Menjaga Relevansi Tradisi Jimpitan di Tengah Modernisasi Indonesia

5 views

ISLAM LIVE – Di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi sistem keuangan, sebuah tradisi komunal yang bersumber dari kearifan lokal pedesaan Jawa tetap bertahan dan menjadi tulang punggung solidaritas tingkat Rukun Tetangga (RT). Tradisi tersebut adalah Jimpitan—sebuah praktik pengumpulan sumbangan sukarela dalam skala mikro yang sarat akan nilai gotong royong.

Istilah jimpitan berasal dari bahasa Jawa, yakni jimpit, yang berarti mengambil sesuatu menggunakan ujung-ujung jari. Secara historis, tradisi ini berakar dari masa penjajahan Belanda ketika masyarakat mengalami tekanan ekonomi berat dan masa paceklik.

Guna mengantisipasi kerawanan pangan dan menjaga ketahanan stok dapur warga, para leluhur menginisiasi gerakan pengumpulan bahan pokok—terutama beras—secara rutin. Di Jawa Barat, tradisi serupa dikenal dengan istilah beas perelek. Kegiatan ini melekat erat dengan aktivitas ronda malam, di mana petugas ronda keliling mengambil “sejumput” beras atau kebutuhan pokok dari depan tiap-tiap rumah warga.

Baca Juga:  Jawa Barat dan Selangor Jajaki Kerja Sama Ekonomi Syariah

Seiring berjalannya waktu dan perbaikan taraf ekonomi, bentuk fisik jimpitan mengalami pergeseran dari yang semula beras menjadi uang receh (umumnya berkisar antara Rp200 hingga Rp1.000 per rumah setiap harinya).

Kendati demikian, fungsi esensialnya tetap dipertahankan untuk membantu warga sekitar yang sedang tertimpa musibah, sakit, atau memerlukan biaya pengobatan mendesak.

Jimpitan saat ini juga adalah untuk membiayai perbaikan fasilitas umum, kerja bakti, perayaan hari besar nasional (seperti 17 Agustusan), hingga operasional Posyandu, serta menjadi instrumen perekat sosial yang menumbuhkan rasa kepedulian antar-tetangga tanpa memandang status sosial.

Memasuki era digital, tradisi jimpitan membuktikan daya tahan adaptifnya. Di berbagai perumahan modern atau perkotaan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, kotak kayu kecil atau kaleng jimpitan yang biasa digantung di depan pagar rumah kini mulai berdampingan dengan inovasi digital seperti pemanfaatan QRIS atau transfer dompet digital khusus kas RT.

Baca Juga:  Purbaya Pastikan Pemerintah Tak Naikkan Tarif Pajak

Pengamat sosial menilai bahwa kekuatan utama jimpitan terletak pada transparansi dan kedekatan kulturalnya. Pengelolaan yang dikelola secara transparan oleh pengurus RT atau unsur PKK menjadikan tradisi ini tetap dipercaya masyarakat sebagai instrumen jaring pengaman sosial yang paling dekat dengan akar rumput.

Di tengah individualisme perkotaan yang kerap melanda masyarakat modern, jimpitan tetap relevan sebagai pengingat bahwa ketahanan sebuah komunitas berawal dari kontribusi-kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten bersama-sama.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA