Tafsir Kata Ibaaq: Tentang Orang-Orang yang Tidak Melawan, Hanya Menghilang 

76 views

ISLAM LIVE– Ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar ingin melawan, ia hanya ingin pergi diam-diam, tanpa jejak dan Tanpa penjelasan. Dalam bahasa Arab klasik, ada satu kata yang menangkap momen itu dengan sangat presisi: abaqa. Artinya sederhana tapi getir yaitu “melarikan diri”.

Al-Qur’an merekam kata ini dalam satu fragmen kisah yang singkat, hampir seperti kilasan:

 إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُون

“ketika ia lari menuju kapal yang penuh muatan”

Ayat ini merujuk pada Nabi Yunus, yang dalam satu fase hidupnya memilih pergi, meninggalkan tugas yang terasa terlalu berat untuk dipikul.

Kata yang digunakan bukan sekadar “pergi”. Ia memilih kata abaqa yang artinya lari, menghindar, meninggalkan. Dalam tradisi bahasa, kata ini biasanya digunakan untuk budak yang kabur dari tuannya. Seorang hamba yang tidak lagi sanggup bertahan dalam situasi yang mengikatnya.

Pilihan kata ini terasa tajam. Ia tidak netral. Ia membawa beban makna: ada ketegangan, ada keputusasaan, ada keinginan untuk lepas dari sesuatu yang terasa menekan. Dan ketika kata itu digunakan dalam kisah seorang nabi, ia seolah membuka ruang bahwa bahkan sosok yang kuat sekalipun pernah berada di titik ingin pergi.

Dalam bahasa Arab, bentuk turunannya memperkaya makna itu. آبق Abiq adalah orang yang melarikan diri, sosok yang tidak lagi terlihat, menghilang dari tempat seharusnya ia berada. bentuk plural dari kata abiq ini adalah  اباق ubbaq, menggambarkan mereka yang sama-sama memilih jalan sunyi itu. Lalu ada bentuk lain: ta’abbaka, ketika seseorang berperilaku seperti orang yang lari, ia bersembunyi, menghindar, menutup diri dari dunia luar.

Baca Juga:  Memahami `Abad "Selamanya": Saat Waktu Berhenti Menghitung Kemana Kita akan Berlabuh

Di sini, bahasa tidak lagi bicara tentang peristiwa fisik semata. Ia masuk ke wilayah psikologis. Lari bukan hanya soal kaki yang bergerak, tetapi juga hati yang mundur. Seseorang bisa tetap berada di tempat yang sama, tetapi secara batin ia telah pergi jauh.

Kita mungkin tidak hidup dalam dunia perbudakan seperti yang melatarbelakangi kata abaqa. Tapi pengalaman “ingin kabur” itu tetap terasa akrab. Ia muncul dalam bentuk yang lebih halus: menunda pekerjaan yang menekan, menghindari percakapan yang sulit, atau sekadar menarik diri dari tanggung jawab yang terasa terlalu berat.

Dalam dunia modern, lari tidak selalu berarti berpindah tempat. Ia bisa berupa notifikasi yang dimatikan, pesan yang tidak dibalas, atau keputusan untuk “menghilang sejenak” dari kehidupan sosial. Bahasa berubah, tetapi rasa yang melatarinya tetap sama: keinginan untuk lepas dari beban.

Kisah Nabi Yunus memberi dimensi yang lebih dalam. Ia bukan sekadar kisah pelarian, tetapi juga tentang kesadaran yang datang setelahnya. Lari, dalam cerita itu bukan akhir. Ia adalah bagian dari proses fase di mana manusia menyadari batas dirinya, sebelum akhirnya kembali menghadapi apa yang ditinggalkan.

Menariknya, bahasa Arab tidak menghakimi secara berlebihan. Ia hanya memberi nama: abaqa. Sebuah kata yang jujur, tanpa hiasan. Seolah mengatakan, ini adalah bagian dari pengalaman manusia bahkan jika itu berarti mengakui keinginan untuk pergi.

Dalam salah satu penggunaan puitis, kata ini bahkan muncul dalam konteks yang lebih simbolik. Ada gambaran tentang sesuatu yang “terikat rapat”, seperti tali yang kuat atau struktur yang kokoh, yang berkaitan dengan kemampuan untuk tidak “lari”. Seolah ada dua kutub dalam satu akar kata: antara keinginan untuk kabur dan kebutuhan untuk tetap bertahan.

Baca Juga:  Kajian Hadis: Berbagai Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha

Di sinilah letak ketegangan yang menarik. Manusia hidup di antara dua dorongan: ingin bertahan, tetapi juga ingin pergi. Kadang kita dipuji karena keteguhan, tetapi di lain waktu kita diam-diam iri pada mereka yang berani meninggalkan segalanya.

Namun kisah Yunus memberi satu catatan penting. Lari tidak selalu menyelesaikan masalah. Kapal yang penuh muatan itu bukan tempat pelarian yang aman. Justru di sanalah, cerita berlanjut ke fase yang lebih dalam tentang keterjebakan, perenungan, dan akhirnya, kembali.

Maka ketika Al-Qur’an menyebut “ketika ia lari…”, mungkin yang ingin ditunjukkan bukan sekadar tindakan, tetapi kondisi batin. Bahwa ada momen ketika manusia merasa tidak sanggup. Dan dalam momen itu, ia memilih jalan yang paling mudah: pergi.

Pertanyaannya bukan apakah kita pernah “lari”. Hampir semua orang, dalam bentuk tertentu, pernah melakukannya. Pertanyaannya adalah: apa yang terjadi setelah itu?

Apakah kita terus menjauh, atau justru menemukan jalan untuk kembali?

Bahasa abaqa tidak memberi jawaban. Ia hanya membuka cermin. Di dalamnya, kita melihat diri sendiri dalam versi yang mungkin jarang kita akui: rapuh, lelah, dan ingin menghilang.

Dan mungkin, di situlah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk selalu kuat. Ia hanya mengingatkan bahwa bahkan dalam keinginan untuk lari, ada cerita yang belum selesai.

 

 

 

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA