Kolonialisme Mikro, Meso dan Makro

21 views

ISLAM LIVE — Tulisan Claudia Brunner tentang Kekerasan Epistemik selalu memberikan ruang bagi saya untuk merenung bahwa kolonialisme sering kali dibayangkan terlalu jauh: seolah ia hanya ada di masa lalu, di medan perang, atau dalam urusan diplomasi antarnegara yang rumit. 

Brunner memperkenalkan kerangka yang rasanya lebih deep melalui terma “Kolonialisme Mikro, Meso, dan Makro”. Pendekatan ini menyadarkan kita, bahwa penjajahan tidak berhenti saat kedaulatan politik berhasil diraih. Ia bisa bermutasi menjadi bentuk-bentuk yang sangat halus, mulai dari bagaimana sebuah ilmu pengetahuan dipaksakan, hingga bagaimana kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia.

Level Makro: Dominasi Struktur dan Narasi Tunggal

Pada level makro, kolonialisme bekerja sebagai kompas yang menentukan arah dunia. Kita mengenalnya melalui struktur besar seperti sistem ekonomi global atau klasifikasi geopolitik yang, menurut Aníbal Quijano, disebut sebagai Coloniality of Power. Di sini, kolonialisme membagi dunia secara kaku untuk kepentingan dominasi dan akumulasi kekuatan. Secara filosofis, lapisan makro ini biasanya disetir oleh satu narasi tunggal tentang apa yang disebut sebagai “Kemajuan” dan “Modernitas”.

Contohnya terlihat jelas pada cara kita melabeli bangsa sebagai “Maju” atau “Berkembang”. Paradigma ini diam-diam menetapkan bahwa sejarah dan gaya hidup masyarakat tertentu adalah standar universal yang harus dikejar oleh semua orang. Inilah kekerasan di tingkat kekuasaan! Realitas politik dan global dibangun berdasarkan hierarki antara subjek yang berhak mengatur dan objek yang wajib teratur.

Level Meso: Kekerasan Epistemik

Turun ke level meso, kolonialisme merambah ke ranah yang lebih intelektual, yakni institusi dan disiplin ilmu. Di sinilah “kekerasan epistemik” terjadi. Level ini mencakup universitas, kurikulum, hingga standar ilmiah yang menentukan apa yang boleh dianggap sebagai “kebenaran”. Pengetahuan tertentu dianggap sebagai fakta objektif, sementara pengetahuan lainnya diabaikan atau dianggap tidak relevan.

Baca Juga:  Mulla Sadra dan Rahasia Kebahagiaan Sejati

Kita bisa melihat contohnya melalui konsep Orientalisme Edward Said, di mana sebuah bangsa dipelajari dan didefinisikan oleh pihak luar demi kepentingan kontrol. Boaventura de Sousa Santos menyebut fenomena ini sebagai Epistemisida, yaitu pembasmian cara-cara mengetahui yang berbeda. Kekerasan jenis ini terjadi saat sebuah tradisi atau pengetahuan lokal tentang alam, misalnya, dianggap tidak ilmiah hanya karena tidak sesuai dengan standar metodologi Barat. Di sini, kolonialisme bekerja dengan cara merampas otoritas berpikir seseorang.

Level Mikro: Kekerasan pada Kedalaman Being

Tingkat mikro adalah yang paling intim dan mungkin paling merusak, karena ia menyentuh level eksistensi atau Being. Pada tahap ini, kolonialisme tidak lagi bersifat eksternal, melainkan merasuk ke dalam jiwa, tubuh, dan identitas individu. Ia mempengaruhi cara seseorang menghargai dirinya sendiri di tengah tatanan dunia yang luas.

Secara filosofis, ia mendekonstruksi prinsip Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada) yang melekat pada setiap manusia, tak peduli apapun ras atau warna kulitnya. Dalam kolonialisme mikro, standar “manusia rasional” sering kali hanya merujuk pada identitas penjajah, sehingga mereka yang berbeda dianggap memiliki “kekurangan eksistensial”. 

Baca Juga:  Bung Hatta: Jiwa Islam dalam Pembangunan Negara dan Masyarakat

Frantz Fanon pernah menggambarkan luka dari kekerasan jenis ini sebagai kondisi di mana seseorang merasa inferior karena bahasanya tidak “global” atau budayanya tidak divalidasi oleh standar dominan. Inilah kekerasan pada level being, ketika otonomi seseorang untuk memberi makna pada dunianya sendiri dihancurkan secara perlahan.

Berangkat dari sini, kita perlu keluar dari pemahaman kolonialisme yang satu dimensi dan terlalu makro. Sebab, pembebasan yang hanya berfokus pada kedaulatan negara atau ekonomi akan selalu menemui jalan buntu jika mengabaikan akar kolonialisme di tingkat mikro dan meso.

Untuk itu, sangatlah wajar jika kini kita mulai membicarakan kekerasan di level being dan kekerasan di level epistemik. Membebaskan diri berarti melakukan dekolonisasi terhadap cara kita berpikir dan cara kita menilai martabat diri sendiri. Perjalanan menuju perdamaian yang sejati harus melibatkan upaya meruntuhkan kolonialisme ini, agar berbagai cara hidup dan cara mengetahui dapat berdiri tegak secara setara, tanpa ada yang dianggap lebih rendah secara ontologis.

Tesis Brunner tentang kekerasan epistemik juga seperti menjadi penjelasan sosiologis bagi peringatan dalam Al-Baqarah ayat 12. Sebab, kerusakan paling berbahaya bukanlah yang tampak di permukaan, melainkan yang merasuk ke dalam cara mengetahui dan cara meng-ada (being), hingga pelakunya kehilangan kesadaran bahwa mereka sedang merusak. Selama kita mengabaikan kolonialisme di tingkat mikro dan meso, kedaulatan yang kita perjuangkan bisa menjadi fatamorgana, layaknya ilusi tentang oase. (*)

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA