kesombongan intelektual dapat membuat seseorang gagal melihat kebenaran yang sebenarnya berada tepat di depan matanya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan Al-Qur’an kepada kaum musyrik sesungguhnya juga ditujukan kepada kita. Ketika kebenaran datang, apakah kita akan mendengarkannya dengan hati yang terbuka, atau justru membangun berbagai alasan untuk menolaknya?

Sebab sering kali, yang menghalangi manusia menemukan jalan bukanlah gelapnya kebenaran, melainkan tebalnya hijab yang ia bangun sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA