Dalam samudera hikmah klasik, nama Abu Bakar Muhammad bin Zakariya al-Razi tidak hanya dikenal sebagai tabib ulung yang mahir meracik obat-obatan, tetapi juga sebagai filosof yang cermat membedah penyakit-penyakit kejiwaan. Melalui karyanya yang monumental, Thib al-Ruhani (Pengobatan Jiwa), al-Razi menawarkan sebuah terapi rasional untuk salah satu emosi paling merusak dalam diri manusia: amarah. Bukan melalui ritual mistik, melainkan melalui perenungan mendalam dan latihan berpikir. Al-Razi mengajarkan bahwa seni menepis amarah adalah seni mengembalikan akal budi ke singgasananya, tepat ketika ia mulai terguling oleh gelombang birahi.
Al-Razi memulai analisisnya dengan sebuah premis antropologis yang jernih. Ia menyatakan bahwa amarah pada dasarnya diciptakan pada hewan (dan juga manusia) sebagai insting untuk membalas gangguan (intiqam min al-mu’dzi). Namun, ketika sifat ini melampaui batas (afrata) hingga akal sehat hilang, bala yang ditimbulkan justru lebih parah menimpa diri si pemarah daripada target amarahnya. Di sinilah titik kritisnya: amarah yang tak terkendali berubah dari alat pertahanan menjadi senjata makan tuan.

Warga Sipil, Pengurus Sekolah Filsafat Averroes, Dosen di Universitas La Tansa Mashiro Lebak-Banten.
TOPIK:
Mari Dukung islamlive.id
islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.