ISLAM LIVE- Pada tema ini, izinkan penulis mengabstraksi sejenak alam pikir ibn ‘Arabi. Karena bagi penulis, beliau adalah seorang sufi filosof yang dalam hal ini menjadikan simbol sebagai jalan membaca rahasia wujud.
Sejak masa awal perkembangan tasawuf falsafi, para sufi tidak hanya memusatkan perhatiannya pada praktik spiritual saja, tetapi juga pada upaya memahami rahasia wujud melalui simbol, bahasa, dan tanda-tanda metafisik yang tersembunyi di balik realitas lahiriah. Salah satu tema yang menarik dalam tradisi tersebut ialah pemaknaan huruf-huruf hijā’iyyah sebagai representasi struktur kosmos dan manifestasi makna-makna Ilahi. Di antara seluruh huruf, alif menempati posisi yang sangat istimewa karena dipandang sebagai simbol kesatuan, prinsip asal, dan poros keberadaan. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai alif dalam rubrik ilmu ini, tidak dapat dipahami hanya sebagai kajian kebahasaan atau semiotik yang tanpa pengayaan tafsir saja, melainkan sebagai refleksi metafisik tentang hubungan Tuhan, alam, dan manusia dalam kesatuan wujud.
Pembahasan tentang huruf dalam irfan, lagi-lagi perlu kita perjelas bahwa sebenarnya bukan kajian linguistik biasa atau hanya mengenal model dan bentuk huruf saja. Para ‘arif memandang (terutama yang beraliran irfan) huruf sebagai simbol yang membantu manusia memahami struktur wujud. Bisa kita katakan, bahwa huruf ini dipandang seperti jendela kecil menuju prinsip-prinsip metafisik yang terlalu luas untuk ditangkap oleh bahasa sehari-hari. Karena itu, sebelum memasuki makna-makna simbolik yang terlihat rumit dan kompleks, atau bahkan sebagian orang menganggap “pembahasan apa, sih.”, penting untuk menempatkan diri bahwa ini bukan tentang huruf dalam arti teknis, tetapi tentang bagaimana realitas dipahami melalui lambang yang sederhana namun sarat makna: bentuk satu garis lurus yang kita kenal sebagai alif. Ibn ‘Arabi memberikan gambaran tentang alif sebagai sesuatu yang melampaui statusnya sebagai huruf.
«الألف ليس من الحروف عند من شم رائحة من الحقائق»
“Alif bukan termasuk huruf bagi mereka yang telah mencium aroma realitas hakiki.”(Futūḥāt al-Makkiyyah, Juz. 1, 65.)
Sesuatu yang melampaui kategori bahasa dipahami sebagai isyarat menuju realitas yang tidak dapat dibatasi oleh bentuk maupun suara. Karena itu, alif tidak lagi dipahami hanya sebatas unsur alfabetis, melainkan simbol dari prinsip wujud yang berada di balik seluruh penamaan dan ungkapan.
Dalam redaksi ini menunjukkan bahwa alif diposisikan sebagai simbol Dzat, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh cara kerja bahasa, karena unsur itu memang melampaui semua batasan. Bagi kalangan umum, alif tetap dipahami sebagai huruf, tetapi bagi mereka yang mendalami hakikat, ia berada pada tingkat yang lebih tinggi dari sekadar bunyi atau bentuk tulisan. Dengan kata lain, bahasa menjadi alat pendekatan, bukan definisi final.
Pemaknaan alif sebagai simbol jam‘ atau posisi penyatuan, muncul karena ia dianggap merangkum nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Dalam terminologi irfan, jam‘ menunjuk pada keadaan kesatuan di mana seluruh keragaman dipandang kembali kepada satu sumber asal. Dalam literatur teks ibn ‘Arabi disebut bahwa alif memuat nama Allah dan sifat al-Qayyūmiyyah, serta berbagai nama perbuatan seperti al-Khāliq, al-Bāri’, ar-Razzāq. Ini adalah cara para ‘arif menunjukkan bahwa keberagaman dunia memiliki sumber tunggal. Setiap sifat Ilahi membimbing manusia melihat bagaimana kosmos bekerja, dan alif menjadi lambang prinsip yang menyatukan semuanya. Dengan mengandaikan alif sebagai asal-usul huruf, tradisi ini mendorong pembaca awam memahami bahwa realitas lahir dari satu titik kesadaran yang mendasari seluruh keberadaan.
Dalam teks ibn ‘Arabi itu juga menyinggung hubungan alif dengan seluruh tingkatan wujud, digambarkan seperti titik pusat lingkaran yang ‘tidak di dalam dan tidak di luar’ lingkaran. Gambaran ini membantu pembaca memahami hubungan antara Tuhan dan alam tanpa terjebak pada pemisahan formal atau diverisfikasi pada umumnya. Penulis memandang dalam hal ini, Tuhan tidak dianggap sebagai bagian dari dunia, namun juga tidak terpisah secara spasial. Ia hadir sebagai dasar keberadaan, prinsip yang menjadikan segala sesuatu mungkin.
Dalam bentuk alif atau garis lurus yang berdiri sendiri, para sufi menemukan metafora untuk menjelaskan bagaimana keesaan menopang keragaman. Pada akhirnya, pemaknaan metafisik alif tidak berhenti pada penjelasan kosmos semata, tetapi juga menyentuh posisi manusia dalam struktur wujud tersebut. Karena manusia dipandang sebagai cermin tajalli Ilahi, simbol alif turut digunakan untuk menjelaskan paradoks eksistensial manusia sebagai makhluk yang lemah namun sekaligus memantulkan jejak keagungan Ilahi. Salah satu syair yang menyentuh pengalaman keberadaan manusia di hadapan sumber wujud:
«فأنا العبد الضعيف المجتبى # و أنا من عز سلطاني و جل»
“Akulah hamba yang lemah yang dipilih; namun aku juga dari keagungan Kekuasaan-Ku yang Mahatinggi dan Mulia.”(Futūḥāt al-Makkiyyah, Juz. 1, h. 65.)
Syair ini mengungkap paradoks eksistensial yang sering muncul: manusia lemah tetapi bersambung dengan sumber kekuatan. Alif membantu menjelaskan dualitas itu. Ia sederhana namun menjadi asal semua huruf. Demikian pula manusia tampak kecil jika kita lihat dalam hierarki kosmos, tetapi dalam dirinya berpantul sifat-sifat Ilahi. Dengan memahami simbol alif, pembaca awam dapat melihat bahwa tasawuf filsafat tidak sekadar membahas konsep abstrak; ia menawarkan cara membaca dunia dan diri sendiri sebagai cermin dari realitas yang lebih luas.
Dengan demikian, alif dalam konteks ini tidak dipahami sebagai huruf biasa, melainkan sebagai simbol metafisik tentang keesaan, asal-usul wujud, serta hubungan manusia dengan Realitas Absolut yang menjadi dasar seluruh keberadaan.
