ISLAM LIVE – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan, Senin 4 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut di tengah sentimen global dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi dunia.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka turun 0,09 persen ke posisi Rp17.320 per dolar AS. Pelemahan ini meneruskan tren negatif perdagangan sebelumnya ketika rupiah ditutup melemah 0,17 persen di level Rp17.305 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi catatan buruk baru bagi rupiah karena tercatat sebagai level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY masih menunjukkan penguatan tipis. Hingga pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia itu naik 0,04 persen ke level 98,194.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen atau IHK periode April 2026. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Konsensus pasar yang dihimpun dari 13 institusi memperkirakan inflasi April 2026 mencapai 0,43 persen secara bulanan. Sementara inflasi tahunan diperkirakan berada di level 2,72 persen secara year on year.
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan kenaikan inflasi diperkirakan dipicu naiknya harga sejumlah bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, kedelai hingga cabai merah.
Selain komoditas pangan, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite juga dinilai memberi tekanan tambahan terhadap inflasi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.
“Pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan inflasi impor. Sementara itu, seiring penurunan harga emas dunia, harga emas dan perhiasan mengalami penurunan pada bulan Maret,” tutur Juniman kepada CNBC Indonesia.
Dari eksternal, pasar global masih dihantui ketegangan geopolitik Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait upaya membebaskan kapal-kapal di Selat Hormuz membuat investor mencermati risiko gangguan energi global yang dapat memicu tekanan baru terhadap rupiah dan inflasi domestik.*
