Mengenal Hakikat Dzat: Sebuah Renungan dari Al-Jili

28 views
Gambar Hanya Ilustrasi

ISLAM LIVE– Dalam pemikiran tasawuf, terutama dalam karya besar Abdul Karim al-Jili yaitu kitab al-Insan al-Kamil, terdapat pembahasan yang sangat mendalam mengenai “Dzat”. Mungkin istilah ini terdengar berat bagi sebagian orang, namun sesungguhnya ia menyentuh pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan: apa hakikat dari segala yang ada?

Apa Itu Dzat?

Secara sederhana, al-Jili menjelaskan bahwa Dzat adalah kenyataan paling dasar yang menjadi fondasi keberadaan segala sesuatu. Ketika kita memandang alam semesta, segala nama, bentuk, dan sifat yang kita kenal hanyalah penampakan yang tampak di hadapan kita. Namun di balik semua itu terdapat hakikat yang menjadi dasar keberadaannya. Itulah yang disebut Dzat.

Al-Jili membedakan antara Dzat Tuhan yang berdiri sendiri dengan dzat makhluk yang keberadaannya bergantung. Keberadaan makhluk dapat diibaratkan seperti bayangan; tampak nyata, namun tidak memiliki kemandirian. Bayangan hanya hadir selama ada cahaya yang memancarkannya. Demikian juga seluruh makhluk, keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Mengapa Dzat Tuhan Tidak Terjangkau?

Salah satu poin penting dalam pemikiran al-Jili adalah ketidakmampuan akal manusia untuk menjangkau Dzat Tuhan. Akal kita terbiasa memahami sesuatu dengan cara membandingkan, mengelompokkan, dan mencari padanan. Namun Tuhan tidak memiliki sesuatu yang sebanding dengan-Nya. Al-Jili menegaskan:

فلا تدرك بمفهوم عبارة و لا تفهم بمعلوم إشارة، لأن الشي‏ء إنما يفهم بما يناسبه فيطابقه، أو بما ينافيه فيضاده، و ليس لذاته في الوجود مناسب و لا مطابق و لا مناف و لا مضاد

” Dzat-Nya tidak dapat diraih oleh konsep bahasa dan tidak dapat dipahami dengan pengetahuan isyarat, karena sesuatu hanya bisa dipahami melalui sesuatu yang serupa dengannya sehingga bisa disepadankan, atau melalui sesuatu yang meniadakannya sehingga bisa dilawankan. Sedangkan Dzat-Nya tidak memiliki kesesuaian, kesepadanan, hal yang meniadakan, maupun lawan di dalam wujud (realitas).” (al-Insan al-Kamil, hlm. 26)

Karena Tuhan adalah pencipta ruang dan waktu, maka tidak mungkin Dia bisa dibatasi oleh hukum ruang dan waktu tersebut. Keterbatasan akal dalam memahami Dzat Tuhan bukan karena Tuhan terlalu jauh dari manusia, melainkan karena Dzat-Nya melampaui seluruh kategori yang biasa digunakan akal untuk memahami sesuatu. Apa pun konsep yang dibentuk oleh pikiran manusia, pada akhirnya tetap merupakan konsep yang lahir dari pengalaman makhluk yang serba terbatas.

Baca Juga:  Ibn ‘Arabi dan Rahasia Keadilan Tuhan

Siapa Kita di Hadapan-Nya?

Akan tetapi, jika Dzat Tuhan memang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, lalu apa manfaat pembahasan ini bagi kita? Di sini, al-Jili mengalihkan perhatian dari Tuhan kepada manusia. Bukan untuk menjelaskan hakikat Tuhan secara langsung, melainkan agar manusia memahami hakikat dirinya sendiri di hadapan Allah.

Jika Tuhan adalah realitas yang mutlak, lalu siapakah kita? Al-Jili mengajak manusia melihat dirinya sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Ia menggambarkan hubungan ini dengan bahasa yang sangat puitis:

فإنك أيها الطلسم الذي لا ذات و لا اسم، و لا ظل و لا رسم… معدوم لذاتك موجود في النفس، معلوم بنعمتك مفقود بالجنس

“Sesungguhnya engkau wahai teka-teki, yang tidak memiliki dzat dan nama, tidak punya bayangan dan tidak memiliki bekas… pada hakikat dirimu sendiri engkau adalah tiada, namun engkau wujud dalam pandangan-Nya. Engkau hanya diketahui karena karunia-Nya, namun hilang secara esensi jati dirimu (al-Insan al-Kamil, hlm. 27)

Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan manusia, melainkan untuk membangunkan kesadaran mengenai hakikat dirinya. Kita tidak memiliki kekuatan, pengetahuan, ataupun keberadaan yang mandiri. Semua yang kita miliki merupakan anugerah yang terus-menerus diberikan oleh Allah. Maka, menyadari hal ini bukan berarti menghapus nilai kemanusiaan, melainkan menempatkan manusia pada posisi yang sebenarnya: makhluk yang selalu membutuhkan Tuhan dalam setiap detik keberadaannya. Kesadaran inilah yang menjadi pintu menuju kerendahan hati dan penghambaan yang tulus.

Baca Juga:  Cahaya, Tuhan, dan Cara Kita Melihat Dunia

Maka, pembahasan al-Jili tentang Dzat bukanlah undangan untuk menaklukkan misteri Tuhan melalui spekulasi intelektual dan jutaan algoritma. Justru sebaliknya, ia mengajak manusia menyadari keterbatasannya sendiri. Semakin seseorang memahami bahwa seluruh keberadaannya bergantung kepada Tuhan, semakin kecil ruang bagi kesombongan dalam dirinya. Dari kesadaran inilah lahir kerendahan hati. Dan dari kerendahan hati itulah perjalanan menuju ma’rifat dimulai. Dengan demikian, mengenal Dzat bukanlah soal mengetahui Tuhan secara teknis atau konseptual, melainkan menyadari kehadiran-Nya yang meliputi segala sesuatu dan merasakan ketergantungan diri sepenuhnya kepada-Nya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA