Thaumazein: Keheranan Yang Menjadi Awal Segala Kebijaksanaan

23 views

ISLAM LIVE Bayangkan langit siang tiba-tiba menggelap di tengah terik yang sempurna. Burung-burung berhenti berkicau. Angin tak lagi bertiup. Matahari, yang selama jutaan tahun terbit tanpa gagal, perlahan lenyap tanpa peringatan. Seluruh peradaban kuno selalu bereaksi dengan cara yang sama: berlari, berteriak, mempersembahkan korban! 

Namun, di suatu titik dalam sejarah, ada yang berubah. Manusia perlahan tidak lagi bertanya “siapa” yang menelan matahari. Mereka mulai bertanya “mengapa” kegelapan datang dengan keteraturan yang begitu sempurna, begitu matematis, bahkan begitu tak acuh terhadap doa maupun kepanikan.

Pertanyaan itulah yang oleh Aristoteles disebut thaumazein: rasa heran yang bukan sekadar takjub, melainkan kegelisahan intelektual untuk menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar cerita. 

Dalam Metaphysica, Aristoteles menulis dengan tegas: “Karena rasa heranlah manusia, baik sekarang maupun dahulu, memulai berfilsafat.” Pernyataan ini tentu lebih dari sekadar pembuka elegan. Ia lebih mirip disebut sebagai diagnosis atas seluruh jalan peradaban. Ia merupakan refleksi mendalam tentang garis yang memisahkan dua cara manusia berdiri di hadapan dunia: dengan mitos atau dengan logos.

Penting diperhatikan, jauh sebelum Thales dari Miletus bertanya tentang substansi dasar alam semesta, manusia sebenarnya sudah mengenal perasaan “heran”. Mereka heran terhadap petir, terhadap kematian, terhadap kelahiran dan berbagai fenomena lainnya. Akan tetapi, rasa heran itu segera dijinakkan dan dibungkus dalam narasi yang menenangkan. Misalnya, petir dinarasikan sebagai efek amarah Zeus. Musim dingin sebagai akibat turunnya Persephone ke dunia bawah. Prometheus mencuri api agar manusia dapat bertahan hidup.

Inilah yang disebut Aristoteles sebagai phylomythos: si pencinta mitos. Ia tidak berarti bodoh atau naif. Justru sebaliknya: ia kreatif, imajinatif, dan sangat manusiawi. Mitos adalah teknologi kognitif pertama manusia untuk menghadapi ketidakpastian. Ia mengubah “yang tak terjawab” menjadi “yang terceritakan”; memberi wajah pada yang tak berwajah, memberi nama pada yang tak bernama.

Baca Juga:  Perihelion, Nafas Rahmani, dan Kita

Namun ada harga yang harus dibayar. Dalam mitos, thaumazein tidak dibiarkan tumbuh menjadi penyelidikan, karena ia dipadamkan oleh narasi yang estetik dan emosional. Pertanyaan “mengapa petir ada?” akan berhenti begitu kita menjawab “karena Zeus”. Dalam kasus ini, keheranan diberhentikan, bukan diselesaikan.

Dengan latar belakang inilah kita bisa menyebut gairah penelitian para Filsuf Ionia pada abad ke-6 SM sebagai lompatan besar dalam sejarah intelektual manusia. Thales, Anaximander, Anaximenes memang bukan orang pertama yang mengalami keheranan. Namun, mereka bisa disebut sebagai orang pertama yang tidak segera menutup rasa herannya dengan cerita. Mereka membiarkan thaumazein dalam diri mereka menganga, memembuat risih, menciptakan krisis, sampai matang menjadi logos.

Thales berkata: air adalah arche (prinsip pertama segala sesuatu). Boleh jadi jawabannya tidak tepat. Tapi, bukankah cara ia bertanya sudah sepenuhnya berbeda? Ia tidak bertanya “siapa yang menciptakan air?” melainkan “apa yang ada di balik semua yang tampak?” Pertanyaan semacam ini tidak membutuhkan asumsi dewa. Ia hanya membutuhkan akal.

Inilah yang dimaksud Aristoteles dengan phylosophos: si pencinta kebijaksanaan. Ia mungkin tidak bisa disebut “lebih benar” dari si pencinta mitos. Kendati demikian, ia lebih berpeluang untuk menerima kebenaran. Sebab, ia selalu bersedia untuk tidak tahu. Dari ketidaktahuan itulah ia akan memulai beragam penyelidikannya. 

Maka, thaumazein dalam tradisi filosofis Yunani bukan sekadar emosi sesaat yang kemudian ditinggalkan. Ia merupakan kondisi permanen dari pikiran yang sehat. Ia adalah tanda bahwa akal masih terus hidup dan bergerak.

Baca Juga:  Dari Jisim menuju Jiwa: Metafisika Organik dalam Politik Al-Farabi

Dari sini, perbedaan antara mitos dan logos bukan pada objek keheranannya, melainkan pada keberanian untuk membiarkan keheranan itu tetap terbuka. Mitos menutup pertanyaan dengan cerita, sedangkan logos justru membuka cerita dengan pertanyaan. Di sinilah letak revolusi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah pemikiran manusia; bukan pada penemuan jawaban baru, melainkan pada cara baru untuk bertanya.

Mengapa konsep ini masih relevan, bahkan makin mendesak hari ini? Karena kita hidup di era yang memberi jawaban sebelum pertanyaan sempat dirumuskan. Mesin pencari, algoritma, notifikasi, semuanya bergerak lebih cepat dari rasa heran kita. Kita tidak lagi diberi waktu untuk menyelami kebingungan. Begitu ada kejanggalan, ada ribuan konten yang siap menjelaskan, atau lebih tepatnya: yang siap memberi hiburan.

Akhirnya, hari ini kita kembali menjadi phylomothos, tapi dengan mitos baru: narasi viral, konsensus media sosial, dan ideologi yang sudah dikemas rapi. Thaumazein yang sejati, yang membuat kita menikmati pertanyaan yang belum terjawab, pun semakin langka. Padahal, di sanalah letak martabat intelektual manusia. 

Sepertinya kita sangat perlu menormalisasi keheranan diri. Keheranan bukan kelemahan. Keheranan adalah tanda bahwa kita masih menganggap serius kenyataan, bahwa kita belum puas dengan penjelasan yang terlalu mudah, bahwa kita masih terus dibuat takjub oleh dunia.

Thaumazein mengajarkan bahwa awal dari semua kebijaksanaan ialah kesediaan untuk tidak tahu. Dalam dunia yang makin membuat kita terlampau yakin pada diri sendiri, kesediaan semacam itu merupakan bentuk keberanian yang langka, sekaligus yang paling dibutuhkan. Boleh jadi, spirit thaumazein lah yang membuat Ibrahim as tidak berhenti pada “yang terbenam” (5: 76).

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA