ISLAM LIVE— Di zaman ketika relasi manusia makin cair dan identitas sering bergeser, kata “saudara” terasa kian ringan dipakai di media sosial, di ruang politik, bahkan dalam transaksi yang serba pragmatis. Tapi benarkah kita masih memahami maknanya? Atau jangan-jangan, kata itu telah kehilangan kedalaman yang dulu menjadikannya fondasi peradaban?
Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata akh أخ bukan sekadar menunjuk pada saudara kandung. Ia memang berakar dari hubungan kelahiran, baik dari dua orang tua, satu pihak, atau bahkan dari persusuan. Namun, makna itu meluas. “Saudara” bisa berarti siapa saja yang berbagi sesuatu: suku, agama, profesi, bahkan rasa dan pengalaman. Dengan kata lain, persaudaraan bukan sekadar fakta biologis, melainkan sebuah ikatan makna.
Al-Qur’an mengangkat konsep ini ke tingkat yang lebih dalam. Ia tidak berhenti pada hubungan darah, tetapi menembus ke wilayah keyakinan dan etika. Dalam satu ayat, Allah Ta’ala memperingatkan:
لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ
“Janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang berkata kepada saudara-saudara mereka…” (QS. Ali Imran: 156)
Kata “saudara” di sini tidak merujuk pada keluarga, melainkan pada mereka yang berbagi kekafiran yang sama. Ini menarik: bahkan dalam kesesatan, manusia tetap mencari dan membangun “persaudaraan”. Artinya, naluri untuk berkelompok dan merasa terikat adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam diri manusia.
Namun Islam mengarahkan naluri itu ke arah yang lebih luhur. Dalam ayat lain ditegaskan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini singkat, tetapi revolusioner. Ia memutus batas-batas lama: suku, ras, kelas sosial. Persaudaraan tidak lagi ditentukan oleh siapa orang tua kita, melainkan oleh apa yang kita yakini. Dalam konteks ini, iman menjadi titik temu yang melahirkan solidaritas.
Menariknya, Al-Qur’an juga menggunakan metafora yang sangat tajam untuk menggambarkan rusaknya persaudaraan:
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
“Adakah salah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ini bukan sekadar larangan menggunjing. Ini adalah kritik terhadap cara kita memperlakukan sesama. Ketika seseorang mencederai kehormatan orang lain, melalui kata, fitnah, atau cibiran, ia seperti sedang mengoyak tubuh saudaranya sendiri. Persaudaraan, dalam pengertian ini, bukan sekadar status, melainkan tanggung jawab moral.
Dalam ayat lain, gambaran tentang persaudaraan mencapai bentuk yang nyaris utopis:
إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
“Mereka duduk sebagai saudara di atas dipan-dipan, saling berhadapan” (QS. Al-Hijr: 47)
Ini adalah potret kehidupan di surga: tanpa konflik, tanpa iri, tanpa luka lama. Kata “saling berhadapan” memberi kesan keterbukaan, tidak ada yang disembunyikan, tidak ada dendam yang tersisa. Persaudaraan di sini adalah harmoni yang utuh.
Namun konsep “saudara” dalam Al-Qur’an tidak berhenti pada hubungan antarindividu. Ia juga digunakan secara metaforis dalam banyak konteks lain. Misalnya, ketika Maryam dipanggil:
يَا أُخْتَ هَارُونَ
“Wahai saudari Harun…” (QS. Maryam: 28)
Ia bukan saudari kandung Nabi Harun a.s. Ungkapan ini merujuk pada kesalehan, seolah Maryam adalah “saudara” dalam kualitas spiritual. Ini mirip dengan ungkapan dalam budaya kita: “saudara seperjuangan” atau “saudara seiman”. Persaudaraan, sekali lagi, adalah soal nilai yang dibagi.
Demikian pula para nabi disebut sebagai “saudara” bagi kaumnya:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ
“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka…” (QS. Al-A’raf: 73)
Penyebutan ini bukan kebetulan. Ia menandakan kedekatan emosional, bahwa para nabi tidak datang sebagai hakim yang dingin, tetapi sebagai saudara yang peduli. Mereka menegur dengan kasih, bukan dengan jarak.
Bahkan dalam menggambarkan ayat-ayat Allah, Al-Qur’an menggunakan istilah “saudara”:
إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا
“Tiada suatu tanda pun yang Kami perlihatkan, melainkan yang satu lebih besar dari yang lainnya.” (QS. Az-Zukhruf: 48)
Ayat-ayat itu disebut “saudara” karena saling berkaitan, memiliki kebenaran, kejelasan, dan fungsi yang sama. Ini menunjukkan bahwa konsep persaudaraan juga bisa berlaku pada hal-hal yang berbagi sifat dan tujuan.
Namun tidak semua “persaudaraan” membawa kebaikan. Al-Qur’an juga menggambarkan ironi ketika kelompok-kelompok sesat saling melaknat:
كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا
“Setiap kali suatu umat masuk (ke neraka), ia melaknat saudara-saudaranya” (QS. Al-A’raf: 38)
Di sini, “saudara” menjadi simbol kebersamaan dalam kesalahan. Mereka dulu bersatu dalam kesesatan, tetapi akhirnya saling menyalahkan. Persaudaraan yang tidak dibangun di atas kebenaran, pada akhirnya, rapuh.
Di titik ini, kita mulai melihat satu benang merah: persaudaraan dalam Islam bukan sekadar soal kedekatan, tetapi soal arah. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau justru menyeret ke jurang yang sama.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering menyebut orang lain sebagai “saudara” di tempat kerja, di komunitas, di dunia maya. Tapi seberapa jauh kita memaknai itu? Apakah kita benar-benar menjaga mereka, seperti kita menjaga diri sendiri? Atau kata itu hanya basa-basi sosial yang kehilangan ruhnya?
Menariknya, dalam bahasa Arab, ada kata kerja ta’akhkha yang berarti “mencari saudara” atau “berusaha menjadi saudara”. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan bukan sesuatu yang otomatis. Ia perlu diupayakan, dipelihara, dan diuji.
Barangkali, di tengah dunia yang makin individualistik, kita perlu kembali bertanya: siapa sebenarnya saudara kita? Dan lebih penting lagi, apakah kita sudah menjadi saudara yang layak bagi orang lain?
Karena pada akhirnya, persaudaraan bukan tentang siapa yang lahir bersama kita. Ia adalah tentang siapa yang kita pilih untuk kita jaga dan siapa yang diam-diam ikut menjaga kita.
