ISLAM LIVE – Krisis pendidikan di Gaza membuat keluarga Palestina harus mencari alternatif sekolah di tengah kehancuran fasilitas pendidikan dan tekanan ekonomi akibat perang. Bagi keluarga Khadija Abu Qados, biaya sekolah alternatif tetap menjadi beban ketika kebutuhan makanan, air, dan kebutuhan dasar lainnya harus diprioritaskan.
Khadija, 39 tahun, bersama keluarganya kini tinggal di sebuah kamp pengungsian di Deir el-Balah setelah lingkungan tempat tinggal mereka di Sheikh Radwan, Gaza utara, hancur dalam serangan Israel pada September tahun lalu. Dua putrinya, Jouri yang berusia 11 tahun dan Ritaj yang berusia 14 tahun, kini belajar di Elyaa’ School yang ruang kelasnya menggunakan tenda.
“Jika saya mampu membayarnya, saya akan menyekolahkan mereka di sekolah swasta,” kata Khadija kepada Al Jazeera.
Sekolah yang diikuti anak-anaknya saat ini dikelola guru sukarelawan dan memungut biaya 30 shekel atau sekitar 8 dolar AS per bulan, yang menurut Khadija tetap sulit dipenuhi di tengah tingginya biaya kebutuhan pokok.
Kondisi belajar di sekolah tersebut jauh dari ideal. Para siswa kekurangan kursi dan meja sehingga sebagian besar belajar dengan duduk di atas kasur dan karpet. Tidak tersedia pendingin ruangan maupun kipas angin, sementara perlengkapan sekolah juga menjadi beban bagi keluarga. Khadija mengatakan harga satu buku tulis mencapai 4–6 shekel.
Sebelum perang, Jouri dan Ritaj bersekolah di sekolah UNRWA di Gaza City dan meraih prestasi akademik yang baik. Namun, anak-anak di Gaza telah mengalami masa panjang tanpa pembelajaran tatap muka sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Pembelajaran daring juga menghadapi kendala akibat sulitnya akses internet.
