Kajian Hadis: Berbagai Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha

9 views

ISLAM LIVE.ID — Memasuki bulan Dzulhijjah atau pekan haji dan Hari Raya Idul Adha, seyogianya umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji tetap ikut menghidupkan syiar hari raya dengan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW di rumah masing-masing.

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momentum menyembelih hewan kurban atau mengenakan pakaian baru. Lebih dari itu, Idul Adha adalah hari besar yang penuh dengan nilai ibadah, pengorbanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan berbagai amalan sunnah agar kaum Muslim memperoleh pahala dan keberkahan yang besar pada hari mulia tersebut.

Banyak umat Islam memahami Idul Adha hanya sebatas salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Padahal dalam tradisi Islam, terdapat sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan sejak malam Idul Adha hingga hari-hari tasyrik. Amalan-amalan ini bukan hanya bernilai ritual, tetapi juga membentuk kepekaan spiritual dan sosial seorang Muslim.

Menghidupkan Malam Idul Adha

Salah satu amalan sunnah yang sering dilupakan kaum Muslim adalah menghidupkan malam Idul Adha dengan ibadah. Dalam beberapa riwayat, malam hari raya disebut sebagai malam yang penuh kemuliaan dan rahmat dari Allah SWT.
Dari Ubadah bin Shamit ra, Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa menghidupkan malam Idulfitri dan Iduladha, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati manusia mati.”
(HR. At-Thabrani dan Al-Haitsami)

Hadis lain dari Abu Umamah ra menyebutkan:

Barangsiapa menyemarakkan malam dua hari raya semata-mata mengharap ridha Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari ketika hati manusia mati.
(HR. Imam Syafi’i dan Ibnu Majah)

Karena itu, para ulama seperti Imam Syafi’i menganjurkan agar kaum Muslim menghidupkan malam-malam hari raya dengan berbagai amal saleh. Dalam kitab Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, disebutkan bahwa menghidupkan malam Idulfitri dan Iduladha termasuk amalan yang disunnahkan.

Cara menghidupkan malam Idul Adha tentu tidak harus dengan ibadah yang berat. Seseorang bisa mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, memperbanyak takbir, berzikir, berdoa, bersedekah, atau melaksanakan salat malam. Bahkan berkumpul bersama keluarga sambil mengagungkan nama Allah juga termasuk bentuk menyemarakkan malam hari raya.
Di Indonesia sendiri, tradisi takbiran merupakan salah satu bentuk syiar yang sangat indah. Kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dikumandangkan di masjid-masjid dan rumah-rumah kaum Muslim sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Pada Akhirnya, Hidup Bukan Tentang Memiliki, Tetapi Tentang Siap Kehilangan 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itu, malam Idul Adha seharusnya tidak diisi dengan hal-hal sia-sia atau sekadar hiburan duniawi semata. Sangat disayangkan jika malam yang penuh berkah justru dihabiskan dengan aktivitas yang melalaikan.

Sunnah Berkurban
Amalan sunnah terbesar di Hari Raya Idul Adha tentu saja adalah menyembelih hewan kurban. Ibadah ini merupakan simbol ketakwaan dan pengorbanan, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Dari Ibnu Abbas dari Rasulallah saw: ‘Berkurban adalah sunnah kakek kalian Ibrahim.’ Para sahabat bertanya: ‘Apa yang kita dapatkan dari melakukannya ‘ beliau saw menjawab: ‘pada setiap bulu binatang kurban itu ada pahala’. Mereka bertanya lagi: ‘lalu bagaimana dengan bulu domba (wol)?’. Beliau saw menjawab: ‘pada setiap bulu domba juga ada pahala’ (HR. Tirmizi dan disahihkan oleh Imam Hakim).

Hadis ini menunjukkan betapa besar pahala ibadah kurban di sisi Allah SWT. Bahkan setiap bulu hewan kurban dicatat sebagai kebaikan bagi orang yang melaksanakannya.

Kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Di balik ibadah ini terdapat pelajaran tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan pengorbanan. Seorang Muslim diajarkan untuk rela mengeluarkan hartanya demi membantu sesama dan menjalankan perintah Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan pada hewannya, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan orang yang berkurban.

Baca Juga:  Menolak Mati di Lembah Kegelapan: Otopsi Spiritual Manusia Jahiliah Modern

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang, semangat berkurban juga menjadi simbol solidaritas sosial. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, kerabat, dan masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, Idul Adha memiliki nilai kemanusiaan yang sangat kuat.

Memperbanyak Takbir

Amalan sunnah lainnya adalah memperbanyak takbir sejak malam Idul Adha hingga hari-hari tasyrik. Takbir merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Para ulama menyebutkan bahwa takbir Idul Adha dimulai sejak terbenam matahari malam 10 Dzulhijjah hingga akhir hari tasyrik, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
Kalimat takbir yang umum dibaca adalah:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.

Allahu Akbar walillaahil hamd.

Membaca takbir bukan hanya tradisi, tetapi bentuk syukur seorang hamba kepada Allah atas nikmat iman dan kesempatan bertemu hari raya.

Mempererat Silaturahmi

Selain ibadah ritual, Idul Adha juga menjadi momentum mempererat hubungan antarsesama Muslim. Salah satu sunnah yang sangat dianjurkan adalah menyambung silaturahmi.
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda:

Tidak ada amalan anak Adam pada hari Iduladha yang lebih utama daripada menumpahkan darah hewan kurban, kecuali silaturahmi yang ia sambung.”
(HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan sesama Muslim memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.

Di hari raya, umat Islam dianjurkan saling mengunjungi, meminta maaf, dan menghilangkan permusuhan. Jangan sampai Idul Adha hanya menjadi acara makan-makan, tetapi hati masih dipenuhi kebencian dan dendam.

Silaturahmi juga memperkuat persatuan umat Islam. Dalam kondisi masyarakat yang sering terpecah karena politik, perbedaan pandangan, atau persoalan duniawi, Idul Adha seharusnya menjadi momen untuk kembali mempererat ukhuwah Islamiyah.

Semoga di Hari Raya Idul Adha ini, Allah menerima amal ibadah kita, melimpahkan keberkahan kepada keluarga kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.*

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA