ISLAM LIVE – Dalam lanskap filsafat Islam yang begitu luas dan memiliki banyak rubrik, tradisi ini tidak hanya berkembang dalam satu arus tunggal, melainkan bercabang ke dalam berbagai konsentrasi seperti filsafat peripatetik (mashsha’iyyah), iluminasionisme (ishr̄aqiyyah), teosofi transendensi (ḥikmah muta’aliyyah), teologi dialektis (kalam), hingga dimensi esoterik yang mengintegrasikan tasawuf dan filsafat atau dikenal sebagai irfan.
Pada cabang terakhir inilah muncul para tokoh yang penekanannya berfokus pada pengalaman batin yaitu dzawq dan kasyaf sebagai jalan pengetahuan, di antaranya figur besar seperti Ibn ‘Arabi yang seringkali dipredikasi buruk oleh ulama skriptualis atau dzahiri normatif seperti Ibn Taymiyyah, Shinqity, dll.
Tidak jarang, pemikirannya dipandang dengan penuh kecurigaan, bahkan distigmatisasi sebagai ajaran yang menyimpang dari ortodoksi, terutama karena doktrin waḥdat al-wujūd (walaupun pencetus pertama adalah al-Qunawi) yang secara implisit terkandung dalam susunan literatur teksnya. Bahkan ‘Abdurrahman dalam kitab al-ruddu ‘ala al-qāilīna bi waḥdat al-wujūd, memasukan Ibn ‘Arabi ke dalam golongan yang terlaknat.
Ini terdengar ekstrim. Namun demikian, di balik berbagai assessment tersebut, posisinya dalam sejarah filsafat Islam tetap tidak dapat diabaikan: ia berdiri di persimpangan antara filsafat dan tasawuf, menghadirkan sintesis unik yang terus memicu perdebatan, reinterpretasi, dan juga kekaguman hingga hari ini. Tapi, dinamika seperti ini mewarnai khazanah keilmuan, sehingga melahirkan banyak perspektif dalam perkembangan disiplin ilmu irfan.
Ibn ‘Arabi (1165–1240 M) merupakan salah satu figur paling kompleks dalam tradisi pemikiran Islam, karena ia memadukan keluasan rasional seorang filsuf dengan kedalaman spiritual seorang sufi berbasis batiniah.
Ia bukan hanya penyair mistik yang intens dalam mengabstraksi banyak hal seputar keilahiyyatan, melainkan juga sebagai pemikir metafisis yang memiliki pandangan sistematik tentang hakikat realitas. Seperti ditegaskan oleh para pengkaji:
من غير شك من حيث أن له مذهباً في طبيعة الوجود كسائر الفلاسفة
“Tidak diragukan lagi bahwa Ibn ‘Arabi memiliki mazhab tersendiri mengenai hakikat wujud seperti para filsuf lainnya.” (Fuṣūṣ al-Ḥikam, juz. 1, 10)
Dengan demikian, penulis memandang bahwa Ibn ‘Arabi bisa dikatakan sebagai seorang ontolog dalam arti sejati: ia menafsirkan seluruh wujud sebagai manifestasi tunggal dari Keberadaan Mutlak.
Mengingat pandangannya yang dikenal sebagai waḥdat al-wujūd (kesatuan eksistensi), yakni bahwa segala sesuatu yang tampak jamak hanyalah penyingkapan dan manifestasi dari satu realitas hakiki, yaitu Tuhan, dalam irfan diistilahkan dengan Al-Haq. Filsafatnya bukanlah metafisika rasionalistik, melainkan mistik ontologis yang menyatukan pengalaman spiritual dengan refleksi intelektual.
Namun, berbeda dari para filsuf peripatetik yang berbicara dengan bahasa logika dan proposisi, Ibn ‘Arabi dalam hal ini menempuh jalan simbol dan intuisi.
Dalam kerangka ini, bahasa tidak lagi hanya sebagai alat penyampai makna yang netral, tetapi ruang di mana makna itu sendiri terus tersingkap dan bergerak. Karena itu, Fuṣūṣ al-Ḥikam tidak bisa dibaca seperti teks biasa.
Simbol dan isyarat di dalamnya bekerja seperti tirai sekaligus jendela: menutup makna bagi pembaca yang masih berada di permukaan, namun membuka kedalaman bagi mereka yang siap traveling makna lebih jauh. Di titik ini, bahasa bukan lagi soal menjelaskan, tetapi mengantarkan kepada pengalaman yang dialami melalui dzawq.
Selanjutnya, kedalaman Ibn ‘Arabi terletak pada kemampuan menggabungkan pemikiran dan imajinasi (khayāl) dengan sensitivitas ruhani (ḥiss rūḥī). Hal ini dijelaskan dalam teks:
و إن وهب بسطة في الفكر و الخيال، و عمقاً في الحس الروحي، يعوزه المنهج الفلسفي الدقيق والتحليل العلمي المنظم
“Meskipun Ibn ‘Arabi dikaruniai keluasan dalam pemikiran dan imajinasi serta kedalaman dalam kepekaan spiritual, ia tidak menempuh metode filosofis yang presisi dan analisis ilmiah yang sistematis.” (Fuṣūṣ al-Ḥikam, juz. 1, 9).
Sebagian pengkaji memang melihat bahwa Ibn ‘Arabi tidak menggunakan metode filsafat yang ketat seperti para filosof pada umumnya. Namun di sinilah letak perbedaannya: ia tidak sedang meninggalkan akal, melainkan menempatkannya pada batas lokusnya.
Bagi Ibn ‘Arabi, tidak semua kebenaran bisa ditangkap oleh logika. Ada wilayah makna yang hanya terbuka ketika manusia tidak hanya berpikir, tetapi juga mengalami.
Maka, apa yang tampak sebagai ‘ketidaksistematisan’ justru dapat dibaca sebagai upaya melampaui batas rasio, dan hal ini tentu bertujuan untuk membawanya ke horizon yang lebih luas.
Karya-karya Ibn ‘Arabi seperti al-Futūḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Ḥikam memperlihatkan bagaimana ide filosofis diliputi oleh bahasa puisi dan simbolisme batin. Testimoni dari penganalisa karyanya menyebutkan bahwa:
فإن القارئ لهذا الكتاب لا يكاد يظفر بالفكرة الفلسفية فيه حتى يجدها و قد غابت عن نظره تدريجاً تحت ستار من الرمزية
“Maka sesungguhnya pembaca untuk kitab ini hampir tidak sempat menangkap gagasan filosofis di dalamnya, sampai dia mendapati bahwa gagasan itu telah berangsur menghilang dari pandangannya di bawah tirai simbolisme.” (Fuṣūṣ al-Ḥikam, juz. 1, 10).
Dalam hal ini, metafora ‘tirai’ tidak menunjuk pada penutupan makna secara absolut, melainkan pada selektivitas epistemik: hanya subjek yang mengalami transformasi batin yang mampu menembus lapisan simbolik tersebut.
Maka, secara tidak langsung Ibn ‘Arabi bukan hanya pemikir metafisis, melainkan juga pendidik ruhani yang mengajak pembacanya untuk melewati transformasi epistemologis: dari yang hanya pengamatan rasional menuju penyingkapan batin, dari bahasa menuju makna, dan dari simbol menuju hakikat.
Tidak berlebihan jika penulis katakan bahwa dalam diri Ibn ‘Arabi, filsafat menjadi dzikir, dan ontologi menjadi mi‘raj menuju kesatuan wujud.
Pada akhirnya, pemikiran Ibn ‘Arabi tidak dapat direduksi semata sebagai sistem metafisika ataupun ekspresi mistik yang terpisah dari rasionalitas, melainkan harus dipahami sebagai suatu horizon epistemik dimana wujud, makna, dan pengalaman bertemu dalam satu kesatuan yang dinamis.
Ia tidak hanya menawarkan doktrin tentang kesatuan wujud, tetapi juga mengajarkan cara membaca realitas sebagai teks Ilahi yang selalu membuka kemungkinan penyingkapan makna yang berlapis.
Dalam kerangka ini, simbol bukan sebatas bahasa alternatif, melainkan jalan epistemologis yang menuntut transformasi subjek penafsir.
Dengan demikian, konteks hermeneutika ontologi Ibn ‘Arabi tidak berhenti pada pemahaman makna saja, tetapi bergerak menuju perwujudan makna dalam diri. Di sinilah letak kekuatan sekaligus tantangannya: bahwa memahami Ibn ‘Arabi berarti memasuki sebuah proses, bukan spontan mencapai kesimpulan dari hakikat-hakikat abstrak.
Ini merupakan sebuah perjalanan dari pengetahuan menuju kehadiran, dari interpretasi menuju pengalaman, dan dari wacana menuju penyaksian.
