Tafsir Kata أكل : Makan yang Tak Selalu Soal Perut

5 views

ISLAM LIVE– Di benak kebanyakan orang, kata “makan” tampak sederhana. Ia identik dengan nasi di meja, roti di piring, atau buah yang dipetik dari pohon. Makan adalah kebutuhan paling dasar manusia. Namun dalam khazanah bahasa Arab klasik dan Al-Qur’an, kata akal (makan) ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar memasukkan makanan ke dalam mulut.

Di sinilah menariknya bahasa wahyu. Satu kata yang tampak biasa dapat membuka lapisan makna tentang rezeki, kekuasaan, moralitas, bahkan kerusakan sosial.

Al-Qur’an menggunakan kata makan dalam berbagai bentuk. Ada yang merujuk pada makanan secara harfiah, ada pula yang menjadikannya metafora untuk menjelaskan perilaku manusia. Misalnya dalam gambaran surga disebutkan:

أُكُلُهَا دَائِمٌ
Buah-buahannya tidak pernah habis” (QS. Ar-Ra’d: 35)

Kata ukul di sini berarti sesuatu yang dimakan, hasil atau buah yang dapat dinikmati. Menariknya, makna “buah” dalam bahasa Arab tidak hanya menunjuk pada makanan, tetapi juga hasil dari suatu usaha. Karena itu, surga digambarkan sebagai tempat di mana hasil kenikmatan tidak pernah berhenti dan tidak pernah rusak.

Sebaliknya, dalam kehidupan dunia, apa yang dimakan selalu terbatas. Persediaan habis, tubuh menua, dan waktu terus berjalan. Mungkin karena itulah bahasa Arab kemudian mengembangkan kata “makan” menjadi simbol bagi jatah hidup dan bagian rezeki seseorang.

Orang Arab dahulu mengatakan seseorang memiliki “bagian makan dari dunia”, yang berarti ia memiliki nasib baik, rezeki luas, atau kesempatan hidup yang besar. Bahkan ketika seseorang meninggal, ada ungkapan bahwa ia telah “menghabiskan makannya”. Bukan berarti ia wafat karena kehabisan makanan, melainkan karena jatah hidupnya di dunia telah selesai.

Bahasa ternyata menyimpan cara pandang yang dalam. Hidup dipandang sebagai sebuah hidangan yang memiliki batas. Setiap manusia datang dengan porsi tertentu, lalu suatu hari akan meninggalkan meja kehidupan setelah bagiannya habis.

Baca Juga:  Ketika Tanpa Sadar Kita Hanya Mengikuti Atau Meninggalkan "Jejak" Tak Bermakna

Namun Al-Qur’an membawa kata “makan” ke wilayah yang lebih tajam: moralitas.

Dalam banyak ayat, “makan” dipakai untuk menggambarkan tindakan mengambil harta secara tidak sah. Kita menemukan peringatan yang sangat tegas:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil” (QS. Al-Baqarah: 188)

Mengapa menggunakan kata “makan”? Mengapa bukan mengambil, mencuri, atau merampas?

Para ahli bahasa menjelaskan bahwa makan merupakan bentuk pemanfaatan yang paling nyata dari harta. Sebagian besar uang yang dimiliki manusia pada akhirnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama makanan. Karena itu, ketika seseorang memperoleh kekayaan dengan cara yang salah, Al-Qur’an menyebutnya sebagai tindakan “memakan harta”.

Ungkapan itu terasa sangat tepat hingga hari ini. Korupsi, manipulasi anggaran, penipuan investasi, penggelapan dana publik, atau eksploitasi ekonomi pada hakikatnya adalah bentuk-bentuk baru dari “memakan harta secara batil”. Wujudnya berubah, tetapi esensinya tetap sama.

Lebih keras lagi, Al-Qur’an berbicara tentang mereka yang mengambil hak anak yatim:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا
Orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sesungguhnya sedang memasukkan api ke dalam perut mereka” (QS. An-Nisa: 10)

Ini bukan sekadar ancaman tentang masa depan. Ayat tersebut seolah ingin mengatakan bahwa kezaliman memiliki konsekuensi yang sudah mulai bekerja sejak sekarang. Harta yang diperoleh secara tidak benar mungkin tampak mengenyangkan, tetapi sesungguhnya membawa bara yang perlahan membakar kehidupan pelakunya.

Yang lebih mengejutkan lagi, Al-Qur’an menggunakan kata “makan” untuk menggambarkan dosa lisan.

Ketika membicarakan ghibah atau menggunjing, Al-Qur’an bertanya:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12)

Baca Juga:  Riba: Ketika Uang Beranak Pinak dan Manusia Kehilangan Keseimbangan

Gambaran itu terasa mengerikan. Namun justru karena itulah pesannya begitu kuat. Ghibah sering dianggap dosa ringan karena hanya berupa kata-kata. Padahal kehormatan seseorang bisa hancur oleh ucapan yang tampaknya sepele. Dalam perspektif Al-Qur’an, menggunjing bukan hanya melukai orang lain, melainkan seperti memakan tubuhnya sendiri.

Di era media sosial, metafora ini terasa semakin relevan. Banyak orang mengonsumsi aib orang lain sebagai hiburan harian. Skandal, gosip, dan fitnah beredar cepat, lalu dinikmati bersama-sama layaknya santapan publik. Kita mungkin tidak menyadari bahwa yang sedang dikonsumsi bukan informasi, melainkan kehormatan manusia.

Menariknya, makna “makan” dalam bahasa Arab juga bisa menunjuk pada kerusakan dan kehancuran. Ketika Al-Qur’an menggambarkan pasukan bergajah yang dihancurkan Tuhan, disebutkan bahwa mereka menjadi seperti daun-daun yang telah dimakan.

كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
Seperti daun-daun yang telah dimakan” (QS. Al-Fiil: 5)

Daun yang dimakan kehilangan bentuknya. Ia rusak, rapuh, dan tercerai-berai. Dari sini lahir penggunaan kata yang sama untuk menggambarkan sesuatu yang lapuk, terkikis, atau hancur perlahan.

Barangkali inilah pelajaran yang paling dalam dari kata “makan”. Tidak semua yang dimakan memberi kehidupan. Ada makanan yang menguatkan tubuh, tetapi ada pula “makanan” yang menghancurkan jiwa. Ada rezeki yang menumbuhkan keberkahan, tetapi ada pula harta yang justru membakar pemiliknya. Ada informasi yang memperkaya pikiran, tetapi ada juga gosip yang menggerogoti nurani.

Karena itu, pertanyaan penting dalam hidup bukan hanya “apa yang kita makan”, melainkan juga “apa yang sedang kita konsumsi” setiap hari melalui mata, telinga, pikiran, dan tindakan.

Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya dibentuk oleh makanan yang masuk ke perutnya. Ia juga dibentuk oleh segala sesuatu yang ia biarkan masuk ke dalam dirinya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA