ISLAM LIVE – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menaruh perhatian pada keamanan lingkungan pendidikan pesantren melalui program Pesantren Obah. Selain memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) santri, program ini diarahkan untuk memastikan pesantren menjadi tempat belajar yang aman dari kekerasan dan perundungan.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, penguatan peran santri tidak cukup hanya melalui pendidikan agama, tetapi perlu didukung keterampilan teknologi, akses pendidikan tinggi, pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan dari kekerasan dan perundungan.
“Program tersebut mencakup yang pertama adalah pelatihan yang dibutuhkan oleh santri yang di pesantren belum ada, dan menguatkan pendidikan yang ada di pesantren untuk semakin dikenal dan diterapkan di masyarakat,” kata Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah, di Semarang, Jumat (23/10/2026).
Menurut Gus Yasin, sapaan akrabnya, Pemprov Jateng berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama untuk memetakan pesantren, termasuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan dan perundungan.
Program sambang pesantren digalakkan untuk memberikan edukasi kepada santri dan pengelola mengenai pencegahan kekerasan, dengan melibatkan forum santri, forum anak, serta lembaga yang bergerak dalam perlindungan perempuan dan anak.
Data Kementerian Agama mencatat sekitar 4.500 pesantren tersebar di berbagai wilayah di Jateng, sedangkan data RMI mencapai lebih dari 5.000 lembaga. Pemetaan itu menjadi penting agar upaya pencegahan kekerasan menjangkau seluruh lembaga, baik pesantren salaf maupun pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal.
Gus Yasin menegaskan, pihaknya mendukung pendidikan pesantren sesuai karakteristik masing-masing lembaga. “Modernisasi pendidikan harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan tradisi pesantren, akhlak, dan nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Di sisi lain, Pemprov Jateng juga memperluas akses pendidikan melalui beasiswa bagi sekitar 480 santri di perguruan tinggi berbasis pesantren maupun kampus umum, serta fasilitasi pendidikan ke luar negeri seperti Universitas Al-Azhar, Mesir. Beasiswa bagi guru agama yang mengajar di pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan juga direncanakan agar mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.
