ISLAM LIVE – Universitas Islam Gaza membangun lima kampus dan fasilitas pendidikan sementara yang tersebar di berbagai wilayah Jalur Gaza untuk memastikan kegiatan perkuliahan tetap berlangsung di tengah kerusakan besar akibat perang. Langkah tersebut diambil agar mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus bergantung pada kampus utama yang sebagian besar telah hancur.
Pihak universitas menjelaskan pembukaan lima lokasi pembelajaran itu juga bertujuan memudahkan mahasiswa yang kini tersebar di berbagai wilayah Gaza.
Selain mengurangi kebutuhan perjalanan ke kampus utama, langkah tersebut diharapkan membantu menjaga keberlangsungan proses belajar di tengah berbagai pembatasan dan kondisi keamanan yang masih belum menentu.
“Universitas tersebut telah mendirikan lima cabang dan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Hal ini diharapkan dapat memudahkan mahasiswa yang tersebar di seluruh Gaza untuk melanjutkan studi mereka dengan mengurangi kebutuhan untuk melakukan perjalanan ke kampus utama di tengah bahaya di jalan dan pembatasan perjalanan lainnya,” kata Koordinator Laboratorium Universitas Islam Gaza, Yassin al-Nounou pada 27/7/2026.
Selain membuka fasilitas pembelajaran baru, universitas juga mengandalkan perkuliahan daring, simulasi virtual, rekaman praktikum, penyesuaian kurikulum, serta memperluas pelatihan lapangan di rumah sakit, pusat layanan kesehatan, dan lembaga lokal. Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan proses pendidikan setelah banyak laboratorium dan fasilitas akademik rusak akibat perang.
Meski demikian, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Abdulraouf Ali al-Manama menilai berbagai upaya tersebut hanya bersifat sementara. Menurutnya, mahasiswa tetap membutuhkan laboratorium yang lengkap agar dapat mengembangkan keterampilan praktis yang menjadi bagian penting dalam pendidikan, khususnya di bidang kedokteran dan ilmu kesehatan.
Universitas Islam Gaza menyatakan pemulihan pendidikan tidak hanya memerlukan pembangunan kembali gedung-gedung yang rusak, tetapi juga pengadaan laboratorium, peralatan ilmiah, bahan praktikum, dan berbagai sarana pendukung lainnya. Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala akibat sulitnya memperoleh peralatan medis, material konstruksi, serta suku cadang di tengah blokade yang masih berlangsung.
