Pesantren sebagai Sasaran Serangan Terorganisir PKI pada 1948

2 views
Oktober 1965: Sejumlah mahasiswa dari beberapa kelompok Islam dalam demonstrasi di jakarta menuntut pembubaran PKI.

ISLAM LIVE – Pesantren berada tepat di jantung pergolakan PKI, dua kali dalam dua momen berbeda, dengan luka yang saling menumpuk. Pada 1948 di Madiun, pemberontakan PKI bukan sekadar konflik ideologi, melainkan serangan terorganisir terhadap struktur sosial yang menopang kehidupan desa. Pesantren menjadi salah satu pilar utamanya.

Di Takeran, Magetan, Pesantren Sabilil Muttaqien menjadi sasaran utama. Kyai Imam Mursyid Muttaqien, seorang imam Tarekat Syattariyah yang masih berusia 28 tahun, diculik dari depan pendopo pesantrennya sendiri pada 17 September 1948, sehari setelah salat Jumat. Ia diajak bermusyawarah oleh tokoh-tokoh PKI.

Jenazahnya tidak pernah ditemukan hingga hari ini. Bersamanya, sedikitnya enam ulama dan pimpinan pesantren Takeran dibunuh. Sebagian ditemukan terkubur di sumur tua, sebagian lagi hilang tanpa jejak.

Baca Juga:  Program Indonesia Pintar Diperluas ke TK Mulai 2027

Yel-yel PKI saat itu terdokumentasi dengan mengerikan: “Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati.” Di Magetan saja, sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup. Pesantren Dagung, Burikan, dan Mojopurno semuanya menjadi korban.

Di Gontor, Kyai Imam Zarkasyi dan Kyai Ahmad Sahal terpaksa mengungsi ke Trenggalek bersama sekitar 70 santri. Mereka melewati Gunung Bayangkaki dan sempat dicegat gerombolan bersenjata yang mencurigai mereka sebagai anggota Hizbullah.

Namun yang jarang dicatat adalah bagaimana para kiai merespons. Mereka tidak membalas dengan senjata, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Di Sidoarjo, para kiai membentengi masyarakat dengan istighotsah, bermunajat bersama memohon perlindungan Allah. Mereka tidak mengorganisir pembalasan, melainkan menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

Baca Juga:  Keputusan Dewan Hakim: Kaltim Juara Umum MTQ Nasional XXXI 2026 Pilihan 4:

Di Rembang, Kyai Imam Khalil dari Pesantren Sarang membagikan rotan yang dicelupkan ke dalam kolam pesantren. Rotan itu bukan senjata mistis, melainkan simbol bahwa perlawanan spiritual memiliki bentuknya sendiri.

Jika 1948 adalah serangan terhadap pesantren, maka 1965 adalah perang yang membelah pesantren dari dalam. Ketegangan antara NU dan PKI mencapai puncaknya pada pertengahan 1960-an, ketika program land reform PKI mulai menyentuh tanah-tanah pesantren dan ulama.

Syair Genjer-Genjer milik PKI bersaing dengan Shalawat Badar gubahan KH Ali Manshur Shiddiq. Masing-masing memobilisasi massa di akar rumput.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA