Menyelam ke Dalam Bahr: Hikmah tentang Kedalaman Jiwa dan Kematangan Hidup 

10 views

ISLAM LIVE– Di mata banyak orang, laut hanyalah hamparan air yang luas. Kita membayangkan ombak yang bergulung, cakrawala yang tak bertepi, dan kedalaman yang menyimpan misteri. Namun dalam khazanah bahasa Arab, kata bahr البحر yang biasa diterjemahkan sebagai “laut”, ternyata menyimpan makna yang jauh lebih kaya daripada sekadar bentangan air asin.

Bahasa sering kali menjadi cermin cara manusia memahami dunia. Dan ketika para ulama bahasa Arab klasik membedah kata bahr, mereka menemukan bahwa inti maknanya bukan pertama-tama soal air, melainkan soal keluasan.

Asal makna bahr adalah setiap tempat yang sangat luas dan menghimpun air dalam jumlah besar. Dari makna dasar inilah lahir berbagai penggunaan yang berkembang ke banyak arah. Laut disebut bahr karena keluasannya yang menggentarkan. Ia menjadi simbol ruang yang sulit dijangkau ujungnya, sesuatu yang melampaui batas pandangan manusia.

Karena itu, dalam bahasa Arab, kata bahr kemudian dipakai sebagai metafora untuk segala sesuatu yang memiliki keluasan luar biasa. Seseorang yang sangat mendalam ilmunya disebut sebagai “lautan ilmu”. Ungkapan ini bukan sekadar gaya bahasa puitis. Ia berakar dari tradisi linguistik yang panjang. Seorang ulama yang pengetahuannya meliputi banyak bidang dianggap memiliki keluasan seperti laut yang menampung berbagai aliran sungai.

Dari akar yang sama lahir istilah tabahhur, yang berarti memperluas diri dalam suatu bidang ilmu. Orang yang mutabahhir bukan sekadar orang yang belajar, melainkan seseorang yang menyelam jauh ke dalam pengetahuan hingga menemukan kedalaman-kedalaman baru. Ia tidak puas berada di permukaan.

Menariknya, makna keluasan ini juga digunakan dalam konteks yang sama sekali berbeda. Orang Arab dahulu menggunakan kata kerja yang berasal dari akar bahr untuk menggambarkan tindakan membuat sesuatu menjadi lebar atau luas. Bahkan telinga unta yang dibelah dengan sobekan lebar disebut berasal dari akar kata yang sama.

Baca Juga:  Epistemisida dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Dari sinilah muncul istilah bahirah, tradisi Arab pra-Islam yang kemudian dikritik Al-Qur’an. Mereka menandai unta tertentu dengan membelah telinganya setelah memenuhi syarat tertentu, lalu membiarkannya bebas tanpa boleh ditunggangi atau dimanfaatkan. Praktik itu dianggap sebagai bagian dari tradisi keagamaan mereka.

Al-Qur’an secara tegas menolak keyakinan tersebut melalui firman-Nya:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ

“Allah tidak pernah menetapkan adanya bahirah” (QS. Al-Ma’idah: 103)

Pesan ayat ini bukan sekadar membatalkan sebuah tradisi kuno. Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua kebiasaan yang diwariskan turun-temurun memiliki legitimasi ilahi. Ada saat ketika manusia perlu memeriksa kembali tradisi yang dianggap sakral.

Keluasan makna bahr juga tampak dalam penggunaan sehari-hari masyarakat Arab. Seekor kuda yang berlari sangat cepat disebut sebagai “kuda laut”, bukan karena hidup di air, melainkan karena keluasan daya jelajah dan kekuatan geraknya. Bahkan Nabi Muhammad saw pernah memuji seekor kuda yang beliau tunggangi dalam situasi darurat. Setelah kembali, beliau berkata bahwa kuda itu seperti lautan, ungkapan yang menunjukkan betapa besar tenaga dan kecepatannya.

Di sini terlihat bahwa laut bukan hanya simbol luas secara fisik, tetapi juga simbol kapasitas yang besar. Apa pun yang melampaui ukuran biasa dapat dianalogikan dengan laut.

Ada sisi lain yang tak kalah menarik. Sebagian ahli bahasa Arab klasik mengaitkan kata bahr dengan air asin. Karena itu muncul istilah yang berarti “berasa laut” atau “asin”. Namun Al-Qur’an menghadirkan perspektif yang lebih luas.

Dalam Surah Al-Furqan ayat 53 disebutkan:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir berdampingan; yang satu tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit” (QS. Al-Furqan: 53)

Baca Juga:  Dari Quraisy ke Era Media Sosial: Wajah Baru Taqlid Buta

Menariknya, ayat ini tetap menyebut air tawar sebagai bahr atau laut. Seolah-olah Al-Qur’an ingin menggeser perhatian kita dari rasa air kepada keluasan dan keberlimpahannya. Yang menjadikan sesuatu sebagai “laut” bukan semata kadar garamnya, melainkan keluasan yang dikandungnya.

Di tengah kehidupan modern, pelajaran ini terasa sangat tepat. Kita hidup dalam zaman yang penuh informasi tetapi sering miskin keluasan pandangan. Banyak orang mengumpulkan data, tetapi tidak memperluas wawasan. Banyak yang membaca, tetapi tidak menyelam. Padahal tradisi intelektual Islam mengajarkan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang membuat seseorang menjadi “laut”: luas, dalam, dan mampu menampung banyak hal tanpa kehilangan ketenangan.

Makna bahr juga muncul dalam ayat lain yang berbicara tentang kerusakan dunia:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut.” (QS. Ar-Rum: 41)

Sebagian ulama bahasa memahami kata “laut” di sini tidak semata-mata sebagai wilayah perairan, tetapi sebagai simbol ruang kehidupan manusia yang luas. Kerusakan tidak lagi terbatas pada satu tempat. Ia menyebar ke seluruh lanskap kehidupan.

Barangkali di situlah letak keindahan bahasa Al-Qur’an dan bahasa Arab klasik. Satu kata sederhana mampu membuka lapisan-lapisan makna yang luas. Laut bukan hanya objek geografis. Ia adalah metafora tentang keluasan ilmu, kapasitas jiwa, kekuatan, bahkan cakupan tanggung jawab manusia.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pilihan: menjadi kolam yang mudah penuh oleh sedikit air, atau menjadi laut yang sanggup menampung banyak arus tanpa kehilangan keluasan dirinya. Sebab dalam tradisi Islam, kemuliaan sering kali tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari seberapa luas hati, pikiran, dan pengetahuan yang mampu kita tampung.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA