Dari Quraisy ke Era Media Sosial: Wajah Baru Taqlid Buta

15 views
Ilustrasi ketika sekelompok elit Quraisy mendatangi Abu Thalib (ra) yang sedang sakit untuk menyampaikan kegelisahan mereka.

ISLAM LIVE – Suatu ketika, sekelompok elit Quraisy mendatangi Abu Thalib ra yang sedang sakit. Mereka datang bukan sekadar menjenguk. Ada kegelisahan yang ingin mereka redam: dakwah Muhammad yang dianggap merusak tradisi nenek moyang. Mereka menawarkan kompromi—sebuah “jalan damai” agar Nabi berhenti mengusik berhala-berhala mereka. Nabi menjawab singkat, cukup dengan satu kalimat. Jika mereka mengucapkannya, bangsa Arab akan bersatu dan dunia akan mengikuti. Kalimat itu sederhana: La ilaha illallah. Mereka terhenyak. “Apakah semua Tuhan dijadikan satu?” tanya mereka, tak percaya. Kisah lama itu terasa aneh sekaligus akrab: manusia sering menolak perubahan bukan karena kurang bukti, melainkan karena terlalu nyaman dengan kebiasaan lama.

Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan bahasa yang tajam dan metafora yang menggetarkan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 171 disebutkan:

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Perumpamaan orang-orang kafir seperti orang yang memanggil hewan yang tidak mendengar selain teriakan dan panggilan. Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga tidak mengerti.”

Ayat ini bukan sekadar kritik terhadap kaum musyrik Arab abad ketujuh. Ia adalah potret psikologi manusia sepanjang zaman. Manusia yang mendengar tanpa memahami, melihat tanpa merenung, dan berbicara tanpa berpikir. Masalahnya bukan kurangnya suara kebenaran, tetapi ketidakmauan untuk benar-benar mendengarkan.
Di balik metafora “hewan yang hanya mendengar suara” tersimpan kritik yang sangat manusiawi. Seekor hewan merespons nada, bukan makna. Ia bergerak karena bunyi keras, berhenti karena suara lembut, tanpa memahami pesan di baliknya. Demikian pula, kata Al-Qur’an, sebagian manusia mendengar dakwah para nabi hanya sebagai bunyi. Kata-kata yang dalam berubah menjadi sekadar suara latar. Pesan yang menggugah tenggelam menjadi kebisingan.

Penghalang terbesar yang diungkap teks suci ini ternyata sederhana sekaligus kompleks: taqlid buta, mengikuti tradisi nenek moyang tanpa berpikir. Al-Qur’an mengulang jawaban klasik kaum penolak kebenaran:

بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

Baca Juga:  Refleksi Hadis: Tiga Larangan Imam Ali untuk Para Penguasa

“Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”

Kalimat ini terdengar sangat familier. Ia bisa muncul dalam bentuk apa pun: kebiasaan keluarga, budaya masyarakat, opini mayoritas, bahkan tren media sosial. Logikanya sederhana: jika sudah lama dilakukan, pasti benar. Jika diwariskan turun-temurun, pasti aman. Jika banyak yang mengikuti, pasti tidak salah.

Al-Qur’an menggugat logika itu dengan pertanyaan yang tajam dalam Surah Al-Baqarah ayat 170:

أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apakah mereka tetap mengikuti walaupun nenek moyangnya tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”

Pertanyaan retoris ini terasa menampar. Sebab ia menyentuh lapisan terdalam manusia: rasa aman dalam tradisi. Tradisi memberi identitas, rasa memiliki, dan stabilitas. Namun di sisi lain, tradisi juga bisa menjadi tembok yang menutup pintu kebenaran. Di sinilah tragedi dimulai: manusia menolak perubahan bukan karena kebenaran tidak jelas, tetapi karena perubahan mengancam kenyamanan.

Kisah Quraisy yang menolak Tauhid menunjukkan ironi yang pahit. Mereka membuat berhala dari batu, kayu, bahkan kurma. Jika lapar, berhala kurma itu dimakan. Tetapi ketika diajak meninggalkan berhala demi Tuhan Yang Esa, mereka justru menolak dengan keras. Rasionalitas seakan berhenti di titik tertentu: tradisi lebih kuat daripada logika.
Metafora “tuli, bisu, dan buta” dalam ayat tadi bukan kondisi fisik. Ia menggambarkan kondisi batin. Tuli karena tidak mau mendengar argumen. Bisu karena tidak mau menyatakan kebenaran. Buta karena menolak melihat bukti. Kombinasi ini menghasilkan satu kesimpulan: mereka tidak menggunakan akal.

Di titik ini, Al-Qur’an menyoroti persoalan yang sangat modern: krisis berpikir kritis. Hari ini, manusia hidup di era informasi berlimpah. Ceramah, buku, video, podcast, artikel—semuanya tersedia. Namun paradoksnya, banjir informasi tidak selalu melahirkan pemahaman. Sering kali manusia hanya mendengar “bunyi”: slogan, potongan kalimat, atau narasi yang diulang-ulang tanpa pernah dipikirkan.

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan digital. Banyak orang berbagi informasi tanpa membaca isi, mengomentari tanpa memahami konteks, membela tanpa meneliti fakta. Kita hidup di zaman ketika suara lebih cepat daripada makna. Dalam konteks ini, metafora Al-Qur’an terasa menakutkan sekaligus relevan: manusia bisa berubah menjadi makhluk yang hanya merespons bunyi.

Baca Juga:  Menolak Mati di Lembah Kegelapan: Otopsi Spiritual Manusia Jahiliah Modern

Taqliq buta bukan hanya soal agama atau kepercayaan. Ia bisa muncul dalam politik, budaya, bahkan gaya hidup. Ketika seseorang berkata, “Semua orang juga begitu,” sebenarnya ia sedang mengulang kalimat kuno: Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami. Bedanya, nenek moyang kini bisa berarti algoritma, influencer, atau opini mayoritas.

Di sinilah letak hubungan erat antara taqlid buta dan hati yang mengeras. Ketika seseorang berhenti berpikir, perlahan ia berhenti merasakan. Ketika akal tidak digunakan, empati ikut melemah. Hati menjadi tertutup bukan karena kekurangan bukti, melainkan karena keengganan mempertimbangkan kemungkinan baru.

Kembali ke kisah pertemuan Nabi dengan Quraisy. Tawaran kompromi yang mereka ajukan tampak damai, tetapi sebenarnya adalah penolakan halus terhadap perubahan. Mereka ingin status quo tetap terjaga. Nabi Muhammad saw menawarkan satu kalimat yang membebaskan, tetapi mereka melihatnya sebagai ancaman. Di sinilah ironi manusia: kebenaran yang membebaskan sering terasa menakutkan.

Ayat tentang “tuli, bisu, dan buta” bukan penghinaan, melainkan peringatan. Ia mengingatkan bahwa kemampuan mendengar, berbicara, dan melihat tidak menjamin seseorang memahami. Pemahaman lahir dari keberanian mempertanyakan, kerendahan hati untuk belajar, dan kesiapan meninggalkan kebiasaan lama jika terbukti salah. Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang Quraisy, bukan pula tentang masa lalu. Ia tentang manusia hari ini—tentang kita yang hidup di tengah tradisi, opini, dan kebisingan informasi. Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menuntut kejujuran: apakah kita benar-benar mendengar makna, atau hanya merespons suara?

Barangkali di situlah relevansi abadi ayat ini. Bahwa bahaya terbesar bukanlah tidak mendengar kebenaran, melainkan mendengarnya setiap hari tanpa pernah benar-benar memahami.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA