Kita Tinggal di Kota yang Mana? Kritik Al-Farabi terhadap Masyarakat yang Salah Paham tentang Bahagia

33 views

ISLAM LIVE- Mengamati dinamika politik sejauh ini, dengan sekian banyak dan crowdednya percaturan manusia-manusia yang memegang otoritas penuh di gedung ‘sakral’ itu. Sederhana saja, apa sebenarnya yang membuat sebuah masyarakat disebut maju? apakah karena berkelimpahan materi? atau karena kuat secara militer? atau karena terkenal dan dihormati dunia? atau karena warganya bisa menikmati hidup tanpa batas?

Pertanyaan ini terdengar idealis atau mungkin populis banget. Simpan baik-baik pertanyaan ini di benak, ya.

Filsuf Muslim besar Al-Farabi dalam hal ini sudah mengajukan kritik tajam terhadap cara manusia membangun masyarakat. Dalam kitab Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, ia tidak hanya mengimajinasikan model masyarakat ideal, tetapi juga membedah berbagai bentuk masyarakat rusak yang menurutnya lahir dari kesalahan paling mendasar: salah memahami makna kebahagiaan.

Bagi banyak orang hari ini, hidup yang baik identik dengan kestabilan ekonomi, kesehatan, kebebasan pribadi, pengakuan sosial dengan jutaan followers, atau kemampuan menikmati hidup. Anehnya, justru itulah yang oleh Al-Farabi dianggap sebagai ciri masyarakat yang belum matang secara filosofis.

Ketika Bahagia Direduksi Menjadi Kenikmatan

Al-Farabi memulai kritiknya dengan konsep kota bodoh (al-madīnah al-jāhilah), yaitu masyarakat yang tidak memahami apa itu makna kebahagiaan sejati. Mereka bukan orang bodoh dalam arti intelektual akademik. Mereka bisa cerdas, terampil, kaya, bahkan ahli di bidang teknologi mutakhir. Tetapi mereka keliru dalam menentukan tujuan hidup.

و المدينة الجاهلة هي التي لم يعرف أهلها السعادة و لا خطرت ببالهم

“Kota bodoh adalah kota yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan, bahkan kebahagiaan itu tidak pernah terlintas dalam benak mereka.” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 127)

Ini kritik yang sangat relate di era post-truth. Sebab, masyarakat modern sering kali bukan kehilangan fasilitas, melainkan kehilangan arah. Kita hidup dalam dunia yang sangat sibuk mengejar ‘hidup lebih baik’, tapi jarang bertanya: lebih baik menurut siapa?

Kalau kebahagiaan hanya berarti kenyamanan, maka manusia akan hidup seperti robot yang tugasnya pemuas kebutuhan saja. Kalau kebahagiaan hanya berarti kebebasan, maka semua keinginan dianggap sah dan benar tanpa mengedepankan value dan etika. Lagi-lagi, kalau kebahagiaan berarti pengakuan sosial, maka hidup berubah menjadi panggung pencitraan.

Bagi Al-Farabi, ini bukan sebuah gerakan kemajuan. Ini fenomena kebingungan kolektif.

Kapitalisme Sudah Diprediksi?

Menariknya, Al-Farabi membuat klasifikasi masyarakat berdasarkan obsesi dominan mereka.

1.Ada masyarakat yang hanya fokus memenuhi kebutuhan dasar

Baca Juga:  Santri sebagai Suluh Rakyat

2. Ada yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama

3. Ada yang hidup demi kenikmatan

4. Ada yang haus pujian

5. Ada yang hanya ingin mendominasi pihak lain

6. Ada masyarakat yang menjadikan kebebasan absolut sebagai nilai tertinggi

Bagi penulis, sulit membaca list-list bagian ini tanpa merasa sedang membaca kritik terhadap politik dunia hari ini. Coba kita sedikit kuliti indikator lain:

Masyarakat yang mengukur manusia dari saldo rekening? Ada.

Masyarakat yang menilai kesuksesan dari popularitas? Jelas ada.

Budaya yang menjadikan kesenangan sebagai agama baru? Sangat nyata.

Politik yang hanya soal dominasi dan menundukan pihak lawan? Hampir sehari-hari kita lihat dengan mata telanjang.

Nah, yang menarik lagi, Al-Farabi tidak mengatakan hal-hal ini sepenuhnya jahat, lho. Kekayaan itu tidak salah. Kesenangan juga tidak haram. Kebebasan bahkan bukan musuh. Yang ia kritik adalah ketika semua itu berubah dari ‘alat’ menjadi tujuan akhir.

Ini kritik filosofis yang penting. Sebab problem manusia modern bukan karena memiliki terlalu banyak pilihan, tetapi karena kehilangan hierarki nilai.

Kebebasan yang Menjadi Penjara

Salah satu tipe masyarakat yang paling menarik dibahas adalah al-madīnah al-jamā‘iyyah, kota yang masyarakatnya menjadikan kebebasan mutlak sebagai ideal.

Al-Farabi mendefinisikan:

هي التي قصد أهلها أن يكونوا أحرارا، يعمل كل واحد منهم ما شاء، لا يمنع هواه في شيء أصلا

“Yaitu yang penduduknya berkehendak untuk menjadi bebas, di mana setiap individu melakukan apa pun yang ia kehendaki, tanpa ada sedikit pun hambatan terhadap hawa nafsunya.”(Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 129)

Di era modern, ini justru terdengar seperti cita-cita luhur. Tapi, bukankah kebebasan adalah hak manusia? Ya. Tetapi Al-Farabi tampaknya sedang mengingatkan perbedaan penting antara kebebasan dan ketidakmampuan mengendalikan diri.

Jika semua dorongan harus dituruti, apakah itu disebut kebebasan? Ataukah justru bentuk baru dari perbudakan—perbudakan terhadap nafsu sendiri?

Ini kritik sangat kontemporer. Banyak orang merasa bebas karena bisa memilih apa saja, padahal sebenarnya mereka hanya bereaksi terhadap algoritma, impuls, dan tekanan sosial. Kebebasan tanpa arah bisa berubah menjadi kekacauan yang terlihat elegan.

Bahaya Orang yang Tahu Tapi Tidak Berubah

Mungkin kritik Al-Farabi yang paling menyakitkan justru bukan untuk masyarakat penghuni kota bodoh itu, melainkan untuk kota fasik. Dalam kota ini, masyarakatnya sudah tahu kebenaran, tetapi tetap hidup seperti masyarakat yang salah arah.

Baca Juga:  Meta-Hikmah: Dekonstruksi Metodologis dan Anarkisme Epistemik Mulla Sadra

و أما المدينة الفاسقة … تعلم السعادة … و لكن تكون أفعال أهلها أفعال أهل المدن الجاهلة

“Adapun kota fasik adalah yang mengetahui kebahagiaan… tetapi tindakan penduduknya adalah tindakan penduduk kota bodoh.” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 129)

Ini kritik yang sebetulnya menusuk siapa saja yang merasa tercerahkan oleh Al-Farabi.

Mengetahui teori etika tidak otomatis membuat seseorang menjadi etis. Memahami agama tidak otomatis membuat seseorang saleh, tapi ini berlaku untuk ‘oknum’, bukan generalisasi. Bisa bicara tentang keadilan tidak berarti hidup secara adil. Mungkin bentuk hipokrit paling modern adalah masyarakat yang sangat pandai berbicara tentang nilai, tetapi gagal menjadikannya praktik hidup.

Kota Sesat dan Politik Kebohongan

Al-Farabi juga bicara tentang masyarakat sesat, yang dipimpin oleh orang yang mengklaim memiliki otoritas moral atau kebenaran tinggi, padahal sebenarnya hanya ‘penipu’ berjubah dasi dan jas yang rapih. Rasanya, sulit tidak melihat relevansinya dengan politik modern. Banyak pemimpin hari ini menjual citra penyelamat dan pro-rakyat. Mereka memproduksi simbol, slogan, bahkan aura moralitas dan juga orasi politik yang berapi-api. Tetapi di baliknya ada manipulasi, rekayasa persepsi, dan eksploitasi emosi publik. Tentu saja untuk kepentingan pribadi.

Al-Farabi tampaknya paham bahwa krisis masyarakat sering bukan sekadar soal ekonomi atau hukum, melainkan soal kepemimpinan yang membajak imajinasi publik dan mengantongi rasa empatinya.

Jadi, Kota Kita yang Mana?

Disclaimer, bahwa argumen kritik Al-Farabi adalah ia tidak sedang menunjuk ‘orang lain’. Ia sedang membuat cermin.

Apakah kita hidup di kota kekayaan?

Kota kenikmatan?

Kota kebebasan tanpa batas?

Kota pencitraan?

Kota dominasi?

Atau bahkan kota fasik; yang tahu banyak tetapi berubah sedikit?

Pertanyaan paling tidak nyaman dari artikel ini adalah: bagaimana jika masyarakat modern sebenarnya bukan masyarakat maju, melainkan hanya masyarakat jahil yang sangat canggih memerankan topeng?

Teknologi itu bisa berkembang. Infrastruktur bisa dikonstruksi semegah mungkin. Ekonomi bisa tumbuh. Tetapi jika tujuan hidup tetap berhenti pada konsumsi, ego, dominasi, dan validasi sosial, mungkin saja yang berubah hanya alatnya, bukan kesadarannya.

Pada akhirnya, Al-Farabi mengingatkan bahwa masyarakat sehat bukan siapa yang paling kaya, paling bebas, atau paling kuat relasinya. Masyarakat sehat adalah yang tahu untuk apa semua itu digunakan.

Dan mungkin beberapa pertanyaan di atas adalah yang paling sulit dijawab hari ini.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA