ISLAM LIVE – Aturan seragam sekolah di Azerbaijan memicu protes setelah sejumlah siswi dan guru perempuan berhijab dilaporkan ditolak masuk sekolah negeri. Polemik mencuat setelah Kabinet Menteri Azerbaijan mengesahkan perubahan aturan seragam sekolah pada 21 September 2026. Meski ketentuan tersebut tidak secara eksplisit melarang hijab, penerapannya di lapangan dilaporkan membuat sejumlah perempuan Muslim tidak dapat mengikuti kegiatan belajar maupun mengajar.
Dilansir Al Jazeera, Rabu (14/10/2026), video yang beredar di media sosial menampilkan siswi berhijab ditolak masuk sekolah. Rekaman lain menunjukkan sejumlah siswi dan guru perempuan menangis atau meninggalkan lingkungan sekolah. Protes pun meluas, termasuk aksi solidaritas siswa di Baku dan intensifikasi di Istanbul, Turki.
Pemerintah Azerbaijan menyatakan perubahan aturan seragam yang bertujuan memperkuat karakter sekuler dalam pendidikan umum. Kebijakan itu mengikuti dekret Presiden Ilham Aliyev pada Juli 2026 mengenai penerapan seragam standar di lembaga pendidikan negeri. Aturan tersebut membatasi aksesori atau pakaian yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan seragam dan prinsip sekularisme.
Namun penerapannya terhadap perempuan berhijab menimbulkan pertanyaan tentang batas wewenang sekolah dalam mengatur pakaian keagamaan. Platform media Azerbaijan, Meydan TV, mendokumentasikan aksi protes siswa di Sekolah Nomor 69 di Baku. Para siswa melaporkan menolak mengikuti pelajaran sebagai bentuk solidaritas terhadap teman-teman perempuan mereka yang berhijab.
Seniman Azerbaijan, Roza Ibadova Kojamaz, mengangkat kembali pengalaman keluarga yang pernah menghadapi kesulitan menyekolahkan anak perempuan, khususnya di desa-desa sekitar Baku. Ia mengenang perubahan setelah pemimpin Azerbaijan terdahulu, Heydar Aliyev, bertemu dengan tokoh masyarakat Baku.
Menurut Kojamaz, keluarga-keluarga kemudian mulai menyekolahkan anak perempuan mereka, baik yang berhijab maupun tidak. Kojamaz berharap Presiden Ilham Aliyev mengambil keputusan agar siswi berhijab tetap dapat mengenyam pendidikan tanpa harus melepaskan penutup kepala mereka.
Peneliti dan analis politik Ulviya Zulfiqar membela prinsip sekularisme dalam pendidikan. Ia berpandangan kebebasan beragama tidak meniadakan kewajiban mematuhi peraturan internal sekolah, termasuk ketentuan seragam. Sebaliknya, jurnalis sekaligus aktivis media Nigar Ughiday Abdullazadeh mengancam kepentingan tersebut. Ia mengancam kebijakan itu yang berpotensi mengecewakan hubungan masyarakat dengan pemerintah dan mendesak Presiden Aliyev untuk turun tangan.
Polemik ini juga mendapat perhatian di luar Azerbaijan. Sejumlah orang berkumpul di depan Konsulat Azerbaijan di Istanbul, Turki, untuk menuntut pencabutan bersenjata terhadap perempuan berhijab. Perdebatan tersebut menampilkan permasalahan yang lebih luas dari sekadar aturan berpakaian, yakni bagaimana negara mengatur pendidikan sekuler tanpa mengabaikan kebebasan beragama dan akses yang setara terhadap pendidikan. Hingga informasi dalam laporan sumber tersebut, belum terdapat keterangan mengenai keputusan pemerintah Azerbaijan untuk mengakhiri polemik tersebut.
