ISLAM LIVE – Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), orang tua perlu menjaga kedekatan dengan anak. Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Jember, Kamia Rizka Amalia, menyarankan keluarga menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi tanpa gangguan gawai.
Menurut Kamia, waktu tersebut dapat dimanfaatkan misalnya setelah salat Magrib hingga menjelang Isya, dengan mengaji bersama dan berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari. “Jagalah ketenangan hati guru itu dengan tata krama atau adab. Jagalah hati orang tua itu dengan kebaktian. Jagalah hati anak dengan kasih sayang,” ujar Kamia Rizka Amalia dalam program Mutiara Pagi RRI Jember, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menekankan bahwa menjaga hubungan baik antara guru, anak, dan orang tua menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Hubungan yang dibangun melalui komunikasi, kasih sayang, keteladanan, dan sikap saling menghormati dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu serta memiliki akhlak mulia.
Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi teladan bagi peserta didik. Guru perlu memiliki ketakwaan, sikap rendah hati, serta memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya ketika belum memahami materi pembelajaran.
Sementara itu, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak melalui perhatian, kasih sayang, dan contoh perilaku sehari-hari. Orang tua diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita dan memahami persoalan yang dihadapi anak.
Kamia menjelaskan, komunikasi antara orang tua dan guru perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika penerimaan rapor atau kegiatan sekolah tertentu. Melalui komunikasi tersebut, kedua pihak dapat saling memahami perkembangan, kelebihan, dan kesulitan anak sehingga potensi kesalahpahaman dapat diminimalkan. “Sudah seharusnya orang tua itu tidak hanya datang saja, tetapi mengomunikasikan bagaimana anak saya di sekolah, bagaimana kelebihan anak saya di sekolah, bagaimana kelemahan anak saya di sekolah,” ujar Kamia.
Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman agar anak tidak merasa kesulitan untuk menyampaikan permasalahannya. Ketika anak merasa kurang mendapatkan perhatian di rumah, mereka berpotensi mencari perhatian dari lingkungan lain, termasuk di sekolah.
Selain itu, orang tua perlu membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Sikap tersebut menjadi bentuk keteladanan yang dapat dicontoh anak sekaligus membangun rasa saling percaya dalam keluarga. Ia menambahkan, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menghakimi anak ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, anak perlu diberi kesempatan untuk menjelaskan keadaan yang dialaminya agar persoalan dapat diselesaikan melalui keterbukaan dan komunikasi yang baik.
Kamia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan akademis, tetapi juga dari pembentukan karakter dan akhlak anak. Karena itu, kerja sama antara guru dan orang tua perlu terus diperkuat agar anak mendapatkan pendidikan yang seimbang di sekolah maupun di rumah. Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan anak yang berilmu, melainkan juga manusia yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat.
