ISLAM LIVE – Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka akses pelatihan vokasi bagi santri, alumni pesantren, pengelola unit usaha pesantren, hingga masyarakat sekitar. Program ini dijalankan melalui skema Tailor Made Training (TMT) yang dikembangkan Kemnaker melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang.
“Pesantren tidak hanya memiliki fungsi pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Karena itu, kita perlu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga agar potensi pesantren, santri, dan alumninya dapat dikembangkan secara optimal,” ujar Basnang Said, Direktur Jenderal Pesantren, Kementerian Agama, di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurut Basnang, pelatihan vokasi dapat menjadi bekal tambahan bagi santri setelah menyelesaikan pendidikan. Keterampilan tersebut bisa digunakan untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun memperkuat unit usaha pesantren.
“Harapannya, santri tidak hanya memiliki bekal keilmuan, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Dengan begitu, pesantren semakin kuat dalam menjalankan fungsi pemberdayaannya,” lanjutnya.
Direktur Pemberdayaan Pesantren, Yusi Damayanti, mengatakan keunggulan TMT terletak pada fleksibilitasnya. Pesantren dapat memetakan kebutuhan, potensi usaha, dan peluang kerja di lingkungannya sebelum mengusulkan jenis pelatihan. Dengan pendekatan ini, program tidak harus seragam karena bisa disesuaikan dengan potensi unit usaha, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah sekitar.
“Pendekatan tailor made ini memungkinkan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Jadi, programnya tidak harus seragam. Kita bisa melihat potensi unit usaha, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah sekitar pesantren,” jelas Yusi.
Kepala BBPVP Serang Kemnaker, Ady Nugroho, menjelaskan TMT merupakan bagian dari Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Stimulus Ekonomi Semester II Tahun Anggaran 2026. Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 menargetkan 270.000 peserta, dengan alokasi khusus TMT sebanyak 126.442 peserta melalui 21 unit pelaksana teknis pelatihan vokasi Kemnaker.
“Tailor made berarti pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan. Pesantren bisa mengusulkan jenis pelatihan yang memang dibutuhkan dan memiliki peluang kebekerjaan di wilayahnya,” kata Ady.
Ady menegaskan dukungan pemerintah bukan berupa transfer dana kepada pesantren. Menurutnya, bentuk dukungannya adalah pelatihan yang diselenggarakan langsung oleh balai bersama pesantren sesuai kebutuhan yang diusulkan.
“Ini bukan bantuan uang yang masuk ke rekening pesantren. Bentuk dukungannya adalah pelatihan yang diselenggarakan langsung oleh balai bersama pesantren sesuai kebutuhan yang diusulkan,” jelasnya.
Jenis pelatihan yang tersedia antara lain barista, menjahit, digital marketing, otomotif, teknik listrik, hingga operator alat berat. Peserta tidak dipungut biaya serta mendapatkan uang saku Rp50.000 per hari dan konsumsi. Sasaran program juga diperluas, mencakup alumni yang belum bekerja atau ingin beralih pekerjaan, ustaz, pengelola unit usaha pesantren, serta masyarakat sekitar.
