Oleh: Iim Mutmainnah (Magister Filsafat Islam Sekolah Tinggi Agama Islam SADRA – Jakarta)
ISLAM LIVE – Ketika membuka kitab Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah untuk pertama kali, ada satu rasa yang sulit dihindari: keheranan. Penulis datang dengan ekspektasi membaca teori negara, kepemimpinan, atau setidaknya pembahasan tentang masyarakat. Namun, yang justru muncul di awal adalah uraian tentang Sebab Pertama (Prima Causa/Wājib al-Wujūd), limpahan wujud, dan hierarki kosmis. Mengapa sebuah kitab politik dibuka dengan pembahasan tentang bagaimana alam semesta memancar dari sumbernya? Apakah ini sekadar pengantar filosofis yang terlalu jauh atau ada sesuatu yang lebih mendasar sedang dipersiapkan oleh Al-Farabi?
Keheranan ini sebenarnya wajar karena kita terbiasa memisahkan politik dari metafisika. Seolah-olah urusan negara cukup dibahas dari pengalaman manusia-manusia yang berkecimpung di kancah perpolitikan. Namun, menurut penulis, Al-Farabi tampaknya tidak menerima pemisahan itu. Ia justru memulai dari titik yang paling jauh dan subtil: struktur wujud itu sendiri.
Seakan-akan ia ingin mengatakan bahwa sebelum berbicara tentang bagaimana manusia harus hidup bersama dalam suatu negara, kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana realitas itu tersusun. Dari sinilah pembahasan tentang kayfiyyat ṣudūr al-‘ālam muncul, dan hal ini bukan sebagai penyimpangan dari tema politik, melainkan sebagai fondasi diam-diam yang akan menopang seluruh bangunan pemikirannya.
Dalam Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, pembahasan tentang bagaimana alam keluar dari Yang Pertama (kayfiyyat ṣudūr al-‘ālam) sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai cerita penciptaan yang berurutan sesuai hukum waktu. Sebab, Al-Farabi tidak sedang menjelaskan apa yang terjadi duluan, lalu apa berikutnya, tetapi ia ingin menjelaskan bagaimana struktur realitas itu tersusun secara logis dan niscaya.
Ia menulis:
و وجود ما يوجد عنه إنما هو على جهة فيض وجوده لوجود شيء آخر
“Dan keberadaan segala sesuatu yang muncul dari-Nya hanyalah dalam bentuk limpahan dari keberadaan-Nya kepada keberadaan yang lain” (Al-Farabi, Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 45).
Karena limpahan (fayḍ) di sini menunjuk pada konsekuensi ontologis, bukan tindakan kehendak. Jadi, sejak awal, ternyata kita sudah diarahkan untuk memahami bahwa alam bukan dibuat secara teknis, melainkan memancar karena kesempurnaan itu sendiri.
Menariknya, pembahasan ini justru muncul dalam sebuah karya yang dikenal sebagai kitab politik. Di sini terlihat bahwa Al-Farabi tidak memulai politik dari manusia, melainkan dari struktur wujud itu sendiri. Dengan kata lain, sebelum berbicara tentang negara, ia terlebih dahulu menjelaskan bagaimana realitas tersusun. Alasannya cukup mendasar. Bagi Farabi, politik yang benar harus berakar pada tatanan realitas yang benar. Negara ideal bukan hanya muncul dari hasil kesepakatan sosial, tetapi cerminan dari kosmos yang sudah lebih dulu teratur secara ontologis. Maka, memahami ṣudūr bukan sekadar memahami asal-usul alam, tetapi juga memahami model terdalam bagi keteraturan politik.
Kalau kita ikuti lebih jauh, Al-Farabi mulai menyusun gambaran yang cukup sistematis, meskipun tidak ia tulis sebagai langkah matematis 1, 2, 3. Dari Yang Pertama muncul entitas kedua, yang bersifat intelek murni. Lalu entitas ini tidak diam, ia berpikir. Ia mengakali dirinya, dan juga mengakali Yang Pertama. Dari aktivitas berpikir ini, muncul lagi entitas berikutnya.
Farabi merumuskannya dengan sangat padat:
يفيض من الأول وجود الثاني… و فما يعقله من الأول يلزم عنه وجود ثالث
“Memancar dari Yang Pertama keberadaan yang kedua… dan pada apa yang ia akali dari Yang Pertama, niscaya darinya keberadaan yang ketiga.” (Al-Farabi, Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 52).
Di sini mulai terlihat pola bahwa setiap tingkat wujud lahir dari aktivitas intelektual tingkat sebelumnya. Yang menarik, proses ini selalu punya dua arah sekaligus. Ketika suatu intelek menghadap ke atas (mengakali Yang Pertama), ia melahirkan entitas intelektual berikutnya. Tapi ketika ia menyadari dirinya, dari situ lahir realitas kosmik; seperti langit atau falak.
Jadi, alam semesta dalam pandangan Al-Farabi bukan muncul secara acak dan tiba-tiba, tetapi terforma dari rantai kesadaran intelektual yang multilayer. Ini sebabnya struktur kosmosnya terasa sangat rapi dan hierarkis. Tapi menurut penulis, justru karena itulah ia menjadi dasar normatif bagi struktur negara ideal, di mana hierarki sosial dipandang sah sejauh mencerminkan hierarki wujud.
Namun, Al-Farabi juga sangat hati-hati agar kita tidak salah paham. Ia menegaskan semua ini tidak terjadi karena alat, proses, atau perubahan dalam diri Yang Pertama. Ia mengatakan dalam proses terpancarnya dari keberadaan-Nya wujud sesuatu yang lain, ia sama sekali tidak membutuhkan apa pun selain esensi-Nya sendiri. Artinya, tidak ada mesin penciptaan, tidak ada waktu tunggu giliran, dan tidak ada transformasi. Semua terjadi karena satu hal: kesempurnaan wujud itu sendiri tidak mungkin tidak melimpah. Implikasinya adalah keteraturan sejati tidak lahir dari alat atau paksaan, tetapi dari kesempurnaan yang memancar dengan sendirinya.
Dari sini kita bisa melihat bahwa struktur ṣudūr pada Al-Farabi sebenarnya adalah sebuah peta besar realitas. Semakin dekat sesuatu dengan Yang Pertama, semakin sempurna wujudnya; semakin jauh, semakin terbatas dan bercampur dengan potensi.
Bahkan, Al-Farabi mengatakan bahwa setiap entitas mendapatkan ‘jatah’ keberadaannya sesuai posisinya:
حصل عنه لكل موجود قسطه الذي له من الوجود و مرتبته منه
“Terjadi darinya, bagi setiap yang ada, bagiannya yang menjadi miliknya dari keberadaan, dan tingkatannya darinya.” (Al-Farabi, Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 48).
Jadi, dunia ini terbentuk bukan dalam pola datar dan berjejer, melainkan bertingkat. Setiap tingkat punya perannya sendiri. Jika kita tarik ke dalam kacamata politik, maka, politik bukan lagi berbicara soal kekuasaan, tetapi soal bagaimana menempatkan setiap unsur pada posisi yang sesuai dengan kapasitasnya.
Ringkasnya, penulis memandang Al-Farabi memang tidak menulis ṣudūr sebagai langkah-langkah teknis. Tapi kalau kita baca dengan teliti, ia memberi kita sesuatu yang lebih dalam atau diartikan sebagai sebuah sistem yang konsisten, berlapis, dan sepenuhnya rasional tentang bagaimana keberadaan itu mengalir.
Mungkin karena itu, pantas saja pembahasan ini diletakkan di awal kitab politiknya untuk menunjukkan bahwa negara ideal bukan dimulai dari kesepakatan manusia, melainkan dari upaya meniru keteraturan kosmos itu sendiri. Alam, dalam pandangannya, bukan hasil kebetulan, bukan juga hasil kerja mekanis, melainkan jejak dari keteraturan intelektual yang berawal dari Yang Esa. Dan politik yang benar, pada akhirnya, adalah upaya menghadirkan jejak itu dalam kehidupan bersama.(*)
