ISLAM LIVE – Jika kalian melintas di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta, pemandangan sekumpulan remaja putra berambut gondrong dengan pakaian bebas mungkin akan membuat kalian mengira mereka sedang bersantai di luar jam sekolah. Namun, jangan salah sangka. Mereka adalah siswa SMA Kolese De Britto, sebuah institusi pendidikan yang melegenda dengan “kebebasan” visualnya, namun menyimpan kedalaman karakter yang luar biasa.
SMA Kolese De Britto merupakan sekolah khusus putra yang mengizinkan siswanya memanjangkan rambut dan tidak mewajibkan seragam formal setiap hari. Namun, di balik kesan “liar” tersebut, ada filosofi pendidikan yang sangat matang. Kebebasan berpakaian dan berambut gondrong bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana latihan bertanggung jawab.
Belum lama tersebar video yang diunggah oleh Radar Kediri pada akun Facebook officialnya, yang memperlihatkan ratusan siswa kelas XII SMA Kolese De Britto sedang berbondong-bondong memadati jalan ke arah Tugu Jogja sebagai bentuk perayaan kelulusan mereka.
Yang menarik, perayaan kelulusan sekolah mereka ini diiringi dengan tradisi bakti sosial yang sudah rutin mereka lakukan. Paket sembako berisi beras, minyak goreng, gula, telur, hingga kecap, diberikan gratis kepada masyarakat yang mereka temui di sekitar lingkungan sekolah serta masyarakat umum di sepanjang rute jalan yang mereka tempuh.
Dikutip dari Radar Kediri (9/5), Kapolsek Jetis, Kompol Sumalugi, S.H., M.H., memberikan apresiasi terhadap para siswa SMA Kolese De Britto yang melakukan bakti sosial di perayaan kelulusan mereka. Bahkan kepolisian ikut melakukan pengamanan maksimal kegiatan ini agar tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya.
Sebagai informasi, salah satu program yang paling ikonik pada sistem sekolah SMA Kolese De Britto adalah program Live-In. Para siswa dikirim ke desa-desa terpencil atau lingkungan yang kontras dengan keseharian mereka untuk tinggal dan bekerja bersama warga setempat. Tujuannya satu, membentuk pribadi yang Men for Others (Manusia bagi sesama).
Mereka dididik untuk tidak menjadi menara gading yang hanya mementingkan diri sendiri, tetapi menjadi agen perubahan yang solutif bagi masyarakat. Ritual kelulusan sekolah dengan bentuk kegiatan bakti sosial, tidak terlepas dari sistem pendidikan karakter yang memang sudah ditanamkan kepada para siswa di SMA Kolese De Britto.
