“Atā”: Yang Datang Tak Pernah Salah Waktu, Manusialah yang Terlambat Mengerti

74 views

ISLAM LIVE— Ada satu hal yang sering kita lupakan tentang hidup: ia tidak pernah diam. Segala sesuatu datang baik pelan ataupun tiba-tiba, diundang atau tidak. Rezeki datang, musibah datang, bahkan waktu itu sendiri datang tanpa pernah meminta izin. Dalam bahasa Arab klasik, semua itu berkelindan dalam satu kata yang tampak sederhana: atā (أتى) “datang”.

Namun “datang” di sini bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia mengandung makna yang lebih dalam: sesuatu yang tiba dengan mudah, mengalir tanpa hambatan, seolah memang sudah ditakdirkan untuk sampai. Para ahli bahasa menggambarkannya seperti air yang mengalir di permukaan tanah; ringan, terus bergerak, dan tak terelakkan. Bahkan orang asing pun disebut atāwī, seperti sesuatu yang datang dari jauh tanpa diduga.

Dari sini, kita mulai melihat bahwa “datang” bukan hanya peristiwa, tetapi cara kerja kehidupan itu sendiri.

Al-Qur’an menggunakan kata ini dalam berbagai nuansa yang mengejutkan. Dalam satu ayat, kita dihadapkan pada pertanyaan yang mengguncang: 

إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ

“bagaimana jika azab Allah datang kepadamu, atau hari kiamat tiba padamu” (QS. al-An‘ām: 40). 

Kata atā di sini tidak membawa kelembutan; ia justru menghadirkan ketegangan. Sesuatu yang datang tidak selalu membawa kabar baik. Ia bisa berupa akhir, peringatan, bahkan kehancuran.

Di ayat lain, nada itu menjadi lebih tegas:

 أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ

telah datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan” (QS. an-Naḥl: 1). 

Menariknya, kata “telah datang” digunakan untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi dalam hitungan manusia. Seolah Al-Qur’an ingin mengatakan: ketika sesuatu itu pasti, maka ia pada hakikatnya sudah “datang”, meski kita belum menyaksikannya.

Di titik ini, “datang” berubah menjadi konsep tentang kepastian.

Lebih jauh lagi, Al-Qur’an menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan tindakan yang tidak kasatmata. 

Baca Juga:  Hujan, Petir, dan Ketakutan: Potret Kemunafikan dalam Metafora Al-Qur’an

فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ

Allah mendatangi bangunan mereka dari fondasinya”(QS. an-Naḥl: 26)

Tentu ini bukan “datang” dalam arti fisik. Ia adalah metafora tentang bagaimana suatu sistem bisa runtuh dari dasar, melalui kehendak dan pengaturan yang tak terlihat. “Datang” di sini adalah kerja takdir, bukan langkah kaki.

Begitu pula ketika Al-Qur’an menyebut: 

وَجَاءَ رَبُّكَ

“dan Tuhanmu datang” (QS. al-Fajr: 22). 

Para ulama tidak memahaminya secara harfiah, melainkan sebagai ungkapan tentang hadirnya keputusan dan kekuasaan Tuhan. Sekali lagi, “datang” bukan soal gerak, melainkan tentang hadirnya sesuatu yang tak bisa ditolak.

Kata ini juga menjangkau ranah yang lebih sehari-hari. Ia digunakan untuk menggambarkan tindakan manusia: 

لا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“mereka tidak mendatangi salat kecuali dalam keadaan malas” (QS. at-Taubah: 54)

“Datang” di sini berarti menjalani, mengerjakan, atau mendekati sesuatu. Bahkan dalam konteks yang lebih keras, Al-Qur’an menggunakan kata yang sama: 

يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ

mereka melakukan perbuatan keji” (QS. an-Nisā’: 15)

Dengan kata lain, apa pun yang kita lakukan mau itu baik atau buruk adalah sesuatu yang “kita datangi”

Di sini, makna atā menjadi semakin luas. Ia tidak hanya menggambarkan sesuatu yang datang kepada kita, tetapi juga sesuatu yang kita hampiri. Ada hubungan timbal balik yang diam-diam bekerja: hidup bukan hanya tentang apa yang mendatangi kita, tetapi juga tentang apa yang kita datangi.

Dalam bahasa sehari-hari Arab klasik, seseorang bisa berkata “aku mendatangi sesuatu” untuk menunjukkan bahwa ia memilih, mengusahakan, atau terlibat dalam sesuatu itu. Bahkan seorang penyair pernah berkata, أتيت المروءة من بابها “aku mendatangi kemuliaan dari pintunya” Seolah kemuliaan bukan sesuatu yang datang begitu saja, tetapi sesuatu yang harus didatangi dengan cara yang benar.

Baca Juga:  Kebun yang Hangus di Senja Usia — Ketika Amal Hancur oleh Api yang Tak Terlihat

Lalu ada satu bentuk lain yang tak kalah penting: i’tā’ اتاء “memberi” Dalam Al-Qur’an, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan pemberian yang bernilai tinggi, terutama dalam konteks spiritual dan sosial.

 وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ

mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat” (QS. al-Baqarah: 277)

Di sini, memberi bukan sekadar transfer harta, tetapi tindakan sadar untuk “menghadirkan” manfaat bagi orang lain.

Menariknya, Al-Qur’an membedakan antara “آتينا” (Kami memberi) dan “أوتوا” (mereka diberi). Yang pertama sering digunakan ketika penerima benar-benar siap dan layak menerima, sementara yang kedua bisa digunakan lebih umum. Ini memberi isyarat halus: tidak semua pemberian benar-benar diterima dengan kesadaran.

Maka memberi pun, dalam makna yang lebih dalam, adalah proses “datang”, datangnya kebaikan dari satu tangan ke tangan lain, dari satu hati ke hati lain.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, konsep “datang” ini terasa semakin relevan. Kita sering merasa mengendalikan hidup, merencanakan segalanya dengan rinci. Namun kenyataannya, banyak hal justru datang di luar rencana: peluang yang tak disangka, kehilangan yang tiba-tiba, perubahan yang tak bisa ditunda.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang datang. Tetapi kita selalu bisa memilih apa yang kita datangi.

Di situlah letak tanggung jawab manusia. Apakah kita mendatangi kebaikan dengan kesadaran, atau justru menghampiri hal-hal yang merusak diri sendiri? Apakah kita menunggu hidup datang, atau aktif menjemput makna?

Pada akhirnya, kata atā mengajarkan kita satu hal yang sederhana tetapi mendalam: hidup adalah pertemuan antara yang datang dan yang kita datangi. Di antara keduanya, ada ruang kecil bernama pilihan dan di situlah seluruh makna hidup dipertaruhkan.

Sebab mungkin, kita tidak bisa menghentikan apa yang akan datang. Tetapi kita selalu bisa menentukan: ketika ia tiba, kita berdiri sebagai siapa.

 

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA