ISLAM LIVE— Ada ironi besar dalam kehidupan manusia modern: kita hidup di zaman paling bising sepanjang sejarah, tetapi justru semakin sulit mendengar sesuatu yang benar-benar penting. Notifikasi berbunyi tanpa henti, podcast diputar sambil bekerja, video dipercepat dua kali lipat, dan opini saling bertabrakan di media sosial. Semua orang berbicara. Sedikit yang sungguh mendengar.
Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata udzun أذن yang berarti telinga ternyata tidak sekadar menunjuk organ tubuh. Ia memuat makna yang jauh lebih dalam: kemampuan menerima, memahami, bahkan memberi ruang bagi kebenaran untuk masuk ke dalam diri manusia. Telinga bukan hanya alat biologis, tetapi pintu kesadaran.
Karena itu, Al-Qur’an menggunakan istilah telinga dengan cara yang sangat reflektif. Tentang orang-orang yang menolak kebenaran, disebutkan:
وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا
“Di telinga mereka ada sumbatan” (QS. Al-Isra: 46)
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang tuli fisik. Mereka bisa mendengar suara, percakapan, bahkan perdebatan. Tetapi batin mereka tertutup. Mereka mendengar tanpa menerima. Mendengar tanpa memberi kesempatan bagi makna untuk hidup di dalam diri.
Di titik inilah “telinga” berubah menjadi simbol moral.
Menariknya, Al-Qur’an juga merekam ejekan sebagian orang kepada Nabi Muhammad. Mereka berkata:
هُوَ أُذُنٌ
“Dia itu cuma telinga (Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya)” (QS. AT-Taubah: 61)
Maksudnya: Nabi terlalu banyak mendengar orang lain. Terlalu mudah menerima ucapan orang. Namun Al-Qur’an membalik ejekan itu menjadi pujian:
قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ
“Katakanlah: ia adalah telinga yang membawa kebaikan bagi kalian” (QS. AT-Taubah: 61)
Ada pesan yang sangat modern di sini. Di zaman ketika semua orang ingin didengar, kemampuan mendengar justru menjadi akhlak yang langka. Nabi saw digambarkan sebagai pribadi yang mau mendengar manusia bahkan keluhan, kegelisahan, dan kebodohan mereka tanpa buru-buru menghakimi.
Hari ini, banyak hubungan runtuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena tidak ada yang benar-benar mendengar. Orang tua sibuk memberi nasihat tanpa memahami keresahan anaknya. Pasangan lebih sibuk menyusun bantahan daripada menyimak luka satu sama lain. Pemimpin ingin dipatuhi, tetapi tidak mau mendengar rakyatnya.
Kita hidup di era respons cepat, bukan pemahaman mendalam.
Dalam akar kata yang sama, bahasa Arab mengenal kata adzina أَذِنَ, yang berarti mendengar dengan perhatian. Bahkan bumi pun digambarkan “mendengar” perintah Tuhannya:
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
“Dan bumi mendengar perintah Tuhannya, dan memang sepatutnya demikian” (QS. Al-Insyiqaq: 2)
Mendengar, dalam pengertian ini, bukan aktivitas pasif. Ia adalah bentuk kepatuhan eksistensial. Sesuatu mendengar karena ia siap menerima arah.
Mungkin itu sebabnya manusia modern semakin lelah. Kita terus mendengar suara dunia, tetapi kehilangan kemampuan mendengar sesuatu yang memberi arah hidup. Informasi menumpuk, tetapi kebijaksanaan menipis.
Dari akar kata yang sama pula lahir istilah adzan panggilan salat. Menarik bahwa Islam tidak menamai panggilan ibadah dengan istilah “perintah” atau “instruksi”, melainkan sesuatu yang berakar dari aktivitas mendengar. Seolah agama ini ingin mengatakan: perjalanan spiritual manusia dimulai dari telinga.
Bukan kebetulan pula jika para muadzin dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai orang yang mengumumkan sesuatu kepada publik. Dalam kisah Nabi Yusuf a.s, seorang penyeru mengumumkan kehilangan barang kerajaan. Dalam ayat lain, Nabi Ibrahim diperintahkan:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ
“Serukanlah kepada manusia untuk berhaji” (QS. Al-Hajj: 27)
Agama ternyata bergerak lewat suara, panggilan, dan kesediaan manusia untuk mendengar.
Namun ada lapisan makna lain yang lebih halus: izin.
Kata “izin” (idzn) juga berasal dari akar yang sama. Dalam bahasa Arab klasik, izin bukan sekadar persetujuan administratif. Ia berarti pemberitahuan bahwa sesuatu dibuka, diperbolehkan, atau diberi ruang untuk terjadi.
Karena itu Al-Qur’an berkali-kali menyebut sesuatu terjadi “dengan izin Allah”. Bukan berarti manusia dipaksa seperti robot, melainkan ada ruang kemungkinan yang diciptakan Tuhan dalam hidup ini. Manusia diberi kebebasan bergerak, tetapi seluruh kemungkinan itu tetap berada dalam cakupan kehendak-Nya.
Di sini, mendengar kembali menjadi penting. Sebab manusia yang tidak mau mendengar biasanya juga sulit meminta izin, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama. Ia merasa dirinya pusat segalanya. Ia memaksa masuk ke ruang orang lain, memotong pembicaraan, mengabaikan batas, dan merasa semua hal harus tunduk pada kehendaknya.
Padahal Islam bahkan mengajarkan isti’dzan meminta izin sebelum masuk rumah orang lain. Sebuah etika sederhana yang hari ini nyaris hilang di ruang digital. Orang masuk ke hidup orang lain lewat komentar, pesan, opini, dan penghakiman tanpa pernah merasa perlu “mengetuk pintu” terlebih dahulu.
Kita menyaksikan manusia modern kehilangan kesopanan dalam mendengar sekaligus berbicara.
Mungkin karena itu pula Al-Qur’an berkali-kali menggambarkan kebinasaan manusia bukan dimulai dari matanya, melainkan dari telinganya. Mereka mendengar kebohongan terus-menerus hingga akhirnya mempercayainya. Mereka terbiasa dengan kegaduhan sampai tidak lagi peka terhadap kebenaran yang tenang.
Dan bukankah hari ini kita hidup persis di tengah situasi itu?
Setiap hari manusia dibanjiri suara: influencer, politisi, iklan, propaganda, konten motivasi, ceramah instan, dan kemarahan kolektif. Semua berebut telinga kita. Semua ingin mengisi kesadaran kita.
Tetapi sedikit yang mengajarkan bagaimana caranya diam.
Sedikit yang mengingatkan bahwa mendengar adalah tindakan spiritual.
Bahwa mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurang informasi, melainkan kehilangan kemampuan menyaring suara mana yang layak tinggal di dalam jiwanya.
Pada akhirnya, telinga bukan sekadar organ di sisi kepala. Ia adalah gerbang batin. Apa yang terus-menerus kita dengarkan perlahan akan membentuk cara kita memandang dunia, memperlakukan manusia, bahkan memahami Tuhan.
Dan mungkin, sebelum dunia menjadi terlalu bising untuk ditanggung, manusia perlu belajar satu hal yang sederhana namun sulit: mendengar dengan hati yang tidak penuh oleh dirinya sendiri.
