ISLAM LIVE – Anggota DPD RI asal Bali Arya Wedakarna menyatakan tidak mempermasalahkan seruan boikot Bali yang muncul setelah polemik pengalaman sejumlah wisatawan domestik. Arya justru menilai Bali tengah mengarah pada pariwisata yang memilih wisatawan dengan daya belanja tinggi.
Pernyataan itu disampaikan Arya di Kantor DPD RI Bali, Selasa (6/10/2026). Ia mengatakan masyarakat Bali tidak selalu menunjukkan antusiasme berlebihan kepada artis karena menghargai privasi.
Arya juga dalam kesempatan yang berbeda, menilai Bali tidak perlu mengejar jumlah wisatawan semata, melainkan wisatawan yang memiliki kemampuan belanja lebih besar.
“Kebetulan juga bali lagi mau bersih-bersih kebetulan bali juga sedang banyak masalah jadi sebenarnya kita sedang menseleksi turis yang berkualitas ya, turis yang spending-nya banyak, turis yang memiliki modal banyak”. Ucap Arya, di Kantor DPD RI Bali (7/10/2026)
Pernyataan tersebut muncul di tengah polemik keluhan sejumlah figur publik mengenai pengalaman berwisata di Bali. Arya sebelumnya juga menggunakan istilah “wisatawan kismin” dalam perdebatan tersebut.
Data pariwisata menunjukkan wisatawan domestik tetap menjadi segmen besar. Hingga Juli 2026, wisnus tercatat 5.905.118, sementara wisman mencapai 3.923.824 kunjungan.
Polemik boikot bali ini menempatkan gagasan quality tourism Arya berhadapan dengan pertanyaan tentang posisi wisatawan domestik dalam strategi pariwisata Bali.
