Hafni Zahra Abu Hanifah, Pejuang Perempuan yang Mengabdikan Hidup untuk Indonesia

1 views
Abu Hanifah dan Istri (Hafni Zahra) pada tahun 1935
ISLAM LIVE – Perjuangan Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah tak henti-hentinya ketika Indonesia meraih kemerdekaan. Sejak masa pergerakan nasional hingga usia lanjut, ia terus mengabdikan diri melalui aktivitas organisasi, pendidikan, dan pelatihan perempuan.
Hafni Zahra lahir di Medan pada 13 September 1912 dari pasangan Moh. Samin Thaib dan Siti Ara Dati. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan perjuangan melawan penjajahan. Ayahnya nasional yang merupakan aktivis Sarekat Islam kerap ditahan pemerintah kolonial Belanda, pengalaman yang ikut membentuk karakter dan semangatismenya sejak muda.
Memasuki usia remaja, Hafni mulai aktif dalam organisasi Serikat Islam dan Jong Islamieten Bond (JIB). Kegiatannya dalam menyuarakan semangat kebangsaan membuat pemerintah kolonial memasukkan daftar hitam bersama sejumlah pemuda lainnya.
Kondisi tersebut mendorong Hafni pindah ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan sekaligus memperluas jaringan perjuangan. Di Bandung, ia bergabung dengan Pemuda Indonesia dan berinteraksi dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk Soekarno dan Sutan Sjahrir.
Atas rekomendasi Soekarno, Hafni kemudian melanjutkan pendidikan di Taman Siswa Yogyakarta yang dipimpin Ki Hajar Dewantara. Langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya dalam memperkuat semangat kebangsaan.
Pada tanggal 19 Oktober 1932, Hafni menikah dengan Prof. Dr. Abu Hanifah, tokoh Masyumi yang dikenal sebagai dokter, intelektual, dan diplomat. Kehidupan keluarga mereka tetap berada dalam pusaran perjuangan bangsa, terutama ketika Abu Hanifah menahan Belanda.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Hafni tetap menjalankannya dalam keluarga sekaligus mempertahankan semangat pengabdian. Ketika Revolusi Kemerdekaan berlangsung, ia mengambil peran aktif di Sukabumi.
Di daerah tersebut, Hafni mendirikan Gerakan Putri Islam Indonesia. Ia juga terlibat dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit, mengelola dapur umum, hingga menjalankan tugas sebagai kurir yang membawa dokumen penting pemerintah dan logistik perjuangan.
Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Hafni terus berlanjut. Ia aktif sebagai Sekretaris Yayasan Wanita Pejuang dan mendorong perempuan Indonesia agar mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
Dalam wawancara yang dimuat Sinar Harapan pada tahun 1982, Hafni menyampaikan bahwa perjuangan generasinya mengalami perubahan setelah kemerdekaan diraih.
“Kami, dari Angkatan ’28, dulu berjuang untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Dan kemerdekaan memang terwujud. Kini kita mengisinya dengan pembangunan di segala bidang.”
Semangat tersebut terus ia jalankan hingga usia lanjut. Hafni tetap aktif membaca, menulis, mengikuti kegiatan organisasi, hingga mendesain perabot rumah. Ia juga menunjukkan perhatian terhadap berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk masa depan generasi muda dan ancaman terhadap perdamaian dunia.
Kisah Hafni Zahra Abu Hanifah menjadi gambaran bahwa perjuangan tidak berhenti setelah kemerdekaan tercapai. Melalui pendidikan, organisasi, dan kegiatan sosial, ia menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan keseluruhan hayat.
Baca Juga:  Konten Kreator Kini Jadi Mitra Dakwah di Era Digital
TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA