ISLAM LIVE – Tekanan ekonomi akibat perang dan sanksi Amerika Serikat semakin dirasakan masyarakat Iran, mulai dari kenaikan harga pangan hingga meningkatnya kesulitan memperoleh bahan baku obat dan kebutuhan produksi.
Kondisi ekonomi Iran memburuk sejak perang dimulai pada 28 Februari. Serangan Amerika Serikat dan Israel disebut telah menimbulkan kerusakan ekonomi yang diperkirakan mencapai US$270 miliar, sementara tekanan terhadap sektor energi turut memukul aktivitas ekonomi negara tersebut.
Seperti lansiran aljazeera pada Selasa (6/10/2026), produk domestik bruto (PDB) Iran disebut mengalami kontraksi 10 persen seiring menurunnya ekspor energi. Di tengah kondisi tersebut, nilai tukar rial Iran juga terus melemah hingga mencapai titik terendah.
Maryam Ashrafi dari Bourse and Bazaar Foundation mengatakan kondisi tersebut semakin membebani konsumen Iran, terutama melalui kenaikan harga pangan. Masyarakat pun semakin banyak beralih ke barang yang lebih murah meski kualitasnya lebih rendah.
Gangguan pasokan bahan baku juga memengaruhi produksi sejumlah kebutuhan pokok. Ashrafi menyebut bahan baku untuk produk seperti margarin semakin sulit diperoleh dan berdampak terhadap harga barang.
Pasokan gandum dan biji-bijian turut menghadapi hambatan setelah impor melalui pelabuhan di selatan Iran terdampak blokade laut Amerika Serikat. Kapal pengangkut dalam jumlah besar yang biasanya membawa komoditas pertanian tidak dapat beroperasi seperti sebelumnya.
Alternatif melalui pelabuhan di Laut Kaspia memiliki kapasitas yang lebih terbatas. Kapal yang menggunakan jalur tersebut disebut hanya mampu membawa sekitar 7.200 ton, sementara pengiriman melalui jalur darat dengan truk terbatas sekitar 20 ton per kendaraan.
Tekanan juga dirasakan dunia usaha akibat meningkatnya biaya kemasan dan gangguan rantai pasok. Biaya asuransi ikut meningkat, sementara kerugian yang berkaitan dengan perang umumnya tidak ditanggung perusahaan asuransi.
Sektor kesehatan turut menghadapi persoalan. Meskipun obat-obatan tidak termasuk barang yang dikenai sanksi, bahan baku yang dibutuhkan industri farmasi Iran disebut semakin sulit dan mahal diperoleh. Gangguan penerbangan akibat sanksi terhadap maskapai Iran juga menambah kekhawatiran terhadap ketersediaan obat.
