ISLAM LIVE – Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi dorong pembentukan konsorsium ekspor sebagai salah satu skema untuk membuka akses petani, peternak, nelayan, UMKM, dan pelaku industri nasional ke pasar kebutuhan haji dan umrah Arab Saudi. Konsorsium tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.
Skema ini akan dikoordinasikan oleh eksportir yang memiliki kompetensi dan kapasitas. Melalui konsorsium, produsen dan UMKM diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan pasar, sekaligus memperoleh kepastian pasar dan dukungan untuk menjaga kualitas serta kesinambungan pasokan.
“Kami ingin membangun ekosistem ekonomi haji yang inklusif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku industri nasional. Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra Arab Saudi, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen sekaligus pemasok utama kebutuhan haji dan umrah dunia,” ujarnya
Menurut Jaenal, konsorsium ekspor diharapkan dapat memperkuat kemampuan pelaku usaha nasional dalam memenuhi standar dan kebutuhan pasar Arab Saudi. Dengan adanya koordinasi dalam satu skema, kualitas produk dan kesinambungan pasokan dapat lebih terjamin.
Penguatan tersebut juga membutuhkan harmonisasi standar halal dan keamanan pangan. Langkah ini penting agar produk yang dihasilkan pelaku usaha nasional dapat memenuhi ketentuan yang berlaku di Arab Saudi sekaligus memiliki daya saing di pasar internasional.
Selain standardisasi, Jaenal mendorong pembangunan pusat logistik terpadu serta pengembangan sumber daya manusia dan transfer teknologi. Infrastruktur dan peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan pelaku usaha dalam menjalankan rantai pasok secara berkelanjutan.
Melalui konsorsium ekspor, Jaenal ingin memastikan manfaat pengembangan ekosistem ekonomi haji dapat dirasakan lebih luas oleh sektor domestik. Peluang tersebut mencakup petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku industri yang memiliki potensi menjadi bagian dari rantai pasok.
