ISLAM LIVE – Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Selain dikenal sebagai pemimpin besar Sarekat Islam (SI), dia juga merupakan pemikir yang berhasil memadukan ajaran Islam dengan semangat kebangsaan, keadilan sosial, dan perjuangan kemerdekaan. Gagasan-gagasannya tidak hanya berpengaruh pada zamannya, tetapi juga tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa Indonesia saat ini.
Salah satu pemikiran utama Cokroaminoto adalah konsep Sosialisme Islam. Dalam bukunya Islam dan Sosialisme, Cokroaminoto menjelaskan bahwa Islam mengandung prinsip-prinsip keadilan sosial yang menolak penindasan, eksploitasi ekonomi, dan penumpukan kekayaan pada segelintir kelompok. Menurutnya, ajaran zakat, infak, sedekah, dan larangan riba menunjukkan bahwa Islam memiliki keberpihakan yang kuat kepada kaum lemah.
Perlu ditekankan bahwa, sosialisme yang dimaksud Cokroaminoto berbeda dengan sosialisme Marxis karena berlandaskan tauhid dan moralitas agama. Oleh karena itu, pemikirannya masih tetap relevan dalam menghadapi kesenjangan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia modern hari ini.
Cokroaminoto menempatkan tauhid sebagai dasar kemerdekaan sejati. Dalam pandangannya, seseorang yang benar-benar bertauhid hanya tunduk kepada Allah dan tidak boleh diperbudak oleh manusia lain. Karena itu, penjajahan dan penindasan bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Dalam konteks saat ini, pemahaman tersebut dapat dimaknai sebagai dorongan untuk menjaga kemandirian bangsa, menolak korupsi, serta membangun integritas dalam kehidupan publik.
Pemikiran Cokroaminoto juga tercermin dalam semboyan terkenalnya, yaitu “Semurni-murni Tauhid, Setinggi-tinggi Siasat, Sepintar-pintar Ilmu.” Semboyan ini menjelaskan bahwa perjuangan tidak cukup hanya bermodal keimanan, tetapi juga membutuhkan strategi yang matang dan penguasaan ilmu pengetahuan. Relevansi gagasan tersebut masih sangat kuat di era modern saat ini, ketika kemajuan menuntut masyarakat agar memiliki karakter kuat yang dibangun di atas keimanan dan sekaligus memiliki kompetensi yang tinggi berdasarkan pengusaan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks politik, Cokroaminoto memperjuangkan konsep zelfbestuur atau pemerintahan sendiri yang berlandaskan prinsip musyawarah. Sebagaimana dijelaskan Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942 (LP3ES), Cokroaminoto meyakini bahwa Islam mendukung sistem pemerintahan yang menolak kesewenang-wenangan dan memberikan ruang bagi partisipasi rakyat. Pemikiran ini sejalan dengan nilai demokrasi yang berkembang di Indonesia saat ini, terutama dalam mendorong pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat banyak.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pandangannya mengenai jihad sebagai gerakan sosial yang terorganisasi. Melalui Sarekat Islam, Cokroaminoto membuktikan bahwa Islam dapat menjadi kekuatan pemersatu berbagai kelompok masyarakat untuk memperjuangkan keadilan dan perubahan sosial.
Sampai di sini dapat dilihat bahwa, pemikiran HOS Cokroaminoto menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan Indonesia yang lebih bekeadilan, demokratis, dan berkeadaban. Gagasannya mengenai Sosialisme Islam, tauhid sebagai dasar kemerdekaan, pentingnya ilmu pengetahuan, demokrasi, dan gerakan sosial tetap memiliki nilai strategis bagi Indonesia kontemporer. Warisan intelektual Cokroaminoto tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan Indonesia di masa kini, hingga di masa-masa yang akan datang.
