Belajar Dari Unta, Bahwa Kita Hidup Terlalu Cepat untuk Memahami Arti Bertahan 

33 views

ISLAM LIVE— Di dunia yang serba instan, di mana segalanya dituntut cepat dan segera, ada satu makhluk yang justru bergerak dalam ritme sebaliknya: pelan, tenang, dan nyaris tak tergesa. Unta. Dalam bahasa Arab klasik disebut ibil, ia bukan sekadar hewan gurun, melainkan simbol panjang tentang daya tahan tentang bagaimana hidup dijalani bukan dengan tergesa, tetapi dengan kesanggupan menahan.

Al-Qur’an mengajukan satu pertanyaan yang sederhana, namun menggugah:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

 “Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?”

Ini bukan sekadar ajakan untuk melihat bentuk fisik. Ia adalah undangan untuk merenung: apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari seekor unta?

Dalam khazanah bahasa Arab, kata ibil sendiri menarik. Ia tidak menunjuk pada satu ekor unta secara spesifik, melainkan pada sekumpulan unta. Seolah-olah sejak awal, unta dipahami bukan sebagai individu yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari kawanan yang hidup bersama, bergerak bersama, dan bertahan bersama. Ada nuansa kolektif dalam satu kata.

Namun yang lebih menarik adalah bagaimana akar kata ini berkembang menjadi berbagai makna yang menyentuh kehidupan manusia. Dalam penggunaan klasik, seseorang yang mampu bertahan tanpa air dalam waktu lama disebut memiliki sifat “seperti unta”. Ia menahan, mengelola, dan tidak mudah goyah oleh kekurangan. Unta, dalam hal ini, menjadi ukuran kesabaran.

Makna ini meluas ke dalam ranah yang lebih personal. Ada ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menahan diri dari pasangannya ia “berperilaku seperti unta”. Bukan dalam arti kasar, melainkan dalam pengertian menahan dorongan, menunda keinginan, dan memilih diam dalam kondisi tertentu. Dalam sebuah riwayat lama, diceritakan bahwa setelah kehilangan anaknya, Nabi Adam menjauh dari Hawa sebagai bentuk duka yang mendalam. Bahasa yang digunakan tetap sama: menahan seperti unta.

Baca Juga:  Mukjizat Penciptaan Nabi Isa dan Perdebatan Evolusi

Di sini, kita melihat bagaimana bahasa bekerja lebih dari sekadar menyampaikan makna literal. Ia meminjam dunia hewan untuk menjelaskan kompleksitas emosi manusia. Kesedihan, kehilangan, dan pengendalian diri semuanya dirangkum dalam satu metafora yang sederhana.

Unta juga menjadi ukuran status sosial. Pada masa lalu, semakin banyak unta yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kedudukannya. Bahasa Arab mengenal istilah untuk orang yang “dipenuhi unta” sebuah gambaran tentang kekayaan. Tapi bahasa yang sama juga tajam dalam menilai: ada ungkapan untuk seseorang yang tidak mampu bertahan di atas punggung unta artinya, ia tidak stabil, tidak siap menghadapi perjalanan panjang.

Dalam konteks ini, unta bukan lagi sekadar alat transportasi atau sumber ekonomi. Ia menjadi cermin karakter. Siapa yang mampu mengelola “unta-untanya” baik dalam arti literal maupun simbolik dialah yang dianggap matang.

Menariknya, akar kata yang sama juga melahirkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang datang dalam kelompok-kelompok terpisah, berlapis-lapis. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan: 

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

“Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang datang berbondong-bondong”

Kata yang digunakan menggambarkan gerak yang tidak tunggal, tetapi bertahap, berkelompok, dan berulang. Seperti perjalanan panjang yang tidak ditempuh sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit.

Baca Juga:  Neraca Yang Adil: Membela Hadis-Hadis Di Kitab Ihya Ulumuddin

Di sinilah relevansi kata ibil terasa begitu dekat dengan kehidupan modern. Kita hidup dalam tekanan untuk selalu cepat: cepat berhasil, cepat kaya, cepat selesai. Namun hidup, seperti perjalanan di gurun, sering kali tidak memberi ruang untuk tergesa. Ia menuntut ketahanan, bukan sekadar kecepatan.

Unta tidak berlari tanpa henti. Ia tahu kapan harus berjalan, kapan harus berhenti, dan bagaimana menyimpan energi untuk perjalanan yang lebih panjang. Ia tidak panik ketika sumber air tidak segera ditemukan. Ia membawa cadangannya sendiri, mengandalkan daya tahannya, bukan kenyamanan sesaat.

Bandingkan dengan manusia hari ini. Sedikit keterlambatan saja bisa memicu kegelisahan. Sedikit kekurangan bisa terasa seperti krisis. Kita terbiasa dengan kelimpahan, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam keterbatasan.

Di titik inilah, pelajaran dari ibil menjadi terasa relevan, bahkan mendesak. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kebutuhan harus segera dipenuhi. Tidak semua dorongan harus diikuti. Ada nilai dalam menunda, dalam bersabar, dalam bertahan.

Ketika Al-Qur’an mengajak untuk “memperhatikan unta”, mungkin yang dimaksud bukan sekadar mengagumi desain biologisnya. Ia adalah ajakan untuk membaca ulang cara kita hidup. Apakah kita terlalu bergantung pada kenyamanan? Apakah kita kehilangan kemampuan untuk menahan diri?

Unta, dalam kesederhanaannya, menawarkan satu pelajaran yang jarang diajarkan secara eksplisit: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa cepat kita bergerak, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan.

Dan dalam dunia yang semakin bising oleh tuntutan kecepatan, pelajaran itu terasa seperti jeda yang sunyi tetapi justru di situlah maknanya tumbuh.

 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA