ISLAM LIVE – Pemukim Israel membakar dua masjid di sejumlah desa di Tepi Barat yang diduduki pada Minggu (26/7) dini hari, beberapa jam setelah bentrokan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel di dekat Kota Nablus.
Serangan terjadi di Desa Qusra, tenggara Nablus, dan di dekat Desa Kour, sebelah tenggara Tulkarm. Di Qusra, sebuah masjid yang baru selesai dibangun dibakar dan dindingnya dicoret grafiti berbahasa Ibrani, termasuk tulisan “Jewish revenge” (balas dendam Yahudi). Sementara di Kour, warga berhasil memadamkan api sebelum kobaran mencapai ruang utama masjid.
“Masjid itu sudah berada pada tahap akhir pembangunan dan siap digunakan untuk menerima para jemaah. Masjid itu bahkan sudah dilengkapi dengan sofa. Mereka membakarnya dan mencoret dindingnya dengan slogan-slogan berbahasa Ibrani,” kata Kepala Dewan Desa Qusra Abdel Azim Wadi kepada Reuters.
Menurut otoritas Palestina, aksi tersebut terjadi setelah bentrokan pada Jumat di Desa Tal, barat daya Nablus, ketika sekelompok pemukim Israel mendatangi desa itu. Dalam insiden tersebut, empat warga Palestina dan dua tentara Israel, salah satunya bertugas sebagai koordinator keamanan permukiman Israel, dilaporkan tewas. Pihak Palestina menuduh para pemukim memicu bentrokan, sementara militer Israel menyatakan kedua belah pihak saling melepaskan tembakan.
Militer Israel menyatakan pasukannya yang tiba di Qusra menemukan bekas pembakaran dan grafiti di lokasi kejadian serta tengah memburu para pelaku. Pihak militer juga menegaskan mengutuk tindakan yang merusak tempat ibadah dan akan mengambil langkah untuk menjaga keamanan serta ketertiban di kawasan tersebut.
Kantor Perdana Menteri Palestina menyebut kekerasan yang dilakukan pemukim Israel dengan dukungan negara semakin meningkat dan berubah menjadi serangan sistematis terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan. Pada saat yang sama, pasukan Israel juga menangkap sekitar 60 warga Palestina dalam operasi keamanan di berbagai wilayah Tepi Barat.
Menanggapi meningkatnya kekerasan, Paus Leo menyatakan keprihatinannya dan menyerukan agar semua pihak kembali ke jalur perundingan untuk mencapai solusi politik yang adil. Ia juga mengajak semua pihak menghormati kesucian dan status tempat-tempat ibadah dari seluruh agama.
