Komitmen Persatuan Sunni-Syiah, Jawaban bagi Tukang Adu Domba

54 views
ilustrasi persatuan Sunni dan Syiah (istimewa)

ISLAM LIVE – Jika kita membuka lembar sejarah, tentu akan muncul rasa rindu yang mendalam akan kebangkitan kembali peradaban Islam yang gemilang sebagaimana pernah terjadi pada masa Kekhalifahan Fatimiyah dan Dinasti Abbasiyah.

Tetapi kejayaan peradaban Islam hanya menjadi angan-angan jika perkara yang utama tak disadari umat Islam, yaitu: Persatuan!

Bila merujuk pada Al-Qur’an, maka secara gamblang Allah telah memerintahkan kita dalam firmannya, terkait keharusan menjaga persatuan:

Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”
(QS Ali Imran: 103)

Ayat di atas secara eksplisit dan tegas mengajak kaum Muslim, baik Sunni, Syiah, Ibadhiyah, maupun Zahiriyah, agar kembali bersatu dengan berpegang teguh pada tali Allah dan Rasulnya tanpa melihat background madzhab mereka.

Menjaga persatuan dan kesatuan ditengah kaum Muslim adalah hal yang penting untuk disadari, sebab, persatuan merupakan syarat mutlak bagi mewujudkan impian kejayaan umat Islam di masa depan.

Salah satu tokoh yang menyadari pentingnya hal ini adalah almarhum Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dalam kitab Ajwibatul Istifta’at yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Fatwa-Fatwa Ayatullah Al-Uzma Ali Khamenei, ia mengatakan:

Demi persatuan Islam, maka shalat bersama-sama dengan Ahlussunah adalah sah.

Fatwa ini menjadi jawaban bagi orang-orang Salafi Wahabi yang menganggap bahwa mazhab adalah sekat yang menghalangi kaum Muslim untuk bersatu.

Bagi Ali Khamenei, kesadaran bermadzhab justru tidak akan membuat kaum Muslim terpecah-belah. Sebaliknya, perbedaan itu membuat umat sadar bahwa titik temu antar Madzhab tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Larangan Pengikut Ahlulbait Menghina Simbol-Simbol Ahlussunah

Muslim Syiah Imamiyah sering dicap penyebar ajaran kebencian karena dituduh mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad saw dan mencaci maki istri-istri beliau yang mulia.

Baca Juga:  Dari Quraisy ke Era Media Sosial: Wajah Baru Taqlid Buta

Tuduhan caci maki yang dilakukan Madzhab Syiah terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi diduga menjadi akar perpecahan dan penghambat terjadinya unifikasi antara dua madzhab besar tersebut

Sebenarnya tuduhan Madzhab Syiah sebagai madzhab caci maki sangat tidak berdasar, karena bagi pengikut Ahlulbait, mencaci orang-orang yang berjasa besar dalam tegaknya Islam, sama dengan mencaci Islam itu sendiri.

Dalam sejarah memang terdapat kelompok Syiah yang keras dalam memandang urusan tabarra’, yakni mengutuk para sahabat dan  kelompok yang dianggap musuh dari Ahlulbait atau keluarga Nabi Muhammad Saw.

Namun sikap dari kelompok yang dijuluki rafidha itu sebetulnya bukan prinsip dasar dari madzhab Syiah Imamiyah.

Tabarra dalam madzhab Ahlulbait adalah mufaqarah atau berlepas diri atau tidak bertanggungjawab atas orang-orang yang melontarkan caci maki dan kebencian terhadap para Imam dari keluarga Nabi Muhammad yang suci.

Sebab jika mulut mereka mencaci para Imam as yang mulia maka itu urusan dia dengan Allah dan Rasulnya di akhirat kelak.

Pada tahun 2010 lalu, media sosial sempat diramaikan oleh sosok bernama Yasser Al Habib yang mencela para khalifah yang dihormati oleh Madzhab Sunni.

Yasser Al Habib membranding diri di medsos sebagai ulama Syiah dan secara terang-terangan melaknat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga istri-istri Nabi seperti Sayyidah Aisyah dan Hafsah.

Tindakan Yasser itu tidak hanya menimbulkan reaksi dari ulama Ahlussunah, para ulama mazhab Ahlulbait seperti Ayatullah Ja’far Subhani dan Ayatullah Al-Uzma Makarim Shirazi juga mengecam keras perbuatannya itu.

Ayatullah Al-Uzma Makarim Shirazi secara terbuka di media massa menyatakan bahwa tindakan ekstrim dari Yasser al Habib adalah konspirasi dari musuh-musuh Islam yang tak menginginkan kaum Muslim bersatu:

Kami mengutuk keras penghinaan terhadap istri-istri Nabi Muhammad. Para ulama perlu waspada dan menggagalkan konspirasi musuh-musuh Islam.”

Kemunculan sosok seperti Yasser Al Habib  tentu juga mendapat kecaman keras dari Rahbar atau Pemimpin Agung Muslim Syiah dunia, Ayatullah Al-Uzma Ali Khamenei.
Secara tegas Rahbar mengeluarkan fatwa:

Baca Juga:  Sejarah yang Terlupa: Jejak Besar Ulama Sunni dari Persia Sebelum Era Safawi

Dilarang menghina simbol saudara-saudara Sunni, termasuk menuduh istri Nabi Islam (Aisyah) merusak kehormatannya. Ini termasuk istri semua nabi, dan khususnya nabi besar, Nabi Muhammad saw.”

Fatwa yang tegas dan gamblang dari para pemimpin tinggi mazhab Ahlulbait ini merupakan sikap yang jelas bahwa Muslim Syiah di seluruh dunia ikut mengecam para ulama gadungan yang berusaha memecah-belah persatuan Islam dengan cara mencaci para khalifah dan istri-istri Nabi Muhammad saw yang mulia.

Bagi mazhab Syiah, persatuan kaum Muslim adalah keharusan demi tegaknya panji Islam. Tidak mungkin kejayaan Islam bisa dicapai bila hanya dipanggul oleh satu mazhab saja.

Semua mazhab harus konsisten dan satu suara dalam mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang tidak substansial demi kepentingan umat yang lebih besar.

Memang benar, bagi Syiah Imamiyah, doktrin Imamah Ahlulbait merupakan keyakinan final. Namun tidak dibenarkan, bahkan dianggap berdosa, jika sampai mengkafirkan umat Islam lain yang tidak meyakini doktrin tersebut.

Sebab, seseorang disebut Muslim apabila ia mengakui keesaan Allah dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Cukup sampai di situ.

Sedangkan firqah dan mazhab hanyalah sarana atau ekspresi umat Islam dalam menjalankan praktik beragama. Meskipun terdapat banyak mazhab, kita tetap harus sadar bahwa kita adalah “satu Islam”.

Sebagai penutup, kami bawakan ucapan Imam Ja’far Shadiq as tentang persatuan Islam:

Agama Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah. Atas dasar itulah nyawa manusia dijamin keselamatannya, atas dasar itulah berlangsung pernikahan dan pewarisan, dan atas dasar itu pula kesatuan jamaah kaum Muslim.” (HR Al-Kulaini dalam Al-Kafi)

Wallahu a’lam.*

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA